Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Riset

Mahasiswa Kimia FMIPA UGM Berhasil Teliti Pengembangan Minyak Maggot BSF sebagai Bahan Baku Bioavtur Pengganti Sawit, Dukung Ketahanan Energi dan Pangan

Revaldo Anugerah Putra Pradana, mahasiswa pascasarjana Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil mengembangkan potensi minyak maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai bahan baku bioavtur untuk pesawat. Inovasi ini menawarkan alternatif sumber energi yang tidak berkompetisi langsung dengan kebutuhan pangan, membutuhkan lahan lebih sedikit dibandingkan kelapa sawit, sekaligus memanfaatkan maggot sebagai pengolah sampah organik. Kandungan asam laurat yang dominan pada minyak maggot BSF juga dinilai berpotensi membuat proses pengolahannya menjadi bioavtur lebih efisien.

Kondisi terkini menunjukkan marak terjadinya konversi hutan menjadi kebun sawit di Indonesia, salah satu indikator adalah bencana kabut asap di Kalimantan dan Sumatera. Hal ini akan semakin parah jika  kebutuhan energi terbarukan bergantung pada sawit pada masa mendatang. Secara sudut pandang ilmu ekonomi, konversi sawit menjadi energi akan meningkatkan jumlah permintaan sehingga kebutuhan pangan berbahan dasar sawit seperti minyak goreng akan berpotensi lebih mahal. Lebih lanjut, peran maggot BSF sebagai pengonsumsi sampah organik juga berpotensi untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Indonesia jika dilakukan pengembangan yang lebih optimal. “Penggunaan sawit sebagai bahan baku energi berpotensi menimbulkan dilema antara kebutuhan pangan dan energi. Sementara itu, maggot BSF bukan sumber pangan dan juga dapat dimanfaatkan untuk mengonversi sampah organik,” ujar Revaldo.

Selain persoalan lahan, kandungan minyak pada maggot BSF juga menjadi alasan penelitian ini dilakukan. Minyak maggot BSF didominasi asam laurat (C12:0), sedangkan minyak sawit lebih banyak mengandung asam oleat (C18:1). Rantai karbon asam laurat dinilai lebih sesuai dengan rentang hidrokarbon avtur sehingga berpotensi mengurangi kebutuhan proses cracking pada prosesnya.

“Karena rantai karbonnya gugus alkil sudah lebih sesuai dengan rentang avtur, proses pengolahannya berpotensi lebih sederhana dan dapat mengurangi kebutuhan energi dibandingkan bahan baku yang membutuhkan reaksi cracking lebih lanjut seperti sawit,” jelasnya.

Dalam penelitian ini, Revaldo menggunakan katalis berbasis molibdenum dan nikel dalam reaktor double batch furnace. Bahan dipanaskan hingga menjadi gas, kemudian dialirkan menuju batch berisi katalis untuk mengalami reaksi deoksigenasi. Produk selanjutnya dikondensasikan hingga menghasilkan bioavtur.

“Penelitian ini tentu masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Saya berharap peneliti dari berbagai disiplin ilmu dapat melanjutkan dan mengeksplorasi ide ini sehingga suatu saat tidak hanya berhenti pada skala penelitian, tetapi dapat dikembangkan menuju produksi skala industri dan benar-benar diaplikasikan di masyarakat,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar mencari alternatif bahan bakar pesawat, penelitian ini juga membawa persoalan yang lebih luas mengenai arah transisi energi. Peningkatan kebutuhan energi perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan pangan dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

“Transisi energi bukan hanya tentang mengganti bahan bakar fosil, tetapi juga bagaimana memenuhi kebutuhan energi tanpa mengorbankan kebutuhan pangan dan lingkungan,” pungkas Revaldo.

Penelitian ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau melalui pengembangan sumber bahan bakar alternatif untuk penerbangan. Pemanfaatan minyak maggot BSF juga selaras dengan SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab karena menghubungkan pengolahan sampah organik dengan pengembangan bahan baku energi. Di sisi lain, pengembangan bahan baku bioavtur yang tidak bergantung pada komoditas pangan dan membutuhkan lahan lebih sedikit ini sangat mendukung SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim melalui pengembangan sistem energi yang lebih berkelanjutan.

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Koordinasi Program Riset Biofuel Nyamplung, FMIPA UGM Jalin Kerja Sama dengan BRIN, PT Abe Indonesia Berjaya, dan PT DaFa Teknoagro Mandiri

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada melakukan kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional  (BRIN), PT Abe Indonesia Berjaya, dan PT DaFa Teknoagro Mandiri, melalui program Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Biofuel Nyamplung. Kegiatan dilakukan pada 28 Agustus 2026 pukul 08.00 WIB secara hybrid di Ruang Multimedia Departemen Kimia.

Dekan FMIPA UGM, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., turut hadir dan memberikan sambutan untuk membuka kegiatan koordinasi. Prof. Kuwat mengucapkan terima kasih atas kepercayaan mitra terhadap FMIPA UGM. “Mudah-mudahan kolaborasi ini bisa memberikan dampak berjangka panjang bagi seluruh pihak,” ujar Prof. Kuwat dalam sambutannya.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan arahan program PKR yang diberikan oleh Prof. Dr. Andes Hamuraby Rozak selaku kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, BRIN. Dalam pemaparannya, beliau memaparkan latar belakang serta arahan dari kegiatan PKR yang sedang dipersiapkan.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari ketiga mitra kolaborasi. Pemaparan pertama disampaikan oleh Ketua Tim PKR Biofuel Nyamplung dari BRIN dan UGM, Prof. Dra. Wega Trisunaryanti, M.S., Ph.D. Eng. Pemaparan selanjutnya disampaikan oleh Direktur Utama dari PT DaFa Teknoagro Mandiri, Ir. H. Nursyamsu Mahyuddin, M.Si. Serta pemaparan berikutnya diberikan oleh Direktur Utama dari PT ABE Indonesia Berjaya, Dr. Eko Fajar Nurprasetyo, M.Eng.

Kegiatan ditutup dengan penandatanganan Kerangka Acuan Kerja (KAK) Kerja sama antara ketiga mitra, serta diskusi mengenai rencana pelaksanaan program. Koordinasi mitra dan penandatanganan KAK oleh FMIPA UGM turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals nomor 4: Pendidikan Berkualitas. Juga nomor 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dengan melalui kolaborasi riset berkelanjutan dengan industri mitra.

Penulis: Sekar Melati Putri Pratiwi
Dokumentasi: Afiandina Sukma

Read More

Mahasiswa FMIPA UGM Kembangkan PolPay (Jempol Payment), Inovasi Pembayaran Digital Berbasis Biometrik Sidik Jari Tanpa Kartu dan Ponsel

Tim mahasiswa FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) tengah mengembangkan PolPay (Jempol Payment), sebuah inovasi sistem pembayaran digital berbasis biometrik sidik jari yang dirancang untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, dan efisiensi transaksi. Berbeda dengan sistem pembayaran konvensional, PolPay memungkinkan pengguna melakukan transaksi tanpa kartu maupun telepon genggam dengan memanfaatkan autentikasi biometrik. 

Pengembangan inovasi PolPay ini dilakukan melalui penelitian berjudul Alat Pembayaran Biometrik Terjangkau Berbasis Komputasi Tepi (PolPay) dengan Standar Enkripsi Lanjutan 256-Bit untuk Transaksi Terproteksi Privasi. Penelitian tersebut dikembangkan oleh lima mahasiswa UGM, yaitu Tiara Ramadhani (Ilmu Aktuaria 2025/FMIPA) selaku ketua tim, Al Farabi Obiansyah (Teknik Mesin 2025/FT), Marcelino Budi Prakasya (Ilmu Komputer 2025/FMIPA), Muhammad Fakhri Ghonim Setyanda (Elektronika dan Instrumentasi 2025/FMIPA), dan M. Rakhma Aifil Indira (Ilmu Aktuaria 2025/FMIPA), dengan Mokhammad Fajar Pradipta, S.Si., M.Eng. sebagai dosen pembimbing. 

Berbeda dengan sistem pembayaran konvensional yang bergantung pada kartu atau perangkat seluler, PolPay mengintegrasikan sensor sidik jari dengan perangkat Electronic Data Capture (EDC). Pengguna dapat melakukan autentikasi menggunakan sidik jari, sementara proses verifikasi dilakukan melalui sistem biometrik yang dikembangkan oleh tim.

Dalam pengembangannya, PolPay memanfaatkan teknologi edge computing untuk memproses data biometrik. Data kemudian dikirimkan ke server dalam bentuk terenkripsi menggunakan Advanced Encryption Standard 256-bit (AES-256) serta diamankan melalui protokol SSL/TLS. Pendekatan tersebut dirancang untuk meningkatkan perlindungan privasi pengguna, mengurangi latensi, serta meminimalkan risiko penyalahgunaan data biometrik.

Selain mengutamakan keamanan, PolPay dirancang sebagai alternatif sistem pembayaran biometrik yang lebih terjangkau dibandingkan teknologi sejenis yang umumnya membutuhkan infrastruktur dengan biaya tinggi. Dengan konsep tersebut, tim mengembangkan teknologi pembayaran yang tidak bergantung pada kepemilikan kartu maupun telepon genggam dalam proses transaksi. Saat ini, penelitian PolPay masih berada pada tahap pengembangan prototipe. Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan inovasi sebelum dilakukan pengujian dan pengembangan lebih lanjut.

Pengembangan PolPay juga mendukung arah transformasi digital nasional yang selaras dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 yang diinisiasi oleh Bank Indonesia. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan teknologi pembayaran digital yang mengutamakan keamanan sekaligus perlindungan privasi pengguna.

Secara keseluruhan, pengembangan PolPay berkontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan teknologi pembayaran digital yang inovatif dan inklusif, serta SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) dengan memperkuat keamanan siber dan perlindungan data dalam ekosistem transaksi digital. Inovasi ini menunjukkan bagaimana riset mahasiswa dapat menjadi bagian dari solusi teknologi yang relevan bagi kebutuhan masyarakat dan transformasi digital Indonesia. 

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

FMIPA UGM Jalin Kerja Sama dengan Griffith University, Perkuat Kolaborasi Akademik dan Riset

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat kerja sama akademik dengan Griffith University melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada 20 Juli 2026. Kerja sama tersebut kemudian dilanjutkan melalui kegiatan akademik yang menghadirkan Prof. Dr. Qin Li dari Griffith University sebagai pembicara dalam Chemistry Advanced Studies Exploration (CASE) #4 yang diselenggarakan oleh Departemen Kimia FMIPA UGM pada 24 Juli 2026.

Penandatanganan MoU menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan kelembagaan antara FMIPA UGM dan Griffith University. Kerja sama tersebut membuka ruang bagi pengembangan kolaborasi di bidang akademik dan riset antara kedua institusi.

Tidak berhenti pada kerja sama kelembagaan, hubungan akademik kedua institusi juga diwujudkan melalui kegiatan ilmiah yang melibatkan sivitas akademika. Departemen Kimia FMIPA UGM menghadirkan Prof. Dr. Qin Li dari Griffith University dalam kegiatan CASE #4 yang mengangkat topik Carbon Dots: Catalyzing the Future of Green Quantum Materials. 

Dalam kuliah tersebut, Prof. Qin Li membahas carbon dots dalam konteks pengembangan green quantum materials. Topik tersebut memperkenalkan perkembangan material berbasis carbon dots dan potensinya dalam mendukung pengembangan material yang lebih ramah lingkungan.

Kehadiran akademisi dari Griffith University dalam kegiatan CASE menjadi bagian dari penguatan interaksi akademik antara FMIPA UGM dan mitra internasional. Melalui forum ilmiah seperti ini, sivitas akademika dapat memperoleh wawasan mengenai perkembangan riset sekaligus membuka peluang pertukaran pengetahuan dengan peneliti dari institusi di luar negeri.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan upaya FMIPA UGM dalam memperluas jejaring internasional melalui kerja sama kelembagaan yang diikuti dengan kegiatan akademik. Kolaborasi dengan Griffith University diharapkan dapat menjadi ruang bagi pengembangan kerja sama pendidikan dan penelitian pada bidang-bidang yang relevan di masa mendatang.

Kerja sama FMIPA UGM dengan Griffith University turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi melalui kerja sama kelembagaan dan forum akademik internasional membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan, penguatan kapasitas akademik, serta pengembangan riset lintas institusi. Melalui kemitraan tersebut, FMIPA UGM terus memperluas akses sivitas akademika terhadap jejaring dan perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat global.

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Kisah Inspiratif Wangsa, Laboran Departemen Kimia FMIPA UGM Sukses Temukan Potensi Pemanfaatan Limbah Sarung Tangan Lateks menjadi Fraksi Bahan Bakar

“Sebagai laboran, saya melihat langsung limbah itu terus bertambah setiap hari.” Pernyataan tersebut disampaikan Wangsa, S.Si., M.Sc., teknisi Laboratorium Riset Kimia Fisika, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM), saat menceritakan awal mula penelitiannya yang memanfaatkan limbah sarung tangan lateks menjadi fraksi bahan bakar setara bensin.

Selain bertanggung jawab mengelola Laboratorium Riset Kimia Fisika, Departemen Kimia FMIPA UGM, Wangsa juga aktif melakukan penelitian yang berfokus pada pengembangan metode analisis serta perancangan peralatan laboratorium untuk mendukung kualitas penelitian dosen dan mahasiswa. Atas dedikasi dan kinerja yang ditunjukkan, ia memperoleh kesempatan melanjutkan studi Magister Kimia di FMIPA UGM melalui pendanaan penuh dari universitas. Pada jenjang tersebut, ia mengambil peminatan Kimia Fisika dengan fokus penelitian pada bidang limbah, energi, dan katalis.

Menurut Wangsa, inspirasi penelitian ini datang dari aktivitas sehari-hari di laboratorium. Sebagai laboran, ia melihat secara langsung tingginya penggunaan sarung tangan lateks sebagai alat pelindung diri (APD) dalam kegiatan praktikum maupun penelitian. Kondisi tersebut menghasilkan limbah dalam jumlah yang tidak sedikit. Di Departemen Kimia FMIPA UGM, limbah sarung tangan lateks dapat mencapai sekitar 200 kg setiap tahunnya.

Berangkat dari pengamatan tersebut, Wangsa mulai menelusuri potensi yang masih dimiliki limbah sarung tangan lateks. Menurutnya, material tersebut tersusun atas campuran karet alam dan karet sintetis yang didominasi senyawa isoprena, yakni hidrokarbon rantai panjang yang berpotensi dikonversi menjadi bahan bakar cair. Potensi inilah yang kemudian menjadi dasar pengembangan penelitiannya.

Melalui penelitian yang dilakukan, limbah sarung tangan lateks dikonversi menjadi fraksi bahan bakar setara bensin menggunakan kombinasi katalis berbasis logam dan teknologi microwave-assisted pyrolysis atau pirolisis berbantuan gelombang mikro. Menurut Wangsa, pendekatan tersebut mampu meningkatkan selektivitas produk terhadap fraksi bensin sekaligus membuat proses konversi menjadi lebih efisien dari sisi konsumsi energi.

Bagi Wangsa, penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk menjawab tantangan pengelolaan limbah sekaligus mendukung pengembangan teknologi energi berkelanjutan melalui pendekatan kimia yang lebih ramah lingkungan. Ia meyakini bahwa persoalan yang ditemui dalam aktivitas laboratorium dapat menjadi titik awal lahirnya solusi yang memberikan manfaat lebih luas.

Sebagai wujud kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan, penelitian yang dilakukan Wangsa sejalan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pengembangan sumber energi alternatif dari limbah, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan mendorong pemanfaatan kembali limbah laboratorium menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya mengurangi timbulan limbah dan mendukung pengembangan teknologi yang lebih efisien dalam pemanfaatan energi. Inovasi ini menunjukkan bahwa permasalahan yang muncul dari aktivitas laboratorium dapat diubah menjadi peluang untuk menghasilkan solusi berbasis sains yang memberikan manfaat bagi lingkungan, mendukung pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan, serta mendorong pengembangan energi alternatif di masa depan.

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Mahasiswa FMIPA UGM Kembangkan Fuel Booster dari Limbah Baterai Ni-MH melalui Pendekatan Ekonomi Sirkular

Limbah baterai Nickel-Metal Hydride (Ni-MH) menjadi salah satu jenis limbah yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Di sisi lain, kebutuhan bahan bakar di sektor transportasi masih didominasi oleh energi fosil yang menghasilkan emisi gas buang. Berangkat dari dua tantangan tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diketuai mahasiswa Departemen Kimia FMIPA UGM mengembangkan inovasi pemanfaatan limbah baterai Ni-MH sebagai bahan baku pembuatan katalis untuk menghasilkan aditif bahan bakar diesel yang lebih ramah lingkungan.

Penelitian yang berjudul Transformasi Limbah Baterai Nikel-Logam Hidrida Menjadi Katalis Ni/Karbon Aktif untuk Aditif Solar Berbasis Butanol mengusung konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan kembali logam nikel dari baterai bekas menjadi material yang memiliki nilai tambah.

Ketua tim, Fidel Faj’ri, menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada pemanfaatan nikel hasil daur ulang limbah baterai sebagai komponen utama dalam pengembangan katalis. Katalis tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan senyawa yang berpotensi digunakan sebagai fuel booster atau aditif pada bahan bakar solar. Selanjutnya, produk yang diperoleh dievaluasi melalui berbagai pengujian guna mengetahui karakteristik dan potensi penerapannya sebagai aditif bahan bakar.

Tim PKM ini terdiri atas Fidel Faj’ri (Kimia FMIPA 2024) sebagai ketua, Arashi Yuko Naeri (Kimia FMIPA 2024), Olga Fitriyaningtyas (Kimia FMIPA  2024), Jingga Rohmaningsih (Teknik Kimia FT 2024) serta Arghia Kalulla (Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian FTP 2025). Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi kekuatan tim dalam mengembangkan solusi inovatif yang menghubungkan aspek material, energi, dan keberlanjutan.

Penelitian ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pengembangan aditif bahan bakar yang berpotensi meningkatkan efisiensi pembakaran, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui inovasi pemanfaatan material hasil daur ulang menjadi katalis bernilai tambah, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan menerapkan prinsip circular economy dalam pengelolaan limbah baterai, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) karena penelitian ini ditujukan untuk mendukung upaya pengurangan dampak lingkungan dari limbah dan emisi sektor transportasi.

Penulis: Inna Mutifah
>Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

FMIPA UGM Terima Kunjungan Direktorat Kemitraan dan Relasi Global, Perkuat Tata Kelola Kerja Sama Internasional

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan dari Direktorat Kemitraan dan Relasi Global pada hari Selasa (7/7). Kunjungan ini menjadi forum diskusi dan evaluasi untuk memperkuat koordinasi antara fakultas dan direktorat dalam pengelolaan kerja sama, baik di tingkat nasional maupun internasional. 

Dalam pertemuan tersebut, turut dibahas mengenai pemetaan dan evaluasi mitra kerja sama yang telah dimiliki FMIPA UGM, baik mitra dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, dibahas pula penguatan tata kelola administrasi seluruh kegiatan kerja sama, khususnya yang melibatkan mitra internasional, agar setiap pelaksanaan program terdokumentasi dengan baik dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Aspek lain yang turut menjadi perhatian adalah pengelolaan administrasi mahasiswa yang mengikuti berbagai program internasional, seperti program double degree di luar negeri, penerima beasiswa LPDP yang menjalani studi internasional, serta mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di FMIPA UGM. Melalui koordinasi ini, diharapkan proses administrasi dan layanan internasional di lingkungan FMIPA UGM dapat berjalan semakin efektif, terintegrasi, dan mampu mendukung peningkatan jejaring akademik global.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen FMIPA UGM dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan layanan dan tata kelola program pendidikan internasional, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat kolaborasi antara fakultas, universitas, dan berbagai mitra di tingkat nasional maupun global. Penguatan tata kelola kerja sama diharapkan dapat menciptakan ekosistem kolaborasi yang lebih efektif, transparan, dan berkelanjutan untuk mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi di tingkat internasional.

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

FMIPA UGM dan Management University Kamboja Teken MoU untuk Perkuat Kerja Sama Akademik dan Riset

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan delegasi Management University, Kamboja, pada Rabu (25/6). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang menandai komitmen kedua institusi dalam memperkuat kemitraan di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan akademik.

Kegiatan yang berlangsung di Fakultas MIPA UGM ini dihadiri oleh Dekan FMIPA UGM, Prof. Dr.Eng. Kuwat Triyana, M.Si., Wakil Dekan Bidang Alumni, Kerjasama, dan Inovasi, Prof. Fajar Adi Kusumo, Daniel Oscar Baskoro selaku ketua Kamipagama, serta perwakilan dari sejumlah departemen di FMIPA UGM, yakni Danang Teguh Qoyyimi, S.Si., M.Sc., Ph.D. dari Departemen Matematika, Prof. Dr.rer.nat Nurul Hidayat Aprilita, S.Si., M.Si. dari Departemen Kimia, dan Dr. rer. nat. Herlan Darmawan, M.Sc. dari Departemen Fisika. 

Dalam kesempatan tersebut, masing-masing departemen memperkenalkan bidang keunggulan, fokus pendidikan, serta aktivitas penelitian yang dikembangkan di FMIPA UGM. Paparan tersebut memberikan gambaran mengenai kapasitas dan potensi yang dimiliki FMIPA UGM untuk mendukung berbagai program kemitraan internasional.

Ketua Departemen Matematika, Danang Teguh Qoyyimi, S.Si., M.Sc., Ph.D., turut memaparkan sejumlah bidang kepakaran yang dikembangkan di Departemen Matematika, termasuk matematika finansial, asuransi, dan manajemen risiko. Berbagai bidang tersebut dinilai memiliki relevansi yang kuat dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis data, pengelolaan risiko, serta pengembangan sektor keuangan dan layanan publik.

“Selain memperkuat aspek teoretis, kami juga mengembangkan berbagai bidang terapan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri. Dalam pengembangan tersebut, kami menjalin kolaborasi dengan berbagai fakultas di UGM, termasuk Fakultas Ekonomika dan Bisnis serta Fakultas Hukum. Pendekatan multidisiplin ini membuka banyak peluang untuk membangun kerja sama yang lebih luas dengan berbagai mitra, baik di tingkat nasional maupun internasional,” jelas Danang.

Dalam sesi diskusi, kedua institusi turut membahas berbagai peluang yang dapat dikembangkan pada masa mendatang, mulai dari penelitian bersama, pertukaran akademik, hingga penyelenggaraan program pendidikan. Berbagai bidang yang memiliki irisan dengan fokus keilmuan Management University turut menjadi bagian dari pembahasan sebagai potensi pengembangan program bersama di masa depan.

Delegasi Management University menyambut baik berbagai peluang tersebut dan berharap kemitraan yang terjalin dapat memberikan manfaat bagi kedua institusi. Melalui penandatanganan MoU ini, FMIPA UGM dan Management University Kamboja diharapkan dapat memperluas jejaring internasional serta mendorong lahirnya berbagai inovasi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat global.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kerja sama akademik dan pertukaran pengetahuan antarperguruan tinggi lintas negara. Selain itu, kolaborasi dalam bidang penelitian dan pengembangan inovasi berkontribusi pada SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dengan mendorong terciptanya riset yang relevan terhadap tantangan global. Kemitraan antara FMIPA UGM dan Management University Kamboja juga mencerminkan implementasi SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui pembangunan jejaring internasional yang mendukung pengembangan pendidikan tinggi, penelitian, dan kapasitas sumber daya manusia secara berkelanjutan.

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Mahasiswa Kimia FMIPA UGM Berhasil Teliti Pengembangan Minyak Maggot BSF sebagai Bahan Baku Bioavtur Pengganti Sawit, Dukung Ketahanan Energi dan Pangan

Revaldo Anugerah Putra Pradana, mahasiswa pascasarjana Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil mengembangkan potensi minyak maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai bahan baku bioavtur untuk pesawat. Inovasi ini menawarkan alternatif sumber energi yang tidak berkompetisi langsung dengan kebutuhan pangan, membutuhkan lahan lebih sedikit dibandingkan kelapa sawit, sekaligus memanfaatkan maggot sebagai pengolah sampah organik. Kandungan asam laurat yang dominan pada minyak maggot BSF juga dinilai berpotensi membuat proses pengolahannya menjadi bioavtur lebih efisien.

Kondisi terkini menunjukkan marak terjadinya konversi hutan menjadi kebun sawit di Indonesia, salah satu indikator adalah bencana kabut asap di Kalimantan dan Sumatera. Hal ini akan semakin parah jika  kebutuhan energi terbarukan bergantung pada sawit pada masa mendatang. Secara sudut pandang ilmu ekonomi, konversi sawit menjadi energi akan meningkatkan jumlah permintaan sehingga kebutuhan pangan berbahan dasar sawit seperti minyak goreng akan berpotensi lebih mahal. Lebih lanjut, peran maggot BSF sebagai pengonsumsi sampah organik juga berpotensi untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Indonesia jika dilakukan pengembangan yang lebih optimal. “Penggunaan sawit sebagai bahan baku energi berpotensi menimbulkan dilema antara kebutuhan pangan dan energi. Sementara itu, maggot BSF bukan sumber pangan dan juga dapat dimanfaatkan untuk mengonversi sampah organik,” ujar Revaldo.

Selain persoalan lahan, kandungan minyak pada maggot BSF juga menjadi alasan penelitian ini dilakukan. Minyak maggot BSF didominasi asam laurat (C12:0), sedangkan minyak sawit lebih banyak mengandung asam oleat (C18:1). Rantai karbon asam laurat dinilai lebih sesuai dengan rentang hidrokarbon avtur sehingga berpotensi mengurangi kebutuhan proses cracking pada prosesnya.

“Karena rantai karbonnya gugus alkil sudah lebih sesuai dengan rentang avtur, proses pengolahannya berpotensi lebih sederhana dan dapat mengurangi kebutuhan energi dibandingkan bahan baku yang membutuhkan reaksi cracking lebih lanjut seperti sawit,” jelasnya.

Dalam penelitian ini, Revaldo menggunakan katalis berbasis molibdenum dan nikel dalam reaktor double batch furnace. Bahan dipanaskan hingga menjadi gas, kemudian dialirkan menuju batch berisi katalis untuk mengalami reaksi deoksigenasi. Produk selanjutnya dikondensasikan hingga menghasilkan bioavtur.

“Penelitian ini tentu masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Saya berharap peneliti dari berbagai disiplin ilmu dapat melanjutkan dan mengeksplorasi ide ini sehingga suatu saat tidak hanya berhenti pada skala penelitian, tetapi dapat dikembangkan menuju produksi skala industri dan benar-benar diaplikasikan di masyarakat,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar mencari alternatif bahan bakar pesawat, penelitian ini juga membawa persoalan yang lebih luas mengenai arah transisi energi. Peningkatan kebutuhan energi perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan pangan dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

“Transisi energi bukan hanya tentang mengganti bahan bakar fosil, tetapi juga bagaimana memenuhi kebutuhan energi tanpa mengorbankan kebutuhan pangan dan lingkungan,” pungkas Revaldo.

Penelitian ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau melalui pengembangan sumber bahan bakar alternatif untuk penerbangan. Pemanfaatan minyak maggot BSF juga selaras dengan SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab karena menghubungkan pengolahan sampah organik dengan pengembangan bahan baku energi. Di sisi lain, pengembangan bahan baku bioavtur yang tidak bergantung pada komoditas pangan dan membutuhkan lahan lebih sedikit ini sangat mendukung SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim melalui pengembangan sistem energi yang lebih berkelanjutan.

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Koordinasi Program Riset Biofuel Nyamplung, FMIPA UGM Jalin Kerja Sama dengan BRIN, PT Abe Indonesia Berjaya, dan PT DaFa Teknoagro Mandiri

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada melakukan kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional  (BRIN), PT Abe Indonesia Berjaya, dan PT DaFa Teknoagro Mandiri, melalui program Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Biofuel Nyamplung. Kegiatan dilakukan pada 28 Agustus 2026 pukul 08.00 WIB secara hybrid di Ruang Multimedia Departemen Kimia.

Dekan FMIPA UGM, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., turut hadir dan memberikan sambutan untuk membuka kegiatan koordinasi. Prof. Kuwat mengucapkan terima kasih atas kepercayaan mitra terhadap FMIPA UGM. “Mudah-mudahan kolaborasi ini bisa memberikan dampak berjangka panjang bagi seluruh pihak,” ujar Prof. Kuwat dalam sambutannya.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan arahan program PKR yang diberikan oleh Prof. Dr. Andes Hamuraby Rozak selaku kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, BRIN. Dalam pemaparannya, beliau memaparkan latar belakang serta arahan dari kegiatan PKR yang sedang dipersiapkan.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari ketiga mitra kolaborasi. Pemaparan pertama disampaikan oleh Ketua Tim PKR Biofuel Nyamplung dari BRIN dan UGM, Prof. Dra. Wega Trisunaryanti, M.S., Ph.D. Eng. Pemaparan selanjutnya disampaikan oleh Direktur Utama dari PT DaFa Teknoagro Mandiri, Ir. H. Nursyamsu Mahyuddin, M.Si. Serta pemaparan berikutnya diberikan oleh Direktur Utama dari PT ABE Indonesia Berjaya, Dr. Eko Fajar Nurprasetyo, M.Eng.

Kegiatan ditutup dengan penandatanganan Kerangka Acuan Kerja (KAK) Kerja sama antara ketiga mitra, serta diskusi mengenai rencana pelaksanaan program. Koordinasi mitra dan penandatanganan KAK oleh FMIPA UGM turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals nomor 4: Pendidikan Berkualitas. Juga nomor 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dengan melalui kolaborasi riset berkelanjutan dengan industri mitra.

Penulis: Sekar Melati Putri Pratiwi
Dokumentasi: Afiandina Sukma

Read More

Mahasiswa FMIPA UGM Kembangkan PolPay (Jempol Payment), Inovasi Pembayaran Digital Berbasis Biometrik Sidik Jari Tanpa Kartu dan Ponsel

Tim mahasiswa FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) tengah mengembangkan PolPay (Jempol Payment), sebuah inovasi sistem pembayaran digital berbasis biometrik sidik jari yang dirancang untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, dan efisiensi transaksi. Berbeda dengan sistem pembayaran konvensional, PolPay memungkinkan pengguna melakukan transaksi tanpa kartu maupun telepon genggam dengan memanfaatkan autentikasi biometrik. 

Pengembangan inovasi PolPay ini dilakukan melalui penelitian berjudul Alat Pembayaran Biometrik Terjangkau Berbasis Komputasi Tepi (PolPay) dengan Standar Enkripsi Lanjutan 256-Bit untuk Transaksi Terproteksi Privasi. Penelitian tersebut dikembangkan oleh lima mahasiswa UGM, yaitu Tiara Ramadhani (Ilmu Aktuaria 2025/FMIPA) selaku ketua tim, Al Farabi Obiansyah (Teknik Mesin 2025/FT), Marcelino Budi Prakasya (Ilmu Komputer 2025/FMIPA), Muhammad Fakhri Ghonim Setyanda (Elektronika dan Instrumentasi 2025/FMIPA), dan M. Rakhma Aifil Indira (Ilmu Aktuaria 2025/FMIPA), dengan Mokhammad Fajar Pradipta, S.Si., M.Eng. sebagai dosen pembimbing. 

Berbeda dengan sistem pembayaran konvensional yang bergantung pada kartu atau perangkat seluler, PolPay mengintegrasikan sensor sidik jari dengan perangkat Electronic Data Capture (EDC). Pengguna dapat melakukan autentikasi menggunakan sidik jari, sementara proses verifikasi dilakukan melalui sistem biometrik yang dikembangkan oleh tim.

Dalam pengembangannya, PolPay memanfaatkan teknologi edge computing untuk memproses data biometrik. Data kemudian dikirimkan ke server dalam bentuk terenkripsi menggunakan Advanced Encryption Standard 256-bit (AES-256) serta diamankan melalui protokol SSL/TLS. Pendekatan tersebut dirancang untuk meningkatkan perlindungan privasi pengguna, mengurangi latensi, serta meminimalkan risiko penyalahgunaan data biometrik.

Selain mengutamakan keamanan, PolPay dirancang sebagai alternatif sistem pembayaran biometrik yang lebih terjangkau dibandingkan teknologi sejenis yang umumnya membutuhkan infrastruktur dengan biaya tinggi. Dengan konsep tersebut, tim mengembangkan teknologi pembayaran yang tidak bergantung pada kepemilikan kartu maupun telepon genggam dalam proses transaksi. Saat ini, penelitian PolPay masih berada pada tahap pengembangan prototipe. Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan inovasi sebelum dilakukan pengujian dan pengembangan lebih lanjut.

Pengembangan PolPay juga mendukung arah transformasi digital nasional yang selaras dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 yang diinisiasi oleh Bank Indonesia. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan teknologi pembayaran digital yang mengutamakan keamanan sekaligus perlindungan privasi pengguna.

Secara keseluruhan, pengembangan PolPay berkontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan teknologi pembayaran digital yang inovatif dan inklusif, serta SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) dengan memperkuat keamanan siber dan perlindungan data dalam ekosistem transaksi digital. Inovasi ini menunjukkan bagaimana riset mahasiswa dapat menjadi bagian dari solusi teknologi yang relevan bagi kebutuhan masyarakat dan transformasi digital Indonesia. 

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

FMIPA UGM Jalin Kerja Sama dengan Griffith University, Perkuat Kolaborasi Akademik dan Riset

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat kerja sama akademik dengan Griffith University melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada 20 Juli 2026. Kerja sama tersebut kemudian dilanjutkan melalui kegiatan akademik yang menghadirkan Prof. Dr. Qin Li dari Griffith University sebagai pembicara dalam Chemistry Advanced Studies Exploration (CASE) #4 yang diselenggarakan oleh Departemen Kimia FMIPA UGM pada 24 Juli 2026.

Penandatanganan MoU menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan kelembagaan antara FMIPA UGM dan Griffith University. Kerja sama tersebut membuka ruang bagi pengembangan kolaborasi di bidang akademik dan riset antara kedua institusi.

Tidak berhenti pada kerja sama kelembagaan, hubungan akademik kedua institusi juga diwujudkan melalui kegiatan ilmiah yang melibatkan sivitas akademika. Departemen Kimia FMIPA UGM menghadirkan Prof. Dr. Qin Li dari Griffith University dalam kegiatan CASE #4 yang mengangkat topik Carbon Dots: Catalyzing the Future of Green Quantum Materials. 

Dalam kuliah tersebut, Prof. Qin Li membahas carbon dots dalam konteks pengembangan green quantum materials. Topik tersebut memperkenalkan perkembangan material berbasis carbon dots dan potensinya dalam mendukung pengembangan material yang lebih ramah lingkungan.

Kehadiran akademisi dari Griffith University dalam kegiatan CASE menjadi bagian dari penguatan interaksi akademik antara FMIPA UGM dan mitra internasional. Melalui forum ilmiah seperti ini, sivitas akademika dapat memperoleh wawasan mengenai perkembangan riset sekaligus membuka peluang pertukaran pengetahuan dengan peneliti dari institusi di luar negeri.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan upaya FMIPA UGM dalam memperluas jejaring internasional melalui kerja sama kelembagaan yang diikuti dengan kegiatan akademik. Kolaborasi dengan Griffith University diharapkan dapat menjadi ruang bagi pengembangan kerja sama pendidikan dan penelitian pada bidang-bidang yang relevan di masa mendatang.

Kerja sama FMIPA UGM dengan Griffith University turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi melalui kerja sama kelembagaan dan forum akademik internasional membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan, penguatan kapasitas akademik, serta pengembangan riset lintas institusi. Melalui kemitraan tersebut, FMIPA UGM terus memperluas akses sivitas akademika terhadap jejaring dan perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat global.

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Kisah Inspiratif Wangsa, Laboran Departemen Kimia FMIPA UGM Sukses Temukan Potensi Pemanfaatan Limbah Sarung Tangan Lateks menjadi Fraksi Bahan Bakar

“Sebagai laboran, saya melihat langsung limbah itu terus bertambah setiap hari.” Pernyataan tersebut disampaikan Wangsa, S.Si., M.Sc., teknisi Laboratorium Riset Kimia Fisika, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM), saat menceritakan awal mula penelitiannya yang memanfaatkan limbah sarung tangan lateks menjadi fraksi bahan bakar setara bensin.

Selain bertanggung jawab mengelola Laboratorium Riset Kimia Fisika, Departemen Kimia FMIPA UGM, Wangsa juga aktif melakukan penelitian yang berfokus pada pengembangan metode analisis serta perancangan peralatan laboratorium untuk mendukung kualitas penelitian dosen dan mahasiswa. Atas dedikasi dan kinerja yang ditunjukkan, ia memperoleh kesempatan melanjutkan studi Magister Kimia di FMIPA UGM melalui pendanaan penuh dari universitas. Pada jenjang tersebut, ia mengambil peminatan Kimia Fisika dengan fokus penelitian pada bidang limbah, energi, dan katalis.

Menurut Wangsa, inspirasi penelitian ini datang dari aktivitas sehari-hari di laboratorium. Sebagai laboran, ia melihat secara langsung tingginya penggunaan sarung tangan lateks sebagai alat pelindung diri (APD) dalam kegiatan praktikum maupun penelitian. Kondisi tersebut menghasilkan limbah dalam jumlah yang tidak sedikit. Di Departemen Kimia FMIPA UGM, limbah sarung tangan lateks dapat mencapai sekitar 200 kg setiap tahunnya.

Berangkat dari pengamatan tersebut, Wangsa mulai menelusuri potensi yang masih dimiliki limbah sarung tangan lateks. Menurutnya, material tersebut tersusun atas campuran karet alam dan karet sintetis yang didominasi senyawa isoprena, yakni hidrokarbon rantai panjang yang berpotensi dikonversi menjadi bahan bakar cair. Potensi inilah yang kemudian menjadi dasar pengembangan penelitiannya.

Melalui penelitian yang dilakukan, limbah sarung tangan lateks dikonversi menjadi fraksi bahan bakar setara bensin menggunakan kombinasi katalis berbasis logam dan teknologi microwave-assisted pyrolysis atau pirolisis berbantuan gelombang mikro. Menurut Wangsa, pendekatan tersebut mampu meningkatkan selektivitas produk terhadap fraksi bensin sekaligus membuat proses konversi menjadi lebih efisien dari sisi konsumsi energi.

Bagi Wangsa, penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk menjawab tantangan pengelolaan limbah sekaligus mendukung pengembangan teknologi energi berkelanjutan melalui pendekatan kimia yang lebih ramah lingkungan. Ia meyakini bahwa persoalan yang ditemui dalam aktivitas laboratorium dapat menjadi titik awal lahirnya solusi yang memberikan manfaat lebih luas.

Sebagai wujud kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan, penelitian yang dilakukan Wangsa sejalan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pengembangan sumber energi alternatif dari limbah, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan mendorong pemanfaatan kembali limbah laboratorium menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya mengurangi timbulan limbah dan mendukung pengembangan teknologi yang lebih efisien dalam pemanfaatan energi. Inovasi ini menunjukkan bahwa permasalahan yang muncul dari aktivitas laboratorium dapat diubah menjadi peluang untuk menghasilkan solusi berbasis sains yang memberikan manfaat bagi lingkungan, mendukung pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan, serta mendorong pengembangan energi alternatif di masa depan.

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Mahasiswa FMIPA UGM Kembangkan Fuel Booster dari Limbah Baterai Ni-MH melalui Pendekatan Ekonomi Sirkular

Limbah baterai Nickel-Metal Hydride (Ni-MH) menjadi salah satu jenis limbah yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Di sisi lain, kebutuhan bahan bakar di sektor transportasi masih didominasi oleh energi fosil yang menghasilkan emisi gas buang. Berangkat dari dua tantangan tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diketuai mahasiswa Departemen Kimia FMIPA UGM mengembangkan inovasi pemanfaatan limbah baterai Ni-MH sebagai bahan baku pembuatan katalis untuk menghasilkan aditif bahan bakar diesel yang lebih ramah lingkungan.

Penelitian yang berjudul Transformasi Limbah Baterai Nikel-Logam Hidrida Menjadi Katalis Ni/Karbon Aktif untuk Aditif Solar Berbasis Butanol mengusung konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan kembali logam nikel dari baterai bekas menjadi material yang memiliki nilai tambah.

Ketua tim, Fidel Faj’ri, menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada pemanfaatan nikel hasil daur ulang limbah baterai sebagai komponen utama dalam pengembangan katalis. Katalis tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan senyawa yang berpotensi digunakan sebagai fuel booster atau aditif pada bahan bakar solar. Selanjutnya, produk yang diperoleh dievaluasi melalui berbagai pengujian guna mengetahui karakteristik dan potensi penerapannya sebagai aditif bahan bakar.

Tim PKM ini terdiri atas Fidel Faj’ri (Kimia FMIPA 2024) sebagai ketua, Arashi Yuko Naeri (Kimia FMIPA 2024), Olga Fitriyaningtyas (Kimia FMIPA  2024), Jingga Rohmaningsih (Teknik Kimia FT 2024) serta Arghia Kalulla (Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian FTP 2025). Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi kekuatan tim dalam mengembangkan solusi inovatif yang menghubungkan aspek material, energi, dan keberlanjutan.

Penelitian ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pengembangan aditif bahan bakar yang berpotensi meningkatkan efisiensi pembakaran, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui inovasi pemanfaatan material hasil daur ulang menjadi katalis bernilai tambah, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan menerapkan prinsip circular economy dalam pengelolaan limbah baterai, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) karena penelitian ini ditujukan untuk mendukung upaya pengurangan dampak lingkungan dari limbah dan emisi sektor transportasi.

Penulis: Inna Mutifah
>Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

FMIPA UGM Terima Kunjungan Direktorat Kemitraan dan Relasi Global, Perkuat Tata Kelola Kerja Sama Internasional

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan dari Direktorat Kemitraan dan Relasi Global pada hari Selasa (7/7). Kunjungan ini menjadi forum diskusi dan evaluasi untuk memperkuat koordinasi antara fakultas dan direktorat dalam pengelolaan kerja sama, baik di tingkat nasional maupun internasional. 

Dalam pertemuan tersebut, turut dibahas mengenai pemetaan dan evaluasi mitra kerja sama yang telah dimiliki FMIPA UGM, baik mitra dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, dibahas pula penguatan tata kelola administrasi seluruh kegiatan kerja sama, khususnya yang melibatkan mitra internasional, agar setiap pelaksanaan program terdokumentasi dengan baik dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Aspek lain yang turut menjadi perhatian adalah pengelolaan administrasi mahasiswa yang mengikuti berbagai program internasional, seperti program double degree di luar negeri, penerima beasiswa LPDP yang menjalani studi internasional, serta mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di FMIPA UGM. Melalui koordinasi ini, diharapkan proses administrasi dan layanan internasional di lingkungan FMIPA UGM dapat berjalan semakin efektif, terintegrasi, dan mampu mendukung peningkatan jejaring akademik global.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen FMIPA UGM dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan layanan dan tata kelola program pendidikan internasional, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat kolaborasi antara fakultas, universitas, dan berbagai mitra di tingkat nasional maupun global. Penguatan tata kelola kerja sama diharapkan dapat menciptakan ekosistem kolaborasi yang lebih efektif, transparan, dan berkelanjutan untuk mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi di tingkat internasional.

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

FMIPA UGM dan Management University Kamboja Teken MoU untuk Perkuat Kerja Sama Akademik dan Riset

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan delegasi Management University, Kamboja, pada Rabu (25/6). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang menandai komitmen kedua institusi dalam memperkuat kemitraan di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan akademik.

Kegiatan yang berlangsung di Fakultas MIPA UGM ini dihadiri oleh Dekan FMIPA UGM, Prof. Dr.Eng. Kuwat Triyana, M.Si., Wakil Dekan Bidang Alumni, Kerjasama, dan Inovasi, Prof. Fajar Adi Kusumo, Daniel Oscar Baskoro selaku ketua Kamipagama, serta perwakilan dari sejumlah departemen di FMIPA UGM, yakni Danang Teguh Qoyyimi, S.Si., M.Sc., Ph.D. dari Departemen Matematika, Prof. Dr.rer.nat Nurul Hidayat Aprilita, S.Si., M.Si. dari Departemen Kimia, dan Dr. rer. nat. Herlan Darmawan, M.Sc. dari Departemen Fisika. 

Dalam kesempatan tersebut, masing-masing departemen memperkenalkan bidang keunggulan, fokus pendidikan, serta aktivitas penelitian yang dikembangkan di FMIPA UGM. Paparan tersebut memberikan gambaran mengenai kapasitas dan potensi yang dimiliki FMIPA UGM untuk mendukung berbagai program kemitraan internasional.

Ketua Departemen Matematika, Danang Teguh Qoyyimi, S.Si., M.Sc., Ph.D., turut memaparkan sejumlah bidang kepakaran yang dikembangkan di Departemen Matematika, termasuk matematika finansial, asuransi, dan manajemen risiko. Berbagai bidang tersebut dinilai memiliki relevansi yang kuat dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis data, pengelolaan risiko, serta pengembangan sektor keuangan dan layanan publik.

“Selain memperkuat aspek teoretis, kami juga mengembangkan berbagai bidang terapan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri. Dalam pengembangan tersebut, kami menjalin kolaborasi dengan berbagai fakultas di UGM, termasuk Fakultas Ekonomika dan Bisnis serta Fakultas Hukum. Pendekatan multidisiplin ini membuka banyak peluang untuk membangun kerja sama yang lebih luas dengan berbagai mitra, baik di tingkat nasional maupun internasional,” jelas Danang.

Dalam sesi diskusi, kedua institusi turut membahas berbagai peluang yang dapat dikembangkan pada masa mendatang, mulai dari penelitian bersama, pertukaran akademik, hingga penyelenggaraan program pendidikan. Berbagai bidang yang memiliki irisan dengan fokus keilmuan Management University turut menjadi bagian dari pembahasan sebagai potensi pengembangan program bersama di masa depan.

Delegasi Management University menyambut baik berbagai peluang tersebut dan berharap kemitraan yang terjalin dapat memberikan manfaat bagi kedua institusi. Melalui penandatanganan MoU ini, FMIPA UGM dan Management University Kamboja diharapkan dapat memperluas jejaring internasional serta mendorong lahirnya berbagai inovasi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat global.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kerja sama akademik dan pertukaran pengetahuan antarperguruan tinggi lintas negara. Selain itu, kolaborasi dalam bidang penelitian dan pengembangan inovasi berkontribusi pada SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dengan mendorong terciptanya riset yang relevan terhadap tantangan global. Kemitraan antara FMIPA UGM dan Management University Kamboja juga mencerminkan implementasi SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui pembangunan jejaring internasional yang mendukung pengembangan pendidikan tinggi, penelitian, dan kapasitas sumber daya manusia secara berkelanjutan.

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More
Translate