Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Pengabdian

FMIPA UGM Hadirkan Sains yang Membumi : Laboratorium Kimia Organik Inspirasi Guru dan Siswa Kediri melalui Inovasi Pemanfaatan Bahan Alam Indonesia

Pengabdian kepada Masyarakat Dorong Literasi Sains, Kimia Hijau, dan Lahirnya Generasi Saintis Masa Depan

Kediri – Komitmen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM) dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak nyata bagi masyarakat kembali diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia FMIPA UGM bertajuk “Workshop Peningkatan Kapasitas Guru dan Siswa SMA: Bahan Alam Asli Indonesia, Manfaat dan Sumber Belajar Tanpa Batas” yang diselenggarakan pada Jumat, 26 Juni 2026 di SMA Negeri 1 Kediri. Kegiatan ini diikuti oleh 50 guru Kimia anggota MGMP Kabupaten dan Kota Kediri serta 100 siswa SMA dari berbagai sekolah di wilayah Kediri.

Acara dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Adi Prayitno, S.Pd., M.M., didampingi Kepala Laboratorium Kimia Organik Departemen Kimia FMIPA UGM, Dr. Endang Astuti, M.Si., serta dihadiri para dosen dan peneliti Departemen Kimia FMIPA UGM. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sekolah ini menjadi wujud nyata sinergi dalam meningkatkan kualitas pendidikan sains di Indonesia.

Menghubungkan Riset Kampus dengan Ruang Kelas

Mengusung semangat pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia sebagai sumber belajar, workshop menghadirkan empat materi utama yang disampaikan oleh para pakar Departemen Kimia FMIPA UGM.

Sesi pertama dibawakan oleh Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, M.Si., Ph.D. mengenai implementasi Kimia Hijau (Green Chemistry) dalam pembelajaran SMA. Peserta diajak memahami bagaimana prinsip-prinsip kimia dapat diterapkan secara aman, efisien, dan ramah lingkungan.

Selanjutnya, Prof. Drs. Jumina, Ph.D. memperkenalkan potensi pewarna alami Indonesia sebagai media pembelajaran sekaligus produk bernilai tambah. Materi dilanjutkan oleh Prof. Drs. Bambang Purwono, M.Sc., Ph.D. yang menjelaskan inovasi pemanfaatan zat warna alami sebagai chemosensor untuk mendeteksi perubahan pH dan berbagai parameter kimia lainnya.

Pada sesi berikutnya, Respati Tri Swasono, S.Si., M.Phil., Ph.D. memperkenalkan konsep dasar minyak atsiri, teknik ekstraksi sederhana, serta berbagai peluang implementasinya sebagai bahan praktikum kimia yang mudah diterapkan di sekolah.

Sebagai puncak kegiatan, peserta mengikuti praktikum interaktif yang dipandu oleh Dr. M. Idham Darussalam, S.Si., M.Sc. bersama Dr. Sc. Robby Noor Cahyono, M.Sc. Guru dan siswa mempraktikkan pembuatan parfum berbasis minyak atsiri, eksplorasi indikator pH dari bahan alam, hingga berbagai eksperimen sederhana yang dapat direplikasi menggunakan peralatan laboratorium sekolah.

Menginspirasi Generasi Saintis Masa Depan

Tidak hanya untuk guru, Departemen Kimia FMIPA UGM juga menghadirkan rangkaian kegiatan khusus bagi siswa melalui program “Fun Chemistry, Campus Sharing, and Future Scientist Inspiration.”

Siswa memperoleh wawasan mengenai kehidupan kampus, program studi di FMIPA UGM, prospek karier lulusan, hingga strategi sukses memasuki perguruan tinggi melalui sesi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Winarto Haryadi dan Sugeng Triono, M.Si.

Salah satu sesi yang paling dinantikan adalah Fun Chemistry yang dipandu oleh Dr. Deni Pranowo, M.Si. Melalui pendekatan experiential learning, siswa mengikuti demonstrasi reaksi kimia sederhana, memanfaatkan zat warna alami sebagai indikator pH, serta membuat lilin aromaterapi dari bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kimia bukan sekadar kumpulan rumus, melainkan ilmu yang relevan dan menyenangkan.

“Melalui program ini kami ingin memperkenalkan dunia kimia dengan cara yang lebih menarik. Kami berharap siswa semakin termotivasi untuk mencintai sains, mengenal kehidupan kampus, dan memiliki cita-cita menjadi ilmuwan di masa depan,” ujar Dr. Deni Pranowo, M.Si., Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM.

Senada dengan hal tersebut, Sudjiono, S.Pd., M.Pd., Pembina MGMP Kimia Kabupaten dan Kota Kediri, menyampaikan apresiasinya.

“Kehadiran para dosen dan peneliti dari UGM menjadi motivasi tersendiri bagi guru maupun siswa. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut sehingga kualitas pembelajaran kimia di sekolah semakin meningkat dan semakin banyak siswa yang tertarik menekuni dunia sains.”

Antusiasme peserta pun sangat tinggi. Julita Sulistya Eka dari SMA Negeri 1 Kediri mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut mengubah pandangannya terhadap kimia yang selama ini dianggap sulit menjadi ilmu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Yemima Brenda Chrissia dari SMA Negeri 1 Pare berharap pengalaman tersebut menjadi langkah awal untuk mewujudkan cita-citanya melanjutkan studi di UGM.

Kontribusi Nyata terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

Program pengabdian ini menjadi implementasi nyata komitmen FMIPA UGM dalam mendukung SDGs 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui peningkatan kompetensi guru, penguatan literasi sains, serta pembelajaran berbasis pengalaman.

Lebih jauh, pengenalan konsep Green Chemistry dan pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia juga mendukung SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, dengan mendorong penggunaan bahan alam yang aman dan berkelanjutan, serta SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim, melalui edukasi mengenai praktik kimia yang lebih ramah lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, FMIPA UGM menunjukkan bahwa sains tidak hanya berkembang di laboratorium, tetapi juga menjadi solusi nyata bagi pendidikan, lingkungan, dan pembangunan masyarakat.

Memperkuat Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045

Kegiatan ini menegaskan peran Departemen Kimia FMIPA UGM sebagai institusi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga aktif mentransformasikan hasil riset menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Bagi para alumni, capaian ini menjadi kebanggaan bahwa almamater terus memperluas dampaknya di tingkat nasional. Bagi mitra, kegiatan ini membuka peluang kolaborasi strategis dalam pengembangan pendidikan berbasis riset. Sementara bagi calon mahasiswa, atmosfer akademik yang inovatif dan aplikatif menjadi gambaran nyata pengalaman belajar di FMIPA UGM.

Ke depan, Laboratorium Kimia Organik Departemen Kimia FMIPA UGM berkomitmen untuk terus memperluas jejaring kemitraan dengan sekolah, pemerintah daerah, industri, dan masyarakat sehingga inovasi berbasis sains dapat semakin berkontribusi dalam membangun sumber daya manusia unggul dan mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Penulis: Deni Pranowo
Editor: Robby
Fotografer: Harno DP, Robby NC

Read More

Dosen Fisika UGM Gelar PKM di SMA Negeri 3 Yogyakarta, 63 Siswa Belajar Astronomi Langsung Pakai Teleskop

[Dokumentasi Kegiatan-tim dosen Fisika UGM bersama Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Yogyakarta dan para siswa peserta di Ruang AVA]

Sebanyak 63 siswa kelas X dan XI SMA Negeri 3 Yogyakarta mendapat pengalaman langka pada Jumat (22/5/2026). Mereka berkesempatan belajar astronomi secara langsung bersama tim dosen dari Departemen Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), termasuk mempraktikkan penggunaan teleskop sungguhan.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Peningkatan Literasi Sains melalui Pengenalan Astronomi Dasar bagi Siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta” ini berlangsung di Ruang AVA sekolah, didampingi tiga guru pendamping. Kegiatan diisi oleh empat narasumber utama, yakni Prof. Pekik Nurwantoro, Dra. Eko Tri Sulistyani M.Sc. selaku ketua tim, Prof. M. Farchani Rosyid, dan Prof. Rinto Anugraha NQZ.

Waka Humas SMA Negeri 3 Yogyakarta, Ichwan Aryono, S.Pd., M.Pd.Si., mewakili Kepala Sekolah Fadiyah Suryani dalam menyampaikan sambutan. Ia mengungkapkan harapannya agar kolaborasi ini memberi dampak nyata bagi siswa.

“Semoga kehadiran Bapak dan Ibu dosen dari Fisika UGM ini berdampak baik ke depannya semakin banyak siswa SMA 3 yang tertarik masuk ke FMIPA UGM, khususnya Departemen Fisika.” Ichwan Aryono, Waka Humas SMA Negeri 3 Yogyakarta.

Bahas STEM hingga ‘Dongeng Bintang’

Prof. Pekik Nurwantoro membuka sesi dengan memaparkan pentingnya pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) sebagai fondasi berpikir kritis yang terintegrasi. Ia menekankan bahwa STEM relevan bukan hanya di bangku kuliah, tetapi juga sejak jenjang sekolah menengah.

Sesi berikutnya dibawakan Prof. M. Farchani Rosyid dengan judul paparan yang tidak biasa: “Dongeng Tentang Bintang”. Menggunakan analogi kehidupan manusia, ia menjelaskan siklus hidup bintang dari lahir, tumbuh, menua, hingga padam dengan bahasa yang mudah dipahami siswa SMA. Bintang, ungkapnya, adalah bola plasma bercahaya yang terikat oleh gravitasi mandirinya sendiri.

Prof. Rinto Anugraha NQZ kemudian memperagakan simulasi benda langit secara real-time menggunakan software Stellarium, aplikasi planetarium digital yang bisa diakses gratis. Ia menunjukkan secara langsung kapan Idul Adha akan terjadi berdasarkan simulasi posisi bulan, yang membuat siswa langsung terkagum-kagum.

 [Siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta antusias mencoba mengoperasikan teleskop secara bergantian, didampingi mahasiswa dan dosen Fisika UGM]

Puncak kegembiraan siswa terjadi saat sesi praktik. Tim PKM membawa langsung teleskop ke lokasi kegiatan, dan siswa secara bergantian mencoba mengarahkan lensanya ke pepohonan di sekitar sekolah. Melalui teleskop tersebut, detail daun, ranting, hingga tekstur kulit pohon tampak sangat jelas — sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Kegiatan PKM ini juga melibatkan tenaga kependidikan Mardi Wasono serta sejumlah mahasiswa Departemen Fisika UGM. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh semangat dari 63 peserta yang hadir.

Kegiatan PKM ini sejalan dengan tiga tujuan utama Sustainable Development Goals (SDGs) PBB, yakni SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui perluasan akses siswa terhadap pendidikan sains tingkat tinggi; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat pengenalan STEM dan teknologi simulasi astronomi yang membangun pola pikir inovatif sejak dini; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) yang terwujud dari kolaborasi nyata antara UGM dan SMA Negeri 3 Yogyakarta sebagai bentuk tanggung jawab sosial akademisi kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ini, tim PKM Fisika UGM berharap semakin banyak siswa yang tertarik pada dunia sains dan terinspirasi untuk melanjutkan studi di bidang eksakta. Astronomi, yang kerap terasa jauh dan abstrak, kini hadir lebih nyata di depan mata para siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta

Read More

Pengenalan dan Pelatihan Penggunaan Kecerdasan Buatan sebagai Media Pembelajaran Interaktif untuk Siswa Kelas 1–3 SDN Pergiwatu Wetan

Program Pengabdian Kepada Masyarakat (On Demand) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan “Pengenalan dan Pelatihan Penggunaan Kecerdasan Buatan sebagai Media Pembelajaran Interaktif untuk Siswa Kelas 1–3 SDN Pergiwatu Wetan.” Kegiatan ini lahir dari kebutuhan transformasi digital di sekolah desa dengan keterbatasan perangkat dan jaringan, sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerataan akses teknologi pendidikan. Tim pengabdian memilih pendekatan implementasi kecerdasan buatan yang ringan, khususnya model bahasa yang mampu menghasilkan penjelasan pembelajaran berupa suara serta visualisasi yang interaktif agar dapat berjalan pada perangkat sederhana dan tetap relevan pada pembelajaran siswa sekolah dasar. Inisiatif ini sejalan dengan agenda adopsi Artificial Intellegent (AI) berbasis Laptop Merah Putih (LMP) yang menekankan solusi tepat guna dan mudah dioperasikan oleh guru.

Pelaksanaan dimulai dengan pengantar konsep AI bagi pembelajaran dasar, dilanjutkan pelatihan intensif bagi guru untuk menyusun materi ajar, kuis, dan latihan interaktif yang bisa disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Fasilitator mendemonstrasikan alur kerja sederhana dari sistem, yaitu mengubah materi pembelajaran menjadi respon berupa keluaran suara yang ramah bagi pembaca awal, menambahkan animasi untuk konsep abstrak, serta memanfaatkan tanya-jawab berbasis AI guna memicu ketertarikan siswa. Sesi berikutnya berfokus pada pendampingan praktik di kelas agar guru merasakan langsung integrasi AI pada proses mengajar dan siswa memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan.

Pada praktik penggunaan di kelas, keterlibatan siswa cukup meningkat, terlihat dari keberanian bertanya, menjawab, dan mencoba. Siswa yang sebelumnya pasif karena kendala membaca, dibantu oleh penjelasan audio dan visual sehingga dapat mengikuti ritme pembelajaran tanpa tertinggal. Guru merasakan manfaat konkret berupa berkurangnya pekerjaan dalam menyiapkan latihan dan lembar evaluasi sehingga waktu mengajar bisa dialihkan untuk pendampingan individual dan remedial. Materi yang dibuat menjadi lebih variatif karena pembuatan aset digital dapat dilakukan cepat dan diadaptasi dengan konteks lokal.

Manfaat kegiatan meluas ke tingkat sekolah melalui penguatan literasi digital pendidik dan rasa percaya diri siswa terhadap penggunaan teknologi. Bagi sekolah, pengalaman ini menjadi pijakan untuk menjadi model percontohan adopsi AI berbasis LMP di wilayah pedesaan dengan menunjukkan bahwa transformasi digital tidak harus menunggu infrastruktur mahal. Solusi yang dipilih bersifat inklusif dengan tetap fungsional di jaringan tidak stabil, hemat sumber daya perangkat, dan mudah dipelajari oleh guru yang baru pertama kali berinteraksi dengan alat AI.

Dari sisi sosial, kegiatan ini membuka akses pembelajaran bermutu yang merata bagi siswa kelas awal, memperkecil kesenjangan teknologi antar sekolah, serta menegaskan pentingnya desain teknologi yang sensitif terhadap keterbatasan lingkungan. Tim mendorong terbentuknya komunitas praktik guru untuk dapat berlanjut pada pembaruan materi dan peningkatan kualitas pengajaran secara berkelanjutan.

Seluruh rangkaian didokumentasikan melalui sesi pelatihan, praktik kelas, dan refleksi bersama antara guru, siswa, dan tim pelaksana. Kegiatan ini didanai oleh hibah On Demand Fakultas MIPA UGM 2025. Dengan kombinasi pendekatan teknis yang ringan, pelatihan yang aplikatif, dan pendampingan langsung di kelas, program ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan dapat dihadirkan sebagai alat bantu pedagogis yang relevan, inklusif, dan berdampak nyata bagi sekolah dasar di daerah dengan keterbatasan infrastruktur. Hal sejalan dengan cita-cita sustainable development goals (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta poin ke-9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Penulis: Fadillah Siva
Dokumentasi: Humairah
Editor: Meitha Eka Nurhasanah

Read More

Mahasiswi Fisika UGM Soroti Kondisi Saintis di Indonesia dan Peran Fisika bagi Masyarakat Lewat Pengabdiannya dalam Menyokong Tsunami Ready Community

Bagi banyak mahasiswa, menempuh pendidikan tinggi merupakan jendela menuju kesuksesan di masa depan. Namun, bagi sebagian lainnya, khususnya mereka yang menekuni bidang sains seperti fisika, masa depan tersebut kerap dibayangi oleh realitas yang belum ideal. Hal ini diungkapkan oleh Inna Tahalliah, mahasiswi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Sebagai mahasiswi fisika, saya melihat menjadi saintis di Indonesia bukan sekadar tentang mencintai ilmu, tetapi juga soal bertahan di tengah berbagai keterbatasan,” tutur Inna. Ia menggambarkan bagaimana para calon ilmuwan di Indonesia harus berjuang, tidak hanya menghadapi kompleksitas teori, tetapi juga sistem yang belum sepenuhnya mendukung.

Minimnya dukungan terhadap riset, keterbatasan infrastruktur, serta kesejahteraan yang belum memadai menjadi tantangan nyata bagi banyak saintis muda. “Tak sedikit yang akhirnya memilih jalan lain, atau bahkan hijrah ke luar negeri demi mendapatkan apresiasi yang lebih layak,” lanjutnya. Padahal, menurutnya, sains memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan bangsa. “Dari krisis energi hingga pengembangan teknologi berkelanjutan, fisika punya jawabannya. Namun, bagaimana kami bisa berkontribusi jika fondasi untuk tumbuh saja belum kokoh?” ujarnya.

Meski begitu, Inna tetap menyalakan harapan. Ia berharap Indonesia dapat benar-benar menghargai para ilmuwan, bukan sekadar melalui pujian seremonial, melainkan lewat sistem yang berpihak dan mendukung secara konkret. “Tanpa kesejahteraan saintis, mimpi menjadi bangsa yang mandiri secara teknologi hanya akan menjadi wacana,” pungkasnya.

Tak hanya aktif secara akademik, Inna juga turut mewujudkan cita-citanya melalui peran langsung di masyarakat. Ia kerap menjadi asisten praktikum lintas program studi, membantu mahasiswa memahami berbagai eksperimen dasar fisika. Selain itu, ia juga terlibat dalam program magang kolaboratif antara Departemen Fisika FMIPA UGM dan BMKG. Dalam program tersebut, Inna berkontribusi pada pemenuhan 12 indikator Tsunami Ready Community (TRC) yang diinisiasi oleh UNESCO.

“Di sana, saya melihat bagaimana sains benar-benar bisa hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di atas kertas jurnal,” tutupnya.

Kontribusi nyata yang ia lakukan menjadi bukti kepeduliannya terhadap kemajuan sains dan peran saintis di Indonesia. Dalam hal ini, FMIPA UGM sendiri terus berupaya menjadi ruang tumbuh yang mendukung para mahasiswa dan peneliti muda. Melalui program-program akademik dan kemitraan riset, fakultas ini mendorong mahasiswa untuk tidak hanya unggul secara teoritis, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Hal ini sejalan dengan komitmen global dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada tujuan nomor 4 (Pendidikan Berkualitas), 9 (Inovasi dan Infrastruktur), dan 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Adanya kolaborasi dengan lembaga eksternal seperti BMKG juga menjadi bukti FMIPA UGM dalam mengimplementasikan nilai SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Penulis : Meitha Eka Nurhasanah
Kontributor : Inna Tahalliah

Read More

Penandatanganan MoU PT Prima Maju Mapan dan FMIPA UGM, Dorong Kolaborasi Riset Hingga Pengabdian Masyarakat

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi menjalin kerja sama dengan PT Prima Maju Mapan melalui penandatanganan perjanjian kerja sama yang berlangsung di ruang KPTU FMIPA UGM pada 31 Januari 2025. Perjanjian ini menitikberatkan pada penguatan kolaborasi mengenai riset, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat serta pengembangan kapabilitas industri pertahanan.

Penandatanganan diwakili langsung oleh Dekan FMIPA UGM, Prof. Dr. Eng Kuwat Triyana, M.Si dan Direktur PT Prima Maju Mapan, Ade Kurniawan S.T.. Selain itu, hadir pula Komisaris dan Head R&D, yakni Ir. Adrianus Prima M, S.Si., IPM, ASEAN Eng, PMP dan Abdul Majid, S.Si.,  M.Cs.

Kesepakatan ini diharapkan dapat mendorong terciptanya inovasi baru dalam pengembangan kapabilitas industri pertahanan sekaligus mempererat hubungan antara institusi akademik dan industri. Kerja sama ini sejalan dengan tiga poin utama Sustainable Development Goals (SDGs) yakni poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis : Meitha Eka Nurhasanah
Dokumentasi : Muhammad Zayn

Read More

Geofisika Mengabdi: Proyek AGAA Sebagai Kolaborasi Wadah Edukasi Mitigasi Bencana

Situasi kegiatan focus group discussion (FGD) yang dimoderatori oleh Dr.rer.nat. Ade Anggraini, dosen Geofisika FMIPA UGM (25/01)

Upaya mitigasi bencana gunung api di Indonesia terus diperkuat melalui proyek Astungkara Giri Agung Aman (AGAA), sebuah kolaborasi antara Program Studi Geofisika Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Udayana (UNUD), dan Mount Fuji Research Institute (MFRI). Proyek ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat lereng gunung terhadap ancaman erupsi, dengan pendekatan ilmiah dan edukatif.

Sebagai bagian dari proyek tersebut, lokakarya dan focus group discussion (FGD) digelar pada Sabtu, 25 Februari 2024, di Kantor Perbekel Desa Duda Timur, Karangasem, Bali. Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari UGM, UNUD, dan MFRI, serta berbagai pemangku kepentingan seperti BPBD Karangasem, Basarnas, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bali, hingga kepala sekolah dasar di Kabupaten Karangasem.

Dalam forum ini, para peserta membahas strategi mitigasi bencana berbasis komunitas dan peran pendidikan dalam meningkatkan kesadaran akan bahaya erupsi gunung api. Diskusi dipandu oleh Dr. I Nyoman Sukma (UNUD) dan Dr. Ade Anggraini (UGM), dengan paparan dari Prof. Fujii dan Dr. Yoshimoto (MFRI), Dr. Wiwit Suryanto (UGM), serta berbagai perwakilan pemerintah daerah dan komunitas setempat.

Dr.rer.nat. Wiwit Suryanto dari Geofisika FMIPA UGM memaparkan perkembangan Proyek AGAA hingga tahun 2025 (25/01)

Selain diskusi, proyek ini juga mengenalkan pendekatan edukasi berbasis eksperimen. Tim MFRI Jepang dan Laboratorium Geofisika UGM mendemonstrasikan mekanisme letusan gunung api menggunakan alat peraga khusus. Peralatan ini kemudian diserahkan kepada komunitas lokal melalui FPRB Karangasem agar edukasi kebencanaan dapat berlanjut setelah proyek berakhir.

Proyek AGAA didanai oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui skema proyek akar rumput (Grassroot). Inisiatif ini juga merupakan kelanjutan dari Proyek Merapi Gadjah Mada Fuji (MGF) yang berlangsung pada 2017-2020 dan berfokus pada edukasi mitigasi bencana bagi sekolah di sekitar Gunung Merapi.

Edukasi berbasis eksperimen oleh Tim Laboratorium Geofisika FMIPA UGM yang diwakili oleh Dr.rer.nat. Ade Anggraini (25/01)

Dengan berakhirnya proyek AGAA pada tahun 2024, para akademisi berharap semangat kolaborasi ini tetap berlanjut dan menjadi inspirasi bagi program mitigasi bencana lainnya di Indonesia. Selain itu, proyek ini turut berkontribusi dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Melalui edukasi mitigasi bencana bagi masyarakat dan sekolah, proyek ini mendukung SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. Dengan meningkatkan kesiapsiagaan dan ketahanan masyarakat terhadap bencana gunung api, proyek ini sejalan dengan SDG 11 yang berfokus pada kota dan komunitas yang berkelanjutan. Lebih jauh, proyek ini juga mencerminkan semangat SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan, melalui kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan komunitas lokal dalam membangun strategi mitigasi bencana yang lebih tangguh.

#GeofisikaUGM #JICA #Grassroot #KolaborasiInternasional #MitigasiBencana

Penulis: Septrilia Restu
Dokumentasi: Septrilia Restu

Read More

Lewat Bakti Sosial, Mahasiswa FMIPA UGM Berkontribusi untuk Pemberdayaan dan Kesejahteraan Masyarakat Desa

Melalui kolaborasi yang apik antara Kementerian Sosial dan Kementerian Pemberdayaan dan Desa Mandiri (PDM) BEM KM FMIPA UGM, puluhan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat Dusun Buyutan, Desa Ngalang, Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul. Kegiatan Bakti Sosial BEM KM FMIPA 2024 ini menjadi salah satu upaya konkret pengimplementasian Tridharma Perguruan Tinggi dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Selama dua hari pelaksanaan, acara ini berhasil melibatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Unit Kesehatan Mahasiswa (UKESMA) UGM, perangkat desa, Karang Taruna, dan Polsek Gedangsari.

Mengusung tema “Gemerlap Pijar Raih Cita Bersama (Gempita),” acara ini bertujuan menjadi sinar terang yang membawa harapan baru bagi masyarakat yang membutuhkan. Dina, penanggung jawab acara, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi wujud kepedulian mahasiswa, tetapi juga menjadi pembelajaran yang memperkaya wawasan mereka. “Kami belajar banyak tentang bagaimana memahami kebutuhan masyarakat dan memberikan solusi nyata. Melihat senyuman dari penerima manfaat menjadi kepuasan tersendiri,” ujarnya.

Kegiatan ini mencakup berbagai program, seperti layanan kesehatan gratis, edukasi kepada anak-anak, pojok baca, dan pemberian sembako, yang mendukung pengimplementasian nilai-nilai Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam poin ke-3 tentang Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan, mahasiswa memberikan layanan kesehatan yang meningkatkan kesadaran hidup sehat. Selaras pula dengan poin ke-4, Pendidikan Berkualitas, kegiatan ini mendorong semangat belajar di kalangan anak-anak dan pemuda. Selain itu, sinergi antara kampus, perangkat desa, dan masyarakat mencerminkan implementasi poin ke-17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dengan keberhasilan ini, Bakti Sosial BEM KM FMIPA UGM 2024 tidak hanya menjadi momen pengabdian tetapi juga langkah signifikan dalam mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat, serta menciptakan perubahan positif di tingkat akar rumput.

Penulis : Meitha Eka Nurhasanah
Editor : Sulaiman Nurhidayat
Dokumentasi : Tim Dokumentasi Acara Bakti Sosial BEM KM FMIPA

Read More

Kolaborasi FMIPA UGM Bersama Banyumanik Research Center melalui Pengabdian kepada Masyarakat dalam Rangka Branding dan Marketing untuk Pengembangan Bisnis Desa serta Pembuatan Pupuk Hayati

Sabtu, 9 November 2024, di Padukuhan Banyumanik, Kalurahan Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, telah berlangsung kolaborasi strategis antara tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (PKM FMIPA UGM) dengan Banyumanik Research Center (BRC). Acara ini bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat desa Wunung, Pacarejo, dan Mulo dalam meningkatkan keterampilan branding dan pemasaran, sekaligus memperkenalkan teknologi pembuatan pupuk hayati.

Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, seperti pengelola BRC, Ibu Sri Astuti Soedjoko; Lurah Pacarejo, Bapak Suhadi; serta tim dosen PKM FMIPA UGM. Dalam sambutannya, Ibu Sri Astuti mengungkapkan rasa syukur atas inisiatif FMIPA UGM yang membawa ilmu dan keterampilan baru ke masyarakat. “Kerja sama ini adalah wujud nyata pemberdayaan masyarakat, membantu mereka mengembangkan usaha secara mandiri,” ujarnya.

Lurah Pacarejo, Bapak Suhadi, turut mengapresiasi kolaborasi tersebut. “Pacarejo adalah kelurahan terbesar di DIY dengan penduduk terbanyak di Gunungkidul. Kehadiran BRC sebagai magnet kemajuan telah membawa banyak tamu hebat ke wilayah kami. Kami berterima kasih atas pendampingan yang diberikan,” ucapnya.

Dr. Wiwit Suryanto, M.Si., dari FMIPA UGM, juga menyampaikan pandangannya. Ia berharap kolaborasi ini dapat menginspirasi desa-desa di sekitar Pacarejo untuk menjadi mandiri dan tidak bergantung berlebihan pada pihak luar. FMIPA UGM, katanya, melihat potensi besar di wilayah ini, dan kerja sama bersama masyarakat adalah langkah strategis untuk mengembangkannya.

Sesi inti diisi oleh Dra. Ani Setyopratiwi, M.Si., yang memberikan paparan tentang pentingnya kualitas, moralitas, dan inovasi dalam membangun bisnis berkelanjutan. Sesi ini dilanjutkan oleh pelatihan “Kompos Plus dengan Cendawan Trichoderma” yang dipandu oleh Ibu Sri Astuti. Pelatihan ini memperkenalkan peserta pada manfaat Trichoderma sebagai agen pengompos dan penerapannya dalam pertanian ramah lingkungan.

Kolaborasi ini sejalan dengan berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk SDGs nomor 3 (Kesehatan yang Baik), 4 (Pendidikan Berkualitas), 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), 15 (Ekosistem Darat), serta 17 (Kemitraan untuk Tujuan). Dengan pelatihan branding dan pemasaran, acara ini meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, mendorong terciptanya lapangan kerja, dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Di sisi lain, pelatihan pembuatan pupuk hayati berkontribusi pada praktik pertanian berkelanjutan dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Penulis: Chairunnisa Anggun Setiono
Dokumentasi: Chairunnisa Anggun Setiono
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More

FMIPA UGM Hadirkan Sains yang Membumi : Laboratorium Kimia Organik Inspirasi Guru dan Siswa Kediri melalui Inovasi Pemanfaatan Bahan Alam Indonesia

Pengabdian kepada Masyarakat Dorong Literasi Sains, Kimia Hijau, dan Lahirnya Generasi Saintis Masa Depan

Kediri – Komitmen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM) dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak nyata bagi masyarakat kembali diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia FMIPA UGM bertajuk “Workshop Peningkatan Kapasitas Guru dan Siswa SMA: Bahan Alam Asli Indonesia, Manfaat dan Sumber Belajar Tanpa Batas” yang diselenggarakan pada Jumat, 26 Juni 2026 di SMA Negeri 1 Kediri. Kegiatan ini diikuti oleh 50 guru Kimia anggota MGMP Kabupaten dan Kota Kediri serta 100 siswa SMA dari berbagai sekolah di wilayah Kediri.

Acara dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Adi Prayitno, S.Pd., M.M., didampingi Kepala Laboratorium Kimia Organik Departemen Kimia FMIPA UGM, Dr. Endang Astuti, M.Si., serta dihadiri para dosen dan peneliti Departemen Kimia FMIPA UGM. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sekolah ini menjadi wujud nyata sinergi dalam meningkatkan kualitas pendidikan sains di Indonesia.

Menghubungkan Riset Kampus dengan Ruang Kelas

Mengusung semangat pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia sebagai sumber belajar, workshop menghadirkan empat materi utama yang disampaikan oleh para pakar Departemen Kimia FMIPA UGM.

Sesi pertama dibawakan oleh Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, M.Si., Ph.D. mengenai implementasi Kimia Hijau (Green Chemistry) dalam pembelajaran SMA. Peserta diajak memahami bagaimana prinsip-prinsip kimia dapat diterapkan secara aman, efisien, dan ramah lingkungan.

Selanjutnya, Prof. Drs. Jumina, Ph.D. memperkenalkan potensi pewarna alami Indonesia sebagai media pembelajaran sekaligus produk bernilai tambah. Materi dilanjutkan oleh Prof. Drs. Bambang Purwono, M.Sc., Ph.D. yang menjelaskan inovasi pemanfaatan zat warna alami sebagai chemosensor untuk mendeteksi perubahan pH dan berbagai parameter kimia lainnya.

Pada sesi berikutnya, Respati Tri Swasono, S.Si., M.Phil., Ph.D. memperkenalkan konsep dasar minyak atsiri, teknik ekstraksi sederhana, serta berbagai peluang implementasinya sebagai bahan praktikum kimia yang mudah diterapkan di sekolah.

Sebagai puncak kegiatan, peserta mengikuti praktikum interaktif yang dipandu oleh Dr. M. Idham Darussalam, S.Si., M.Sc. bersama Dr. Sc. Robby Noor Cahyono, M.Sc. Guru dan siswa mempraktikkan pembuatan parfum berbasis minyak atsiri, eksplorasi indikator pH dari bahan alam, hingga berbagai eksperimen sederhana yang dapat direplikasi menggunakan peralatan laboratorium sekolah.

Menginspirasi Generasi Saintis Masa Depan

Tidak hanya untuk guru, Departemen Kimia FMIPA UGM juga menghadirkan rangkaian kegiatan khusus bagi siswa melalui program “Fun Chemistry, Campus Sharing, and Future Scientist Inspiration.”

Siswa memperoleh wawasan mengenai kehidupan kampus, program studi di FMIPA UGM, prospek karier lulusan, hingga strategi sukses memasuki perguruan tinggi melalui sesi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Winarto Haryadi dan Sugeng Triono, M.Si.

Salah satu sesi yang paling dinantikan adalah Fun Chemistry yang dipandu oleh Dr. Deni Pranowo, M.Si. Melalui pendekatan experiential learning, siswa mengikuti demonstrasi reaksi kimia sederhana, memanfaatkan zat warna alami sebagai indikator pH, serta membuat lilin aromaterapi dari bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kimia bukan sekadar kumpulan rumus, melainkan ilmu yang relevan dan menyenangkan.

“Melalui program ini kami ingin memperkenalkan dunia kimia dengan cara yang lebih menarik. Kami berharap siswa semakin termotivasi untuk mencintai sains, mengenal kehidupan kampus, dan memiliki cita-cita menjadi ilmuwan di masa depan,” ujar Dr. Deni Pranowo, M.Si., Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM.

Senada dengan hal tersebut, Sudjiono, S.Pd., M.Pd., Pembina MGMP Kimia Kabupaten dan Kota Kediri, menyampaikan apresiasinya.

“Kehadiran para dosen dan peneliti dari UGM menjadi motivasi tersendiri bagi guru maupun siswa. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut sehingga kualitas pembelajaran kimia di sekolah semakin meningkat dan semakin banyak siswa yang tertarik menekuni dunia sains.”

Antusiasme peserta pun sangat tinggi. Julita Sulistya Eka dari SMA Negeri 1 Kediri mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut mengubah pandangannya terhadap kimia yang selama ini dianggap sulit menjadi ilmu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Yemima Brenda Chrissia dari SMA Negeri 1 Pare berharap pengalaman tersebut menjadi langkah awal untuk mewujudkan cita-citanya melanjutkan studi di UGM.

Kontribusi Nyata terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

Program pengabdian ini menjadi implementasi nyata komitmen FMIPA UGM dalam mendukung SDGs 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui peningkatan kompetensi guru, penguatan literasi sains, serta pembelajaran berbasis pengalaman.

Lebih jauh, pengenalan konsep Green Chemistry dan pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia juga mendukung SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, dengan mendorong penggunaan bahan alam yang aman dan berkelanjutan, serta SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim, melalui edukasi mengenai praktik kimia yang lebih ramah lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, FMIPA UGM menunjukkan bahwa sains tidak hanya berkembang di laboratorium, tetapi juga menjadi solusi nyata bagi pendidikan, lingkungan, dan pembangunan masyarakat.

Memperkuat Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045

Kegiatan ini menegaskan peran Departemen Kimia FMIPA UGM sebagai institusi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga aktif mentransformasikan hasil riset menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Bagi para alumni, capaian ini menjadi kebanggaan bahwa almamater terus memperluas dampaknya di tingkat nasional. Bagi mitra, kegiatan ini membuka peluang kolaborasi strategis dalam pengembangan pendidikan berbasis riset. Sementara bagi calon mahasiswa, atmosfer akademik yang inovatif dan aplikatif menjadi gambaran nyata pengalaman belajar di FMIPA UGM.

Ke depan, Laboratorium Kimia Organik Departemen Kimia FMIPA UGM berkomitmen untuk terus memperluas jejaring kemitraan dengan sekolah, pemerintah daerah, industri, dan masyarakat sehingga inovasi berbasis sains dapat semakin berkontribusi dalam membangun sumber daya manusia unggul dan mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Penulis: Deni Pranowo
Editor: Robby
Fotografer: Harno DP, Robby NC

Read More

Dosen Fisika UGM Gelar PKM di SMA Negeri 3 Yogyakarta, 63 Siswa Belajar Astronomi Langsung Pakai Teleskop

[Dokumentasi Kegiatan-tim dosen Fisika UGM bersama Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Yogyakarta dan para siswa peserta di Ruang AVA]

Sebanyak 63 siswa kelas X dan XI SMA Negeri 3 Yogyakarta mendapat pengalaman langka pada Jumat (22/5/2026). Mereka berkesempatan belajar astronomi secara langsung bersama tim dosen dari Departemen Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), termasuk mempraktikkan penggunaan teleskop sungguhan.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Peningkatan Literasi Sains melalui Pengenalan Astronomi Dasar bagi Siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta” ini berlangsung di Ruang AVA sekolah, didampingi tiga guru pendamping. Kegiatan diisi oleh empat narasumber utama, yakni Prof. Pekik Nurwantoro, Dra. Eko Tri Sulistyani M.Sc. selaku ketua tim, Prof. M. Farchani Rosyid, dan Prof. Rinto Anugraha NQZ.

Waka Humas SMA Negeri 3 Yogyakarta, Ichwan Aryono, S.Pd., M.Pd.Si., mewakili Kepala Sekolah Fadiyah Suryani dalam menyampaikan sambutan. Ia mengungkapkan harapannya agar kolaborasi ini memberi dampak nyata bagi siswa.

“Semoga kehadiran Bapak dan Ibu dosen dari Fisika UGM ini berdampak baik ke depannya semakin banyak siswa SMA 3 yang tertarik masuk ke FMIPA UGM, khususnya Departemen Fisika.” Ichwan Aryono, Waka Humas SMA Negeri 3 Yogyakarta.

Bahas STEM hingga ‘Dongeng Bintang’

Prof. Pekik Nurwantoro membuka sesi dengan memaparkan pentingnya pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) sebagai fondasi berpikir kritis yang terintegrasi. Ia menekankan bahwa STEM relevan bukan hanya di bangku kuliah, tetapi juga sejak jenjang sekolah menengah.

Sesi berikutnya dibawakan Prof. M. Farchani Rosyid dengan judul paparan yang tidak biasa: “Dongeng Tentang Bintang”. Menggunakan analogi kehidupan manusia, ia menjelaskan siklus hidup bintang dari lahir, tumbuh, menua, hingga padam dengan bahasa yang mudah dipahami siswa SMA. Bintang, ungkapnya, adalah bola plasma bercahaya yang terikat oleh gravitasi mandirinya sendiri.

Prof. Rinto Anugraha NQZ kemudian memperagakan simulasi benda langit secara real-time menggunakan software Stellarium, aplikasi planetarium digital yang bisa diakses gratis. Ia menunjukkan secara langsung kapan Idul Adha akan terjadi berdasarkan simulasi posisi bulan, yang membuat siswa langsung terkagum-kagum.

 [Siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta antusias mencoba mengoperasikan teleskop secara bergantian, didampingi mahasiswa dan dosen Fisika UGM]

Puncak kegembiraan siswa terjadi saat sesi praktik. Tim PKM membawa langsung teleskop ke lokasi kegiatan, dan siswa secara bergantian mencoba mengarahkan lensanya ke pepohonan di sekitar sekolah. Melalui teleskop tersebut, detail daun, ranting, hingga tekstur kulit pohon tampak sangat jelas — sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Kegiatan PKM ini juga melibatkan tenaga kependidikan Mardi Wasono serta sejumlah mahasiswa Departemen Fisika UGM. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh semangat dari 63 peserta yang hadir.

Kegiatan PKM ini sejalan dengan tiga tujuan utama Sustainable Development Goals (SDGs) PBB, yakni SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui perluasan akses siswa terhadap pendidikan sains tingkat tinggi; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat pengenalan STEM dan teknologi simulasi astronomi yang membangun pola pikir inovatif sejak dini; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) yang terwujud dari kolaborasi nyata antara UGM dan SMA Negeri 3 Yogyakarta sebagai bentuk tanggung jawab sosial akademisi kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ini, tim PKM Fisika UGM berharap semakin banyak siswa yang tertarik pada dunia sains dan terinspirasi untuk melanjutkan studi di bidang eksakta. Astronomi, yang kerap terasa jauh dan abstrak, kini hadir lebih nyata di depan mata para siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta

Read More

Pengenalan dan Pelatihan Penggunaan Kecerdasan Buatan sebagai Media Pembelajaran Interaktif untuk Siswa Kelas 1–3 SDN Pergiwatu Wetan

Program Pengabdian Kepada Masyarakat (On Demand) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan “Pengenalan dan Pelatihan Penggunaan Kecerdasan Buatan sebagai Media Pembelajaran Interaktif untuk Siswa Kelas 1–3 SDN Pergiwatu Wetan.” Kegiatan ini lahir dari kebutuhan transformasi digital di sekolah desa dengan keterbatasan perangkat dan jaringan, sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerataan akses teknologi pendidikan. Tim pengabdian memilih pendekatan implementasi kecerdasan buatan yang ringan, khususnya model bahasa yang mampu menghasilkan penjelasan pembelajaran berupa suara serta visualisasi yang interaktif agar dapat berjalan pada perangkat sederhana dan tetap relevan pada pembelajaran siswa sekolah dasar. Inisiatif ini sejalan dengan agenda adopsi Artificial Intellegent (AI) berbasis Laptop Merah Putih (LMP) yang menekankan solusi tepat guna dan mudah dioperasikan oleh guru.

Pelaksanaan dimulai dengan pengantar konsep AI bagi pembelajaran dasar, dilanjutkan pelatihan intensif bagi guru untuk menyusun materi ajar, kuis, dan latihan interaktif yang bisa disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Fasilitator mendemonstrasikan alur kerja sederhana dari sistem, yaitu mengubah materi pembelajaran menjadi respon berupa keluaran suara yang ramah bagi pembaca awal, menambahkan animasi untuk konsep abstrak, serta memanfaatkan tanya-jawab berbasis AI guna memicu ketertarikan siswa. Sesi berikutnya berfokus pada pendampingan praktik di kelas agar guru merasakan langsung integrasi AI pada proses mengajar dan siswa memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan.

Pada praktik penggunaan di kelas, keterlibatan siswa cukup meningkat, terlihat dari keberanian bertanya, menjawab, dan mencoba. Siswa yang sebelumnya pasif karena kendala membaca, dibantu oleh penjelasan audio dan visual sehingga dapat mengikuti ritme pembelajaran tanpa tertinggal. Guru merasakan manfaat konkret berupa berkurangnya pekerjaan dalam menyiapkan latihan dan lembar evaluasi sehingga waktu mengajar bisa dialihkan untuk pendampingan individual dan remedial. Materi yang dibuat menjadi lebih variatif karena pembuatan aset digital dapat dilakukan cepat dan diadaptasi dengan konteks lokal.

Manfaat kegiatan meluas ke tingkat sekolah melalui penguatan literasi digital pendidik dan rasa percaya diri siswa terhadap penggunaan teknologi. Bagi sekolah, pengalaman ini menjadi pijakan untuk menjadi model percontohan adopsi AI berbasis LMP di wilayah pedesaan dengan menunjukkan bahwa transformasi digital tidak harus menunggu infrastruktur mahal. Solusi yang dipilih bersifat inklusif dengan tetap fungsional di jaringan tidak stabil, hemat sumber daya perangkat, dan mudah dipelajari oleh guru yang baru pertama kali berinteraksi dengan alat AI.

Dari sisi sosial, kegiatan ini membuka akses pembelajaran bermutu yang merata bagi siswa kelas awal, memperkecil kesenjangan teknologi antar sekolah, serta menegaskan pentingnya desain teknologi yang sensitif terhadap keterbatasan lingkungan. Tim mendorong terbentuknya komunitas praktik guru untuk dapat berlanjut pada pembaruan materi dan peningkatan kualitas pengajaran secara berkelanjutan.

Seluruh rangkaian didokumentasikan melalui sesi pelatihan, praktik kelas, dan refleksi bersama antara guru, siswa, dan tim pelaksana. Kegiatan ini didanai oleh hibah On Demand Fakultas MIPA UGM 2025. Dengan kombinasi pendekatan teknis yang ringan, pelatihan yang aplikatif, dan pendampingan langsung di kelas, program ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan dapat dihadirkan sebagai alat bantu pedagogis yang relevan, inklusif, dan berdampak nyata bagi sekolah dasar di daerah dengan keterbatasan infrastruktur. Hal sejalan dengan cita-cita sustainable development goals (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta poin ke-9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Penulis: Fadillah Siva
Dokumentasi: Humairah
Editor: Meitha Eka Nurhasanah

Read More

Mahasiswi Fisika UGM Soroti Kondisi Saintis di Indonesia dan Peran Fisika bagi Masyarakat Lewat Pengabdiannya dalam Menyokong Tsunami Ready Community

Bagi banyak mahasiswa, menempuh pendidikan tinggi merupakan jendela menuju kesuksesan di masa depan. Namun, bagi sebagian lainnya, khususnya mereka yang menekuni bidang sains seperti fisika, masa depan tersebut kerap dibayangi oleh realitas yang belum ideal. Hal ini diungkapkan oleh Inna Tahalliah, mahasiswi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Sebagai mahasiswi fisika, saya melihat menjadi saintis di Indonesia bukan sekadar tentang mencintai ilmu, tetapi juga soal bertahan di tengah berbagai keterbatasan,” tutur Inna. Ia menggambarkan bagaimana para calon ilmuwan di Indonesia harus berjuang, tidak hanya menghadapi kompleksitas teori, tetapi juga sistem yang belum sepenuhnya mendukung.

Minimnya dukungan terhadap riset, keterbatasan infrastruktur, serta kesejahteraan yang belum memadai menjadi tantangan nyata bagi banyak saintis muda. “Tak sedikit yang akhirnya memilih jalan lain, atau bahkan hijrah ke luar negeri demi mendapatkan apresiasi yang lebih layak,” lanjutnya. Padahal, menurutnya, sains memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan bangsa. “Dari krisis energi hingga pengembangan teknologi berkelanjutan, fisika punya jawabannya. Namun, bagaimana kami bisa berkontribusi jika fondasi untuk tumbuh saja belum kokoh?” ujarnya.

Meski begitu, Inna tetap menyalakan harapan. Ia berharap Indonesia dapat benar-benar menghargai para ilmuwan, bukan sekadar melalui pujian seremonial, melainkan lewat sistem yang berpihak dan mendukung secara konkret. “Tanpa kesejahteraan saintis, mimpi menjadi bangsa yang mandiri secara teknologi hanya akan menjadi wacana,” pungkasnya.

Tak hanya aktif secara akademik, Inna juga turut mewujudkan cita-citanya melalui peran langsung di masyarakat. Ia kerap menjadi asisten praktikum lintas program studi, membantu mahasiswa memahami berbagai eksperimen dasar fisika. Selain itu, ia juga terlibat dalam program magang kolaboratif antara Departemen Fisika FMIPA UGM dan BMKG. Dalam program tersebut, Inna berkontribusi pada pemenuhan 12 indikator Tsunami Ready Community (TRC) yang diinisiasi oleh UNESCO.

“Di sana, saya melihat bagaimana sains benar-benar bisa hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di atas kertas jurnal,” tutupnya.

Kontribusi nyata yang ia lakukan menjadi bukti kepeduliannya terhadap kemajuan sains dan peran saintis di Indonesia. Dalam hal ini, FMIPA UGM sendiri terus berupaya menjadi ruang tumbuh yang mendukung para mahasiswa dan peneliti muda. Melalui program-program akademik dan kemitraan riset, fakultas ini mendorong mahasiswa untuk tidak hanya unggul secara teoritis, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Hal ini sejalan dengan komitmen global dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada tujuan nomor 4 (Pendidikan Berkualitas), 9 (Inovasi dan Infrastruktur), dan 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Adanya kolaborasi dengan lembaga eksternal seperti BMKG juga menjadi bukti FMIPA UGM dalam mengimplementasikan nilai SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Penulis : Meitha Eka Nurhasanah
Kontributor : Inna Tahalliah

Read More

Penandatanganan MoU PT Prima Maju Mapan dan FMIPA UGM, Dorong Kolaborasi Riset Hingga Pengabdian Masyarakat

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi menjalin kerja sama dengan PT Prima Maju Mapan melalui penandatanganan perjanjian kerja sama yang berlangsung di ruang KPTU FMIPA UGM pada 31 Januari 2025. Perjanjian ini menitikberatkan pada penguatan kolaborasi mengenai riset, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat serta pengembangan kapabilitas industri pertahanan.

Penandatanganan diwakili langsung oleh Dekan FMIPA UGM, Prof. Dr. Eng Kuwat Triyana, M.Si dan Direktur PT Prima Maju Mapan, Ade Kurniawan S.T.. Selain itu, hadir pula Komisaris dan Head R&D, yakni Ir. Adrianus Prima M, S.Si., IPM, ASEAN Eng, PMP dan Abdul Majid, S.Si.,  M.Cs.

Kesepakatan ini diharapkan dapat mendorong terciptanya inovasi baru dalam pengembangan kapabilitas industri pertahanan sekaligus mempererat hubungan antara institusi akademik dan industri. Kerja sama ini sejalan dengan tiga poin utama Sustainable Development Goals (SDGs) yakni poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis : Meitha Eka Nurhasanah
Dokumentasi : Muhammad Zayn

Read More

Geofisika Mengabdi: Proyek AGAA Sebagai Kolaborasi Wadah Edukasi Mitigasi Bencana

Situasi kegiatan focus group discussion (FGD) yang dimoderatori oleh Dr.rer.nat. Ade Anggraini, dosen Geofisika FMIPA UGM (25/01)

Upaya mitigasi bencana gunung api di Indonesia terus diperkuat melalui proyek Astungkara Giri Agung Aman (AGAA), sebuah kolaborasi antara Program Studi Geofisika Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Udayana (UNUD), dan Mount Fuji Research Institute (MFRI). Proyek ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat lereng gunung terhadap ancaman erupsi, dengan pendekatan ilmiah dan edukatif.

Sebagai bagian dari proyek tersebut, lokakarya dan focus group discussion (FGD) digelar pada Sabtu, 25 Februari 2024, di Kantor Perbekel Desa Duda Timur, Karangasem, Bali. Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari UGM, UNUD, dan MFRI, serta berbagai pemangku kepentingan seperti BPBD Karangasem, Basarnas, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bali, hingga kepala sekolah dasar di Kabupaten Karangasem.

Dalam forum ini, para peserta membahas strategi mitigasi bencana berbasis komunitas dan peran pendidikan dalam meningkatkan kesadaran akan bahaya erupsi gunung api. Diskusi dipandu oleh Dr. I Nyoman Sukma (UNUD) dan Dr. Ade Anggraini (UGM), dengan paparan dari Prof. Fujii dan Dr. Yoshimoto (MFRI), Dr. Wiwit Suryanto (UGM), serta berbagai perwakilan pemerintah daerah dan komunitas setempat.

Dr.rer.nat. Wiwit Suryanto dari Geofisika FMIPA UGM memaparkan perkembangan Proyek AGAA hingga tahun 2025 (25/01)

Selain diskusi, proyek ini juga mengenalkan pendekatan edukasi berbasis eksperimen. Tim MFRI Jepang dan Laboratorium Geofisika UGM mendemonstrasikan mekanisme letusan gunung api menggunakan alat peraga khusus. Peralatan ini kemudian diserahkan kepada komunitas lokal melalui FPRB Karangasem agar edukasi kebencanaan dapat berlanjut setelah proyek berakhir.

Proyek AGAA didanai oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui skema proyek akar rumput (Grassroot). Inisiatif ini juga merupakan kelanjutan dari Proyek Merapi Gadjah Mada Fuji (MGF) yang berlangsung pada 2017-2020 dan berfokus pada edukasi mitigasi bencana bagi sekolah di sekitar Gunung Merapi.

Edukasi berbasis eksperimen oleh Tim Laboratorium Geofisika FMIPA UGM yang diwakili oleh Dr.rer.nat. Ade Anggraini (25/01)

Dengan berakhirnya proyek AGAA pada tahun 2024, para akademisi berharap semangat kolaborasi ini tetap berlanjut dan menjadi inspirasi bagi program mitigasi bencana lainnya di Indonesia. Selain itu, proyek ini turut berkontribusi dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Melalui edukasi mitigasi bencana bagi masyarakat dan sekolah, proyek ini mendukung SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. Dengan meningkatkan kesiapsiagaan dan ketahanan masyarakat terhadap bencana gunung api, proyek ini sejalan dengan SDG 11 yang berfokus pada kota dan komunitas yang berkelanjutan. Lebih jauh, proyek ini juga mencerminkan semangat SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan, melalui kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan komunitas lokal dalam membangun strategi mitigasi bencana yang lebih tangguh.

#GeofisikaUGM #JICA #Grassroot #KolaborasiInternasional #MitigasiBencana

Penulis: Septrilia Restu
Dokumentasi: Septrilia Restu

Read More

Lewat Bakti Sosial, Mahasiswa FMIPA UGM Berkontribusi untuk Pemberdayaan dan Kesejahteraan Masyarakat Desa

Melalui kolaborasi yang apik antara Kementerian Sosial dan Kementerian Pemberdayaan dan Desa Mandiri (PDM) BEM KM FMIPA UGM, puluhan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat Dusun Buyutan, Desa Ngalang, Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul. Kegiatan Bakti Sosial BEM KM FMIPA 2024 ini menjadi salah satu upaya konkret pengimplementasian Tridharma Perguruan Tinggi dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Selama dua hari pelaksanaan, acara ini berhasil melibatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Unit Kesehatan Mahasiswa (UKESMA) UGM, perangkat desa, Karang Taruna, dan Polsek Gedangsari.

Mengusung tema “Gemerlap Pijar Raih Cita Bersama (Gempita),” acara ini bertujuan menjadi sinar terang yang membawa harapan baru bagi masyarakat yang membutuhkan. Dina, penanggung jawab acara, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi wujud kepedulian mahasiswa, tetapi juga menjadi pembelajaran yang memperkaya wawasan mereka. “Kami belajar banyak tentang bagaimana memahami kebutuhan masyarakat dan memberikan solusi nyata. Melihat senyuman dari penerima manfaat menjadi kepuasan tersendiri,” ujarnya.

Kegiatan ini mencakup berbagai program, seperti layanan kesehatan gratis, edukasi kepada anak-anak, pojok baca, dan pemberian sembako, yang mendukung pengimplementasian nilai-nilai Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam poin ke-3 tentang Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan, mahasiswa memberikan layanan kesehatan yang meningkatkan kesadaran hidup sehat. Selaras pula dengan poin ke-4, Pendidikan Berkualitas, kegiatan ini mendorong semangat belajar di kalangan anak-anak dan pemuda. Selain itu, sinergi antara kampus, perangkat desa, dan masyarakat mencerminkan implementasi poin ke-17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dengan keberhasilan ini, Bakti Sosial BEM KM FMIPA UGM 2024 tidak hanya menjadi momen pengabdian tetapi juga langkah signifikan dalam mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat, serta menciptakan perubahan positif di tingkat akar rumput.

Penulis : Meitha Eka Nurhasanah
Editor : Sulaiman Nurhidayat
Dokumentasi : Tim Dokumentasi Acara Bakti Sosial BEM KM FMIPA

Read More

Kolaborasi FMIPA UGM Bersama Banyumanik Research Center melalui Pengabdian kepada Masyarakat dalam Rangka Branding dan Marketing untuk Pengembangan Bisnis Desa serta Pembuatan Pupuk Hayati

Sabtu, 9 November 2024, di Padukuhan Banyumanik, Kalurahan Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, telah berlangsung kolaborasi strategis antara tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (PKM FMIPA UGM) dengan Banyumanik Research Center (BRC). Acara ini bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat desa Wunung, Pacarejo, dan Mulo dalam meningkatkan keterampilan branding dan pemasaran, sekaligus memperkenalkan teknologi pembuatan pupuk hayati.

Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, seperti pengelola BRC, Ibu Sri Astuti Soedjoko; Lurah Pacarejo, Bapak Suhadi; serta tim dosen PKM FMIPA UGM. Dalam sambutannya, Ibu Sri Astuti mengungkapkan rasa syukur atas inisiatif FMIPA UGM yang membawa ilmu dan keterampilan baru ke masyarakat. “Kerja sama ini adalah wujud nyata pemberdayaan masyarakat, membantu mereka mengembangkan usaha secara mandiri,” ujarnya.

Lurah Pacarejo, Bapak Suhadi, turut mengapresiasi kolaborasi tersebut. “Pacarejo adalah kelurahan terbesar di DIY dengan penduduk terbanyak di Gunungkidul. Kehadiran BRC sebagai magnet kemajuan telah membawa banyak tamu hebat ke wilayah kami. Kami berterima kasih atas pendampingan yang diberikan,” ucapnya.

Dr. Wiwit Suryanto, M.Si., dari FMIPA UGM, juga menyampaikan pandangannya. Ia berharap kolaborasi ini dapat menginspirasi desa-desa di sekitar Pacarejo untuk menjadi mandiri dan tidak bergantung berlebihan pada pihak luar. FMIPA UGM, katanya, melihat potensi besar di wilayah ini, dan kerja sama bersama masyarakat adalah langkah strategis untuk mengembangkannya.

Sesi inti diisi oleh Dra. Ani Setyopratiwi, M.Si., yang memberikan paparan tentang pentingnya kualitas, moralitas, dan inovasi dalam membangun bisnis berkelanjutan. Sesi ini dilanjutkan oleh pelatihan “Kompos Plus dengan Cendawan Trichoderma” yang dipandu oleh Ibu Sri Astuti. Pelatihan ini memperkenalkan peserta pada manfaat Trichoderma sebagai agen pengompos dan penerapannya dalam pertanian ramah lingkungan.

Kolaborasi ini sejalan dengan berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk SDGs nomor 3 (Kesehatan yang Baik), 4 (Pendidikan Berkualitas), 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), 15 (Ekosistem Darat), serta 17 (Kemitraan untuk Tujuan). Dengan pelatihan branding dan pemasaran, acara ini meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, mendorong terciptanya lapangan kerja, dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Di sisi lain, pelatihan pembuatan pupuk hayati berkontribusi pada praktik pertanian berkelanjutan dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Penulis: Chairunnisa Anggun Setiono
Dokumentasi: Chairunnisa Anggun Setiono
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More
Translate