Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Prestasi

Sembilan Dosen FMIPA UGM Masuk Top 5% Global Scientist Index 2025 Versi SciRank Global

Berdasarkan data yang dihimpun dari lembaga pemeringkatan independen SciRank Global, sebanyak sembilan dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) masuk dalam daftar Top 5% Global Scientist Index 2025. Pencapaian ini menempatkan para akademisi UGM tersebut ke dalam jajaran elit ilmuwan dengan kinerja riset paling berpengaruh di tingkat internasional.

Prestasi gemilang ini lahir dari kontribusi para profesor dan doktor yang tersebar di tiga departemen FMIPA UGM sebagai berikut:

Departemen Fisika

  • Drs. Kuwat Triyana, M.Si., Ph.D.

(Peringkat Global: #616.221)

  • Edi Suharyadi, S.Si., M.Eng., Ph.D.

(Peringkat Global: #777.489)

  • Iman Santoso, S.Si., M.Si.

(Peringkat Global: #1.291.310)

Departemen Kimia

  • Dra. Wega Trisunaryanti, M.S., Ph.D. Eng.

(Peringkat Global: #759.340)

  • Drs. Dwi Siswanta, M.Eng., Ph.D.

(Peringkat Global: #814.211)

  • Dr.rer.nat. Karna Wijaya, M.Eng.

(Peringkat Global: #1.357.975)

  • Drs. Sri Juari Santosa, M.Eng., Ph.D.

(Peringkat Global: #1.427.766)

Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika

  • Drs. Agus Harjoko, M.Sc., Ph.D.

(Peringkat Global: #828.784)

  • Dra. Sri Hartati, M.Sc., Ph.D.

(Peringkat Global: #846.735)

SciRank Global menyusun pemeringkatan ini menggunakan analisis bibliometrik berskala besar yang sangat ketat dengan menyaring lebih dari 8 juta profil peneliti dan 20 juta karya ilmiah dari 150 negara yang terindeks dalam basis data OpenAlex. Proses seleksi dan tolak ukur penilaian dalam indeks ini didasarkan pada beberapa indikator utama, seperti total sitasi yang mengukur seberapa sering karya ilmiah dirujuk oleh peneliti lain di seluruh dunia, serta H-Index sebagai indikator produktivitas sekaligus dampak sitasi dari publikasi yang dihasilkan.

Selain itu, penilaian juga mempertimbangkan aktivitas riset kontemporer melalui jumlah publikasi berkualitas dalam kurun waktu lima tahun terakhir, serta persentil sitasi ternormalisasi yang berfungsi sebagai sistem standarisasi nilai sitasi guna memastikan keadilan penilaian lintas bidang keilmuan yang berbeda.

Secara umum, capaian ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) karena riset yang berdampak global merupakan fondasi bagi solusi berbasis ilmu pengetahuan dalam mengatasi tantangan pembangunan. Secara khusus, capaian ini memperkuat SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) , SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Melalui penelitian yang berkualitas, kolaborasi lintas disiplin, serta kontribusi terhadap penyelesaian berbagai permasalahan masyarakat, capaian FMIPA UGM ini turut menunjukkan peran perguruan tinggi dalam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi yang berdampak secara global.

Melalui pencapaian ini, FMIPA UGM membuktikan bahwa perguruan tinggi Indonesia mampu mengambil peran sentral dalam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, menciptakan solusi inovatif berbasis sains, serta mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Penulis : Inna Mutifah
Editor: Meitha Eka Nur Khasanah

Read More

Mahasiswa Fisika UGM Raih Medali Perunggu pada International Student Competition (ISC) di Malaysia

Mahasiswa Program Studi Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Dalam ajang International Student Competition (ISC) 2026 yang diselenggarakan pada 14–15 Februari 2026 di Universiti Putra Malaysia (UPM), tim mahasiswa Fisika UGM berhasil meraih medali perunggu melalui karya inovatif di bidang teknologi.

Kompetisi yang diikuti peserta dari berbagai negara tersebut diawali dengan tahap seleksi esai. Para finalis kemudian mempresentasikan gagasannya secara langsung melalui sesi presentasi dan pameran poster di Malaysia.

Pada kompetisi ini, tim yang beranggotakan Amalia Nurin Al Fath dan Meitha Eka Nurhasanah mengangkat gagasan pemanfaatan nanopartikel magnetik yang berasal dari limbah pertanian untuk mendukung teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Inovasi tersebut menawarkan pendekatan yang menggabungkan pengurangan emisi karbon dengan pemanfaatan limbah pertanian bernilai rendah menjadi material yang memiliki potensi aplikasi teknologi.

Amalia selaku ketua tim menjelaskan bahwa proses penyusunan esai dilakukan dengan mengikuti perkembangan riset terbaru yang relevan dengan topik yang diangkat. Setelah lolos ke tahap final, fokus persiapan beralih pada penyusunan materi presentasi yang lebih ringkas dan mudah dipahami, sekaligus menonjolkan aspek kebaruan dari gagasan yang ditawarkan.

“Untuk tahap esai, kami banyak mengikuti perkembangan riset terbaru yang berkaitan dengan topik ini. Sementara untuk presentasi, kami berusaha mem-breakdown poin-poin penting dan menjelaskan novelty dari gagasan kami dengan lebih jelas agar dapat dipahami oleh dewan juri,” ujar Amalia.

Di balik capaian tersebut, tim juga menghadapi sejumlah tantangan sebelum keberangkatan. Mulai dari kebutuhan pendanaan, pengurusan dokumen perjalanan, hingga perencanaan rute dan transportasi selama berada di Malaysia.

“Tantangan terbesar sebelum berangkat adalah mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis perjalanan. Kami harus mengajukan pendanaan, mengurus paspor, serta mencari informasi mengenai rute dan transportasi yang akan digunakan selama di sana,” ungkapnya.

Selain tantangan teknis, pengalaman mengikuti kompetisi internasional juga memberikan pembelajaran tersendiri dalam beradaptasi di lingkungan baru.

“Karena ini pengalaman pertama saya ke luar negeri, saya justru lebih merasa excited daripada khawatir. Yang penting peka terhadap petunjuk dan informasi yang ada, serta tidak takut bertanya ketika tidak tahu,” katanya.

Terkait kemampuan berbahasa Inggris, Amalia mengaku masih terus belajar, terutama untuk kebutuhan presentasi formal di forum internasional.

“Saya masih terus belajar agar kemampuan bahasa Inggris saya semakin baik, khususnya untuk presentasi formal. Namun dalam percakapan sehari-hari, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa saling memahami dan menyampaikan pesan dengan baik,” ujarnya.

Amalia berharap pencapaian ini dapat mendorong mahasiswa lain untuk berani mencoba berbagai kesempatan yang ada.

“Coba dulu. Pasti ada jalan ketika kita memiliki keyakinan bahwa kita bisa,” pesannya.

Topik yang diangkat dalam kompetisi ini juga sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 yakni Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dan SDG 13 yaitu Penanganan Perubahan Iklim. Melalui pemanfaatan limbah pertanian sebagai material fungsional untuk teknologi penangkapan karbon, inovasi yang dikembangkan menunjukkan bagaimana riset sains dapat berkontribusi dalam mendorong inovasi berkelanjutan sekaligus mendukung upaya penanganan perubahan iklim.

Read More

Berhasil Ciptakan Inovasi PRAKE (Phrase-Refined RAKE), Tim Peneliti DIKE FMIPA UGM Tunjukkan Solusi Baru Mengekstrak Frasa Penting dari Dokumen Panjang

Dokumen akreditasi program studi seringkali mencapai ratusan halaman. Di dalamnya tersimpan banyak sekali informasi penting, namun mengekstrak frasa-frasa kunci secara manual riskan terlewat dan kurang efisien. 

Tim peneliti dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menciptakan solusi. Tim ini mengembangkan PRAKE (Phrase-Refined RAKE), sebuah inovasi algoritma yang dirancang untuk mengekstrak frasa-frasa penting dari dokumen naratif panjang dan kompleks, seperti borang akreditasi.

Hasil pengujian pada dokumen akreditasi di lingkungan LAM INFOKOM menunjukkan bahwa PRAKE mencapai nilai F1-score 0,85 yang menandakan bahwa algoritma ini mampu menangkap informasi secara tepat dan lengkap.

Algoritma RAKE (Rapid Automatic Keyword Extraction) yang biasanya digunakan memiliki kelemahan seperti hanya memisahkan frasa berdasarkan kata-kata umum seperti “dan”, “atau”, atau “yang”. Akibatnya, dalam dokumen panjang yang kaya narasi, banyak frasa pendek kehilangan konteks.

Misalnya, kata “ps” akan berdiri sendiri. Padahal dalam dokumen akreditasi, ia adalah bagian dari frasa utuh seperti “rumusan VMTS ps”. PRAKE hadir untuk memperbaiki kelemahan itu.

Sementra itu, PRAKE melengkapi frasa yang terpotong, menggabungkan frasa yang semestinya utuh, serta menyusun ulang elemen semantik yang tersebar dalam kalimat kompleks. PRAKE juga memberi bobot lebih pada istilah-istilah penting dalam dunia akreditasi seperti “strategi”, “kebijakan”, dan “evaluasi”. Selain itu, PRAKE membersihkan teks dari karakter non-alfabetik dan menyaring kata kerja umum, tetapi tetap mempertahankan kata kerja substantif seperti “mengevaluasi”.

Dengan ketiga keunggulan ini, PRAKE mampu menghasilkan frasa yang lebih panjang (3–5 kata) dan jauh lebih informatif dibandingkan algoritma standar.

Inovasi ini dikerjakan oleh mahasiswa dan dosen dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM. Tim ini terdiri dari Helena Nurramdhani Irmanda, S.Pd., M.Kom., Prof. Dra. Sri Hartati, M.Sc., Ph.D. dan  Dr. Sri Mulyana, M.Kom.

Pengembangan PRAKE ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Inovasi ini membantu proses pengelolaan dan analisis dokumen akreditasi menjadi lebih efektif, akurat, dan efisien sehingga dapat mendukung peningkatan kualitas tata kelola pendidikan tinggi berbasis teknologi.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

cNose: Inovasi “Hidung Elektronik” Portabel untuk Deteksi Dini Sepsis pada Bayi, Hasil Kolaborasi FMIPA dan FKKMK UGM

Tim peneliti multidisiplin dari Universitas Gadjah Mada berhasil mengembangkan inovasi alat kesehatan bernama cNose, sebuah sistem “hidung elektronik” portabel yang mampu mendeteksi sepsis pada bayi baru lahir secara cepat, akurat, dan non-invasif. Pengembangan teknologi ini merupakan hasil kolaborasi antara peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM bersama mitra internasional dari Mbeya University of Science and Technology.

Sepsis neonatal merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi baru lahir di Indonesia maupun negara berkembang lainnya. Selama ini, diagnosis standar dilakukan melalui kultur darah yang membutuhkan waktu 24–72 jam, memerlukan fasilitas laboratorium lengkap, serta bersifat invasif karena harus mengambil sampel darah bayi. Kondisi tersebut sering menyebabkan keterlambatan penanganan yang dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga kematian.

Melalui cNose, tim peneliti ini menawarkan pendekatan diagnosis yang lebih praktis dan ramah pasien. Teknologi ini bekerja dengan mendeteksi senyawa volatil tertentu dari sampel feses bayi menggunakan sensor elektronik yang terintegrasi dengan analisis pola berbasis kecerdasan buatan. Dengan metode ini, proses deteksi dapat dilakukan tanpa prosedur yang menyakitkan bagi bayi dan berpotensi mempercepat pengambilan keputusan medis di ruang perawatan neonatal.

Penelitian dilakukan terhadap 347 bayi baru lahir yang dirawat di unit HCU dan NICU RSUP Dr. Sardjito. Sampel feses dikumpulkan setiap hari dari popok bayi oleh tenaga perawat, kemudian dianalisis menggunakan sistem cNose. Sebelum dilibatkan dalam penelitian, seluruh orang tua pasien memberikan persetujuan tertulis (informed consent). Untuk memastikan validitas hasil, diagnosis sepsis tetap dikonfirmasi menggunakan metode kultur darah sebagai standar acuan. Penelitian ini juga telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik FKKMK UGM.

Hasil penelitian tersebut berhasil dipublikasikan dalam dua jurnal internasional bereputasi Q1, yakni Clinica Chimica Acta pada tahun 2025 dan Microchimica Acta pada tahun 2026. Adapun pendanaan penelitian didukung oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Batch 2 Tahun 2022.

Pengembangan cNose turut mendukung transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi di Indonesia. Inovasi ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan deteksi dini penyakit pada bayi baru lahir, serta SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui penguatan inovasi teknologi kesehatan hasil kolaborasi lintas disiplin dan internasional.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

Kembangkan Inovasi Biosensor Mikroalga, Dosen Departemen Fisika FMIPA UGM Sukses Ikuti Riset Kolaborasi Lintas Negara

Dua dosen dari Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), UGM, yaitu Dr. Iman Santoso, S.Si., M.Sc. dan Prof. Dr.Eng. Edi Suharyadi, S.Si., M.Eng., sukses berpartisipasi dalam riset internasional pengembangan metode deteksi mikroalga menggunakan sensor berbasis kromium dan kecerdasan buatan.

Riset kolaborasi ini melibatkan peneliti dari Fakultas MIPA UGM, Fakultas Biologi UGM, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Bengkulu, Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Nagoya University (Jepang), dan National Chung Hsing University (Taiwan).

Tim penelitian ini menemukan bahwa lapisan tipis kromium setebal 75 nanometer dapat berfungsi sebagai sensor optik yang sensitif terhadap keberadaan mikroalga. Pada ketebalan tersebut, terjadi perubahan fase cahaya hingga 40,6 derajat ketika sampel air yang mengandung mikroalga diujikan. Kromium dipilih karena lebih ekonomis dibandingkan logam mulia seperti emas atau perak yang biasa digunakan dalam sensor optik sejenis.

Data pantulan cahaya dari sensor ini bersifat kompleks dan tidak linear. Untuk mengolahnya, tim menggunakan tiga model machine learning, yaitu Deep Neural Network (DNN) untuk memprediksi pola sinyal, Support Vector Machine (SVM) untuk mengelompokkan jenis mikroalga, dan Autoencoder dengan K-Means untuk menemukan pola tersembunyi dalam data. Dengan integrasi ketiga model tersebut, proses deteksi dapat berlangsung tanpa pewarnaan kimia (label-free) dan lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Pengembangan teknologi ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 tentang akses air bersih dan sanitasi layak, SDG 9 terkait inovasi industri dan teknologi, serta SDG 14 mengenai perlindungan ekosistem perairan. Melalui metode deteksi mikroalga yang lebih cepat dan efisien, riset ini diharapkan dapat membantu pemantauan kualitas air secara berkelanjutan dan mendukung pengelolaan lingkungan berbasis teknologi.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

Berani Menyelesaikan yang Dimulai: Kisah Inspiratif Widya Amelia Putri, Lulusan Terbaik dan Termuda dengan IPK 4.00 Program Magister FMIPA UGM

Suasana penuh kebanggaan mewarnai acara Pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026 di Auditorium Herman Johannes, FMIPA UGM. Salah satu capaian membanggakan datang dari Widya Amelia Putri, S.Stat., M.C.S.(AI)., wisudawati program magister yang berhasil dinobatkan sebagai lulusan terbaik sekaligus termuda pada jenjang magister dengan raihan IPK sempurna 4,00.

Dalam pidatonya sebagai perwakilan wisudawan program  magister, Widya menyoroti keunikan rekan-rejak sejawatnya, khususnya di program studi Magister Kecerdasan Artifisial (AI). Ia mengungkapkan bahwa bidang teknologi mutakhir ini ternyata tidak hanya ditekuni oleh lulusan Ilmu Komputer, tetapi juga oleh para akademisi dengan latar belakang yang sangat beragam.

“Sungguh unik melihat rekan-rekan di prodi Kecerdasan Artifisial. Ada yang berasal dari Fisika, Biomedis, Geofisika, bahkan Keperawatan,” ujar Widya. Ia memberikan apresiasi yang tinggi kepada para wisudawan yang berani keluar dari zona nyaman untuk mendalami ilmu komputer demi menyelesaikan studi mereka.

Menurutnya, kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dengan disiplin ilmu baru adalah sebuah pencapaian besar yang patut dirayakan. “Kita semua pantas merayakan apa yang kita capai hari ini,” ungkapnya. 

Widya juga berbagi kisah perjalanan tesisnya. Ia secara terbuka mengakui adanya masa-masa sulit, di mana keraguan diri dan tekanan akademis menjadi tantangan sehari-hari.

“Selama mengerjakan tesis, saya sering meragukan kemampuan saya sendiri. Apakah saya benar-benar bisa menyelesaikannya? Kadang data tidak sesuai proposal, stres melanda, dan revisi rasanya tidak ada habisnya,” kenangnya.

Namun, ia menceritakan bahwa dukungan dari dosen pembimbing, keluarga, serta teman-teman menjadi alasan yang membuatnya terus bertahan.

Menutup pidatonya, Widya memberikan pesan yang sangat menyentuh mengenai makna keberanian. Ia mengungkapkan bahwa keberanian bukan berarti hilangnya rasa takut, melainkan ketangguhan untuk terus maju meskipun rasa takut itu ada.

“Dari perjalanan ini saya belajar, kadang yang kita butuhkan hanyalah keberanian meskipun ada keraguan di dalam diri. Berani untuk menyelesaikan apa yang telah kita mulai,” tutupnya disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Kisah inspiratif Widya Amelia Putri ini selaras dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 5 (Kesetaraan Gender). Keberhasilannya meraih prestasi di bidang Kecerdasan Artifisial (AI) membuktikan peran strategis perempuan dalam sains dan teknologi. Selain itu, latar belakang mahasiswanya yang lintas disiplin tersebut mencerminkan semangat SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan talenta digital yang adaptif terhadap perubahan zaman demi mendorong inovasi yang lebih inklusif di masa depan.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Raih IPK 4.00, Faisal Dharma Adhinata Jadi Wisudawan Terbaik dan Tercepat Program Doktor FMIPA UGM

Suasana bahagia dan penuh bangga menyelimuti Auditorium Herman Johannes Lantai 7, Gedung FMIPA UGM, pada hari Kamis, 23 April 2026. Dalam acara Pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026, sosok Dr. Faisal Dharma Adhinata, S.Kom., M.Cs. mencuri perhatian setelah dinobatkan sebagai wisudawan terbaik sekaligus tercepat dari program doktor.

Pencapaian Dr. Faisal tergolong luar biasa dengan raihan IPK sempurna 4.00. Dalam pidatonya sebagai perwakilan wisudawan program doktor, ia membagikan perjalanan akademisnya yang sepenuhnya ditempuh di FMIPA UGM, mulai dari jenjang sarjana (S1), magister (S2), hingga doktoral (S3).

Dr. Faisal mengungkapkan bahwa keberhasilannya menuntaskan pendidikan di Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada tidak lepas dari dukungan berbagai beasiswa.  Dimulai dari beasiswa Bidikmisi saat S1, kemudian dilanjutkan dengan beasiswa LPDP dan BPI saat menempuh  jenjang pascasarjana.

“Saya merasa hari ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan,” ungkapnya dengan nada penuh syukur. Ia mengakui bahwa selama menempuh studi doktoral, terdapat banyak kesan dan tantangan yang mendewasakan dirinya sebagai seorang peneliti dan akademisi.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Faisal menitipkan pesan mendalam mengenai ketekunan dan sikap rendah hati. Ia menekankan pentingnya menghargai setiap proses kecil dalam kehidupan.

“Jangan pernah menyerah pada titik kecil apa pun, karena titik-titik kecil ini jika dikumpulkan akan menjadi besar dan membantu kita mencapai tujuan yang ingin diraih bersama,” pesannya.

Ia juga mengajak rekan-rekan lulusan lainnya untuk tetap rendah hati dan terus belajar dari siapa pun, meski telah menyandang gelar akademik tertinggi. Menurutnya, gelar yang diraih hari ini adalah sebuah amanah besar untuk terus berkarya, menjadi inspirasi, serta memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan Indonesia.

Pencapaian ini turut menjadi bukti nyata kontribusi akademisi dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada SDGs poin ke-4 (Pendidikan Berkualitas). Keberhasilan ini tidak hanya mencerminkan keunggulan akademis, tetapi juga menjadi dorongan bagi terciptanya inovasi berkelanjutan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia demi masa depan Indonesia yang lebih maju.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026 Fakultas MIPA UGM

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar upacara Pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026. Acara berlangsung khidmat di Auditorium Herman Johannes Lantai 7, FMIPA UGM, pada Kamis (23/4). Pada periode ini, FMIPA UGM meluluskan sebanyak 104 wisudawan wisudawati yang terdiri dari 21 mahasiswa doktor dan 83 mahasiswa magister. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 lulusan berhasil meraih predikat Cumlaude.

Dr. Sri Mulyana, M.Kom. wakil pengelola program doktor ilmu komputer, dalam sambutannya menekankan bahwa gelar akademik yang diraih merupakan hasil dari jerih payah yang luar biasa. Beliau menyoroti bagaimana para mahasiswa harus berjuang membagi waktu antara pendidikan dengan tanggung jawab bekerja hingga mengurus keluarga.

“Perjalanan studi pascasarjana memang tidak mudah. Ada yang kuliah sambil bekerja, mengasuh anak, khidmah kepada suami dan keluarga, hingga menghadapi dinamika data penelitian yang tidak sesuai ekspektasi. Namun hari ini Anda membuktikan bahwa saudara tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh,” ujar Dr. Sri Mulyana.

Beliau juga mengingatkan para lulusan untuk tetap menjaga sikap rendah hati dan lebih bijaksana seiring dengan meningkatnya ilmu yang dimiliki untuk kemaslahatan masyarakat.

 

Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas MIPA UGM, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., berbagi kisah inspiratif mengenai loyalitas para mahasiswanya. Beliau menceritakan pengalaman mahasiswa bimbingannya, seperti Budi Sumanto dan Iman Rahman, yang terlibat aktif dalam pengembangan inovasi GeNose (Gadjah Mada Electronic Nose) saat pandemi COVID-19.

“Keduanya ikut ‘babak belur’ saat kita mengembangkan GeNose. Mereka ikut mengantar perangkat ke rumah sakit, bekerja hingga larut malam, dan memastikan target pelaporan kepada kementerian dapat terpenuhi,” ungkap Prof. Kuwat. 

   

Melalui pelepasan ini, FMIPA UGM kembali menghantarkan putra-putri terbaiknya untuk melangkah ke tahap pengabdian yang lebih luas. Para lulusan diharapkan mampu membawa ilmu, integritas, dan semangat kontribusi untuk menjawab berbagai tantangan bangsa serta mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan.

Semangat tersebut sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui kontribusi nyata lulusan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Sembilan Dosen FMIPA UGM Masuk Top 5% Global Scientist Index 2025 Versi SciRank Global

Berdasarkan data yang dihimpun dari lembaga pemeringkatan independen SciRank Global, sebanyak sembilan dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) masuk dalam daftar Top 5% Global Scientist Index 2025. Pencapaian ini menempatkan para akademisi UGM tersebut ke dalam jajaran elit ilmuwan dengan kinerja riset paling berpengaruh di tingkat internasional.

Prestasi gemilang ini lahir dari kontribusi para profesor dan doktor yang tersebar di tiga departemen FMIPA UGM sebagai berikut:

Departemen Fisika

  • Drs. Kuwat Triyana, M.Si., Ph.D.

(Peringkat Global: #616.221)

  • Edi Suharyadi, S.Si., M.Eng., Ph.D.

(Peringkat Global: #777.489)

  • Iman Santoso, S.Si., M.Si.

(Peringkat Global: #1.291.310)

Departemen Kimia

  • Dra. Wega Trisunaryanti, M.S., Ph.D. Eng.

(Peringkat Global: #759.340)

  • Drs. Dwi Siswanta, M.Eng., Ph.D.

(Peringkat Global: #814.211)

  • Dr.rer.nat. Karna Wijaya, M.Eng.

(Peringkat Global: #1.357.975)

  • Drs. Sri Juari Santosa, M.Eng., Ph.D.

(Peringkat Global: #1.427.766)

Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika

  • Drs. Agus Harjoko, M.Sc., Ph.D.

(Peringkat Global: #828.784)

  • Dra. Sri Hartati, M.Sc., Ph.D.

(Peringkat Global: #846.735)

SciRank Global menyusun pemeringkatan ini menggunakan analisis bibliometrik berskala besar yang sangat ketat dengan menyaring lebih dari 8 juta profil peneliti dan 20 juta karya ilmiah dari 150 negara yang terindeks dalam basis data OpenAlex. Proses seleksi dan tolak ukur penilaian dalam indeks ini didasarkan pada beberapa indikator utama, seperti total sitasi yang mengukur seberapa sering karya ilmiah dirujuk oleh peneliti lain di seluruh dunia, serta H-Index sebagai indikator produktivitas sekaligus dampak sitasi dari publikasi yang dihasilkan.

Selain itu, penilaian juga mempertimbangkan aktivitas riset kontemporer melalui jumlah publikasi berkualitas dalam kurun waktu lima tahun terakhir, serta persentil sitasi ternormalisasi yang berfungsi sebagai sistem standarisasi nilai sitasi guna memastikan keadilan penilaian lintas bidang keilmuan yang berbeda.

Secara umum, capaian ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) karena riset yang berdampak global merupakan fondasi bagi solusi berbasis ilmu pengetahuan dalam mengatasi tantangan pembangunan. Secara khusus, capaian ini memperkuat SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) , SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Melalui penelitian yang berkualitas, kolaborasi lintas disiplin, serta kontribusi terhadap penyelesaian berbagai permasalahan masyarakat, capaian FMIPA UGM ini turut menunjukkan peran perguruan tinggi dalam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi yang berdampak secara global.

Melalui pencapaian ini, FMIPA UGM membuktikan bahwa perguruan tinggi Indonesia mampu mengambil peran sentral dalam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, menciptakan solusi inovatif berbasis sains, serta mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Penulis : Inna Mutifah
Editor: Meitha Eka Nur Khasanah

Read More

Mahasiswa Fisika UGM Raih Medali Perunggu pada International Student Competition (ISC) di Malaysia

Mahasiswa Program Studi Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Dalam ajang International Student Competition (ISC) 2026 yang diselenggarakan pada 14–15 Februari 2026 di Universiti Putra Malaysia (UPM), tim mahasiswa Fisika UGM berhasil meraih medali perunggu melalui karya inovatif di bidang teknologi.

Kompetisi yang diikuti peserta dari berbagai negara tersebut diawali dengan tahap seleksi esai. Para finalis kemudian mempresentasikan gagasannya secara langsung melalui sesi presentasi dan pameran poster di Malaysia.

Pada kompetisi ini, tim yang beranggotakan Amalia Nurin Al Fath dan Meitha Eka Nurhasanah mengangkat gagasan pemanfaatan nanopartikel magnetik yang berasal dari limbah pertanian untuk mendukung teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Inovasi tersebut menawarkan pendekatan yang menggabungkan pengurangan emisi karbon dengan pemanfaatan limbah pertanian bernilai rendah menjadi material yang memiliki potensi aplikasi teknologi.

Amalia selaku ketua tim menjelaskan bahwa proses penyusunan esai dilakukan dengan mengikuti perkembangan riset terbaru yang relevan dengan topik yang diangkat. Setelah lolos ke tahap final, fokus persiapan beralih pada penyusunan materi presentasi yang lebih ringkas dan mudah dipahami, sekaligus menonjolkan aspek kebaruan dari gagasan yang ditawarkan.

“Untuk tahap esai, kami banyak mengikuti perkembangan riset terbaru yang berkaitan dengan topik ini. Sementara untuk presentasi, kami berusaha mem-breakdown poin-poin penting dan menjelaskan novelty dari gagasan kami dengan lebih jelas agar dapat dipahami oleh dewan juri,” ujar Amalia.

Di balik capaian tersebut, tim juga menghadapi sejumlah tantangan sebelum keberangkatan. Mulai dari kebutuhan pendanaan, pengurusan dokumen perjalanan, hingga perencanaan rute dan transportasi selama berada di Malaysia.

“Tantangan terbesar sebelum berangkat adalah mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis perjalanan. Kami harus mengajukan pendanaan, mengurus paspor, serta mencari informasi mengenai rute dan transportasi yang akan digunakan selama di sana,” ungkapnya.

Selain tantangan teknis, pengalaman mengikuti kompetisi internasional juga memberikan pembelajaran tersendiri dalam beradaptasi di lingkungan baru.

“Karena ini pengalaman pertama saya ke luar negeri, saya justru lebih merasa excited daripada khawatir. Yang penting peka terhadap petunjuk dan informasi yang ada, serta tidak takut bertanya ketika tidak tahu,” katanya.

Terkait kemampuan berbahasa Inggris, Amalia mengaku masih terus belajar, terutama untuk kebutuhan presentasi formal di forum internasional.

“Saya masih terus belajar agar kemampuan bahasa Inggris saya semakin baik, khususnya untuk presentasi formal. Namun dalam percakapan sehari-hari, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa saling memahami dan menyampaikan pesan dengan baik,” ujarnya.

Amalia berharap pencapaian ini dapat mendorong mahasiswa lain untuk berani mencoba berbagai kesempatan yang ada.

“Coba dulu. Pasti ada jalan ketika kita memiliki keyakinan bahwa kita bisa,” pesannya.

Topik yang diangkat dalam kompetisi ini juga sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 yakni Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dan SDG 13 yaitu Penanganan Perubahan Iklim. Melalui pemanfaatan limbah pertanian sebagai material fungsional untuk teknologi penangkapan karbon, inovasi yang dikembangkan menunjukkan bagaimana riset sains dapat berkontribusi dalam mendorong inovasi berkelanjutan sekaligus mendukung upaya penanganan perubahan iklim.

Read More

Berhasil Ciptakan Inovasi PRAKE (Phrase-Refined RAKE), Tim Peneliti DIKE FMIPA UGM Tunjukkan Solusi Baru Mengekstrak Frasa Penting dari Dokumen Panjang

Dokumen akreditasi program studi seringkali mencapai ratusan halaman. Di dalamnya tersimpan banyak sekali informasi penting, namun mengekstrak frasa-frasa kunci secara manual riskan terlewat dan kurang efisien. 

Tim peneliti dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menciptakan solusi. Tim ini mengembangkan PRAKE (Phrase-Refined RAKE), sebuah inovasi algoritma yang dirancang untuk mengekstrak frasa-frasa penting dari dokumen naratif panjang dan kompleks, seperti borang akreditasi.

Hasil pengujian pada dokumen akreditasi di lingkungan LAM INFOKOM menunjukkan bahwa PRAKE mencapai nilai F1-score 0,85 yang menandakan bahwa algoritma ini mampu menangkap informasi secara tepat dan lengkap.

Algoritma RAKE (Rapid Automatic Keyword Extraction) yang biasanya digunakan memiliki kelemahan seperti hanya memisahkan frasa berdasarkan kata-kata umum seperti “dan”, “atau”, atau “yang”. Akibatnya, dalam dokumen panjang yang kaya narasi, banyak frasa pendek kehilangan konteks.

Misalnya, kata “ps” akan berdiri sendiri. Padahal dalam dokumen akreditasi, ia adalah bagian dari frasa utuh seperti “rumusan VMTS ps”. PRAKE hadir untuk memperbaiki kelemahan itu.

Sementra itu, PRAKE melengkapi frasa yang terpotong, menggabungkan frasa yang semestinya utuh, serta menyusun ulang elemen semantik yang tersebar dalam kalimat kompleks. PRAKE juga memberi bobot lebih pada istilah-istilah penting dalam dunia akreditasi seperti “strategi”, “kebijakan”, dan “evaluasi”. Selain itu, PRAKE membersihkan teks dari karakter non-alfabetik dan menyaring kata kerja umum, tetapi tetap mempertahankan kata kerja substantif seperti “mengevaluasi”.

Dengan ketiga keunggulan ini, PRAKE mampu menghasilkan frasa yang lebih panjang (3–5 kata) dan jauh lebih informatif dibandingkan algoritma standar.

Inovasi ini dikerjakan oleh mahasiswa dan dosen dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM. Tim ini terdiri dari Helena Nurramdhani Irmanda, S.Pd., M.Kom., Prof. Dra. Sri Hartati, M.Sc., Ph.D. dan  Dr. Sri Mulyana, M.Kom.

Pengembangan PRAKE ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Inovasi ini membantu proses pengelolaan dan analisis dokumen akreditasi menjadi lebih efektif, akurat, dan efisien sehingga dapat mendukung peningkatan kualitas tata kelola pendidikan tinggi berbasis teknologi.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

cNose: Inovasi “Hidung Elektronik” Portabel untuk Deteksi Dini Sepsis pada Bayi, Hasil Kolaborasi FMIPA dan FKKMK UGM

Tim peneliti multidisiplin dari Universitas Gadjah Mada berhasil mengembangkan inovasi alat kesehatan bernama cNose, sebuah sistem “hidung elektronik” portabel yang mampu mendeteksi sepsis pada bayi baru lahir secara cepat, akurat, dan non-invasif. Pengembangan teknologi ini merupakan hasil kolaborasi antara peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM bersama mitra internasional dari Mbeya University of Science and Technology.

Sepsis neonatal merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi baru lahir di Indonesia maupun negara berkembang lainnya. Selama ini, diagnosis standar dilakukan melalui kultur darah yang membutuhkan waktu 24–72 jam, memerlukan fasilitas laboratorium lengkap, serta bersifat invasif karena harus mengambil sampel darah bayi. Kondisi tersebut sering menyebabkan keterlambatan penanganan yang dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga kematian.

Melalui cNose, tim peneliti ini menawarkan pendekatan diagnosis yang lebih praktis dan ramah pasien. Teknologi ini bekerja dengan mendeteksi senyawa volatil tertentu dari sampel feses bayi menggunakan sensor elektronik yang terintegrasi dengan analisis pola berbasis kecerdasan buatan. Dengan metode ini, proses deteksi dapat dilakukan tanpa prosedur yang menyakitkan bagi bayi dan berpotensi mempercepat pengambilan keputusan medis di ruang perawatan neonatal.

Penelitian dilakukan terhadap 347 bayi baru lahir yang dirawat di unit HCU dan NICU RSUP Dr. Sardjito. Sampel feses dikumpulkan setiap hari dari popok bayi oleh tenaga perawat, kemudian dianalisis menggunakan sistem cNose. Sebelum dilibatkan dalam penelitian, seluruh orang tua pasien memberikan persetujuan tertulis (informed consent). Untuk memastikan validitas hasil, diagnosis sepsis tetap dikonfirmasi menggunakan metode kultur darah sebagai standar acuan. Penelitian ini juga telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik FKKMK UGM.

Hasil penelitian tersebut berhasil dipublikasikan dalam dua jurnal internasional bereputasi Q1, yakni Clinica Chimica Acta pada tahun 2025 dan Microchimica Acta pada tahun 2026. Adapun pendanaan penelitian didukung oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Batch 2 Tahun 2022.

Pengembangan cNose turut mendukung transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi di Indonesia. Inovasi ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan deteksi dini penyakit pada bayi baru lahir, serta SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui penguatan inovasi teknologi kesehatan hasil kolaborasi lintas disiplin dan internasional.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

Kembangkan Inovasi Biosensor Mikroalga, Dosen Departemen Fisika FMIPA UGM Sukses Ikuti Riset Kolaborasi Lintas Negara

Dua dosen dari Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), UGM, yaitu Dr. Iman Santoso, S.Si., M.Sc. dan Prof. Dr.Eng. Edi Suharyadi, S.Si., M.Eng., sukses berpartisipasi dalam riset internasional pengembangan metode deteksi mikroalga menggunakan sensor berbasis kromium dan kecerdasan buatan.

Riset kolaborasi ini melibatkan peneliti dari Fakultas MIPA UGM, Fakultas Biologi UGM, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Bengkulu, Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Nagoya University (Jepang), dan National Chung Hsing University (Taiwan).

Tim penelitian ini menemukan bahwa lapisan tipis kromium setebal 75 nanometer dapat berfungsi sebagai sensor optik yang sensitif terhadap keberadaan mikroalga. Pada ketebalan tersebut, terjadi perubahan fase cahaya hingga 40,6 derajat ketika sampel air yang mengandung mikroalga diujikan. Kromium dipilih karena lebih ekonomis dibandingkan logam mulia seperti emas atau perak yang biasa digunakan dalam sensor optik sejenis.

Data pantulan cahaya dari sensor ini bersifat kompleks dan tidak linear. Untuk mengolahnya, tim menggunakan tiga model machine learning, yaitu Deep Neural Network (DNN) untuk memprediksi pola sinyal, Support Vector Machine (SVM) untuk mengelompokkan jenis mikroalga, dan Autoencoder dengan K-Means untuk menemukan pola tersembunyi dalam data. Dengan integrasi ketiga model tersebut, proses deteksi dapat berlangsung tanpa pewarnaan kimia (label-free) dan lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Pengembangan teknologi ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 tentang akses air bersih dan sanitasi layak, SDG 9 terkait inovasi industri dan teknologi, serta SDG 14 mengenai perlindungan ekosistem perairan. Melalui metode deteksi mikroalga yang lebih cepat dan efisien, riset ini diharapkan dapat membantu pemantauan kualitas air secara berkelanjutan dan mendukung pengelolaan lingkungan berbasis teknologi.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

Berani Menyelesaikan yang Dimulai: Kisah Inspiratif Widya Amelia Putri, Lulusan Terbaik dan Termuda dengan IPK 4.00 Program Magister FMIPA UGM

Suasana penuh kebanggaan mewarnai acara Pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026 di Auditorium Herman Johannes, FMIPA UGM. Salah satu capaian membanggakan datang dari Widya Amelia Putri, S.Stat., M.C.S.(AI)., wisudawati program magister yang berhasil dinobatkan sebagai lulusan terbaik sekaligus termuda pada jenjang magister dengan raihan IPK sempurna 4,00.

Dalam pidatonya sebagai perwakilan wisudawan program  magister, Widya menyoroti keunikan rekan-rejak sejawatnya, khususnya di program studi Magister Kecerdasan Artifisial (AI). Ia mengungkapkan bahwa bidang teknologi mutakhir ini ternyata tidak hanya ditekuni oleh lulusan Ilmu Komputer, tetapi juga oleh para akademisi dengan latar belakang yang sangat beragam.

“Sungguh unik melihat rekan-rekan di prodi Kecerdasan Artifisial. Ada yang berasal dari Fisika, Biomedis, Geofisika, bahkan Keperawatan,” ujar Widya. Ia memberikan apresiasi yang tinggi kepada para wisudawan yang berani keluar dari zona nyaman untuk mendalami ilmu komputer demi menyelesaikan studi mereka.

Menurutnya, kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dengan disiplin ilmu baru adalah sebuah pencapaian besar yang patut dirayakan. “Kita semua pantas merayakan apa yang kita capai hari ini,” ungkapnya. 

Widya juga berbagi kisah perjalanan tesisnya. Ia secara terbuka mengakui adanya masa-masa sulit, di mana keraguan diri dan tekanan akademis menjadi tantangan sehari-hari.

“Selama mengerjakan tesis, saya sering meragukan kemampuan saya sendiri. Apakah saya benar-benar bisa menyelesaikannya? Kadang data tidak sesuai proposal, stres melanda, dan revisi rasanya tidak ada habisnya,” kenangnya.

Namun, ia menceritakan bahwa dukungan dari dosen pembimbing, keluarga, serta teman-teman menjadi alasan yang membuatnya terus bertahan.

Menutup pidatonya, Widya memberikan pesan yang sangat menyentuh mengenai makna keberanian. Ia mengungkapkan bahwa keberanian bukan berarti hilangnya rasa takut, melainkan ketangguhan untuk terus maju meskipun rasa takut itu ada.

“Dari perjalanan ini saya belajar, kadang yang kita butuhkan hanyalah keberanian meskipun ada keraguan di dalam diri. Berani untuk menyelesaikan apa yang telah kita mulai,” tutupnya disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Kisah inspiratif Widya Amelia Putri ini selaras dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 5 (Kesetaraan Gender). Keberhasilannya meraih prestasi di bidang Kecerdasan Artifisial (AI) membuktikan peran strategis perempuan dalam sains dan teknologi. Selain itu, latar belakang mahasiswanya yang lintas disiplin tersebut mencerminkan semangat SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan talenta digital yang adaptif terhadap perubahan zaman demi mendorong inovasi yang lebih inklusif di masa depan.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Raih IPK 4.00, Faisal Dharma Adhinata Jadi Wisudawan Terbaik dan Tercepat Program Doktor FMIPA UGM

Suasana bahagia dan penuh bangga menyelimuti Auditorium Herman Johannes Lantai 7, Gedung FMIPA UGM, pada hari Kamis, 23 April 2026. Dalam acara Pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026, sosok Dr. Faisal Dharma Adhinata, S.Kom., M.Cs. mencuri perhatian setelah dinobatkan sebagai wisudawan terbaik sekaligus tercepat dari program doktor.

Pencapaian Dr. Faisal tergolong luar biasa dengan raihan IPK sempurna 4.00. Dalam pidatonya sebagai perwakilan wisudawan program doktor, ia membagikan perjalanan akademisnya yang sepenuhnya ditempuh di FMIPA UGM, mulai dari jenjang sarjana (S1), magister (S2), hingga doktoral (S3).

Dr. Faisal mengungkapkan bahwa keberhasilannya menuntaskan pendidikan di Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada tidak lepas dari dukungan berbagai beasiswa.  Dimulai dari beasiswa Bidikmisi saat S1, kemudian dilanjutkan dengan beasiswa LPDP dan BPI saat menempuh  jenjang pascasarjana.

“Saya merasa hari ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan,” ungkapnya dengan nada penuh syukur. Ia mengakui bahwa selama menempuh studi doktoral, terdapat banyak kesan dan tantangan yang mendewasakan dirinya sebagai seorang peneliti dan akademisi.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Faisal menitipkan pesan mendalam mengenai ketekunan dan sikap rendah hati. Ia menekankan pentingnya menghargai setiap proses kecil dalam kehidupan.

“Jangan pernah menyerah pada titik kecil apa pun, karena titik-titik kecil ini jika dikumpulkan akan menjadi besar dan membantu kita mencapai tujuan yang ingin diraih bersama,” pesannya.

Ia juga mengajak rekan-rekan lulusan lainnya untuk tetap rendah hati dan terus belajar dari siapa pun, meski telah menyandang gelar akademik tertinggi. Menurutnya, gelar yang diraih hari ini adalah sebuah amanah besar untuk terus berkarya, menjadi inspirasi, serta memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan Indonesia.

Pencapaian ini turut menjadi bukti nyata kontribusi akademisi dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada SDGs poin ke-4 (Pendidikan Berkualitas). Keberhasilan ini tidak hanya mencerminkan keunggulan akademis, tetapi juga menjadi dorongan bagi terciptanya inovasi berkelanjutan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia demi masa depan Indonesia yang lebih maju.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026 Fakultas MIPA UGM

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar upacara Pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026. Acara berlangsung khidmat di Auditorium Herman Johannes Lantai 7, FMIPA UGM, pada Kamis (23/4). Pada periode ini, FMIPA UGM meluluskan sebanyak 104 wisudawan wisudawati yang terdiri dari 21 mahasiswa doktor dan 83 mahasiswa magister. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 lulusan berhasil meraih predikat Cumlaude.

Dr. Sri Mulyana, M.Kom. wakil pengelola program doktor ilmu komputer, dalam sambutannya menekankan bahwa gelar akademik yang diraih merupakan hasil dari jerih payah yang luar biasa. Beliau menyoroti bagaimana para mahasiswa harus berjuang membagi waktu antara pendidikan dengan tanggung jawab bekerja hingga mengurus keluarga.

“Perjalanan studi pascasarjana memang tidak mudah. Ada yang kuliah sambil bekerja, mengasuh anak, khidmah kepada suami dan keluarga, hingga menghadapi dinamika data penelitian yang tidak sesuai ekspektasi. Namun hari ini Anda membuktikan bahwa saudara tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh,” ujar Dr. Sri Mulyana.

Beliau juga mengingatkan para lulusan untuk tetap menjaga sikap rendah hati dan lebih bijaksana seiring dengan meningkatnya ilmu yang dimiliki untuk kemaslahatan masyarakat.

 

Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas MIPA UGM, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., berbagi kisah inspiratif mengenai loyalitas para mahasiswanya. Beliau menceritakan pengalaman mahasiswa bimbingannya, seperti Budi Sumanto dan Iman Rahman, yang terlibat aktif dalam pengembangan inovasi GeNose (Gadjah Mada Electronic Nose) saat pandemi COVID-19.

“Keduanya ikut ‘babak belur’ saat kita mengembangkan GeNose. Mereka ikut mengantar perangkat ke rumah sakit, bekerja hingga larut malam, dan memastikan target pelaporan kepada kementerian dapat terpenuhi,” ungkap Prof. Kuwat. 

   

Melalui pelepasan ini, FMIPA UGM kembali menghantarkan putra-putri terbaiknya untuk melangkah ke tahap pengabdian yang lebih luas. Para lulusan diharapkan mampu membawa ilmu, integritas, dan semangat kontribusi untuk menjawab berbagai tantangan bangsa serta mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan.

Semangat tersebut sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui kontribusi nyata lulusan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More
Translate