“Sebagai laboran, saya melihat langsung limbah itu terus bertambah setiap hari.” Pernyataan tersebut disampaikan Wangsa, S.Si., M.Sc., teknisi Laboratorium Riset Kimia Fisika, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM), saat menceritakan awal mula penelitiannya yang memanfaatkan limbah sarung tangan lateks menjadi fraksi bahan bakar setara bensin.
Selain bertanggung jawab mengelola Laboratorium Riset Kimia Fisika, Departemen Kimia FMIPA UGM, Wangsa juga aktif melakukan penelitian yang berfokus pada pengembangan metode analisis serta perancangan peralatan laboratorium untuk mendukung kualitas penelitian dosen dan mahasiswa. Atas dedikasi dan kinerja yang ditunjukkan, ia memperoleh kesempatan melanjutkan studi Magister Kimia di FMIPA UGM melalui pendanaan penuh dari universitas. Pada jenjang tersebut, ia mengambil peminatan Kimia Fisika dengan fokus penelitian pada bidang limbah, energi, dan katalis.
Menurut Wangsa, inspirasi penelitian ini datang dari aktivitas sehari-hari di laboratorium. Sebagai laboran, ia melihat secara langsung tingginya penggunaan sarung tangan lateks sebagai alat pelindung diri (APD) dalam kegiatan praktikum maupun penelitian. Kondisi tersebut menghasilkan limbah dalam jumlah yang tidak sedikit. Di Departemen Kimia FMIPA UGM, limbah sarung tangan lateks dapat mencapai sekitar 200 kg setiap tahunnya.
Berangkat dari pengamatan tersebut, Wangsa mulai menelusuri potensi yang masih dimiliki limbah sarung tangan lateks. Menurutnya, material tersebut tersusun atas campuran karet alam dan karet sintetis yang didominasi senyawa isoprena, yakni hidrokarbon rantai panjang yang berpotensi dikonversi menjadi bahan bakar cair. Potensi inilah yang kemudian menjadi dasar pengembangan penelitiannya.
Melalui penelitian yang dilakukan, limbah sarung tangan lateks dikonversi menjadi fraksi bahan bakar setara bensin menggunakan kombinasi katalis berbasis logam dan teknologi microwave-assisted pyrolysis atau pirolisis berbantuan gelombang mikro. Menurut Wangsa, pendekatan tersebut mampu meningkatkan selektivitas produk terhadap fraksi bensin sekaligus membuat proses konversi menjadi lebih efisien dari sisi konsumsi energi.
Bagi Wangsa, penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk menjawab tantangan pengelolaan limbah sekaligus mendukung pengembangan teknologi energi berkelanjutan melalui pendekatan kimia yang lebih ramah lingkungan. Ia meyakini bahwa persoalan yang ditemui dalam aktivitas laboratorium dapat menjadi titik awal lahirnya solusi yang memberikan manfaat lebih luas.
Sebagai wujud kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan, penelitian yang dilakukan Wangsa sejalan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pengembangan sumber energi alternatif dari limbah, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan mendorong pemanfaatan kembali limbah laboratorium menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya mengurangi timbulan limbah dan mendukung pengembangan teknologi yang lebih efisien dalam pemanfaatan energi. Inovasi ini menunjukkan bahwa permasalahan yang muncul dari aktivitas laboratorium dapat diubah menjadi peluang untuk menghasilkan solusi berbasis sains yang memberikan manfaat bagi lingkungan, mendukung pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan, serta mendorong pengembangan energi alternatif di masa depan.
Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma






