Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Mahasiswa Kimia FMIPA UGM Berhasil Teliti Pengembangan Minyak Maggot BSF sebagai Bahan Baku Bioavtur Pengganti Sawit, Dukung Ketahanan Energi dan Pangan

Revaldo Anugerah Putra Pradana, mahasiswa pascasarjana Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil mengembangkan potensi minyak maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai bahan baku bioavtur untuk pesawat. Inovasi ini menawarkan alternatif sumber energi yang tidak berkompetisi langsung dengan kebutuhan pangan, membutuhkan lahan lebih sedikit dibandingkan kelapa sawit, sekaligus memanfaatkan maggot sebagai pengolah sampah organik. Kandungan asam laurat yang dominan pada minyak maggot BSF juga dinilai berpotensi membuat proses pengolahannya menjadi bioavtur lebih efisien.

Kondisi terkini menunjukkan marak terjadinya konversi hutan menjadi kebun sawit di Indonesia, salah satu indikator adalah bencana kabut asap di Kalimantan dan Sumatera. Hal ini akan semakin parah jika  kebutuhan energi terbarukan bergantung pada sawit pada masa mendatang. Secara sudut pandang ilmu ekonomi, konversi sawit menjadi energi akan meningkatkan jumlah permintaan sehingga kebutuhan pangan berbahan dasar sawit seperti minyak goreng akan berpotensi lebih mahal. Lebih lanjut, peran maggot BSF sebagai pengonsumsi sampah organik juga berpotensi untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Indonesia jika dilakukan pengembangan yang lebih optimal. “Penggunaan sawit sebagai bahan baku energi berpotensi menimbulkan dilema antara kebutuhan pangan dan energi. Sementara itu, maggot BSF bukan sumber pangan dan juga dapat dimanfaatkan untuk mengonversi sampah organik,” ujar Revaldo.

Selain persoalan lahan, kandungan minyak pada maggot BSF juga menjadi alasan penelitian ini dilakukan. Minyak maggot BSF didominasi asam laurat (C12:0), sedangkan minyak sawit lebih banyak mengandung asam oleat (C18:1). Rantai karbon asam laurat dinilai lebih sesuai dengan rentang hidrokarbon avtur sehingga berpotensi mengurangi kebutuhan proses cracking pada prosesnya.

“Karena rantai karbonnya gugus alkil sudah lebih sesuai dengan rentang avtur, proses pengolahannya berpotensi lebih sederhana dan dapat mengurangi kebutuhan energi dibandingkan bahan baku yang membutuhkan reaksi cracking lebih lanjut seperti sawit,” jelasnya.

Dalam penelitian ini, Revaldo menggunakan katalis berbasis molibdenum dan nikel dalam reaktor double batch furnace. Bahan dipanaskan hingga menjadi gas, kemudian dialirkan menuju batch berisi katalis untuk mengalami reaksi deoksigenasi. Produk selanjutnya dikondensasikan hingga menghasilkan bioavtur.

“Penelitian ini tentu masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Saya berharap peneliti dari berbagai disiplin ilmu dapat melanjutkan dan mengeksplorasi ide ini sehingga suatu saat tidak hanya berhenti pada skala penelitian, tetapi dapat dikembangkan menuju produksi skala industri dan benar-benar diaplikasikan di masyarakat,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar mencari alternatif bahan bakar pesawat, penelitian ini juga membawa persoalan yang lebih luas mengenai arah transisi energi. Peningkatan kebutuhan energi perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan pangan dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

“Transisi energi bukan hanya tentang mengganti bahan bakar fosil, tetapi juga bagaimana memenuhi kebutuhan energi tanpa mengorbankan kebutuhan pangan dan lingkungan,” pungkas Revaldo.

Penelitian ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau melalui pengembangan sumber bahan bakar alternatif untuk penerbangan. Pemanfaatan minyak maggot BSF juga selaras dengan SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab karena menghubungkan pengolahan sampah organik dengan pengembangan bahan baku energi. Di sisi lain, pengembangan bahan baku bioavtur yang tidak bergantung pada komoditas pangan dan membutuhkan lahan lebih sedikit ini sangat mendukung SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim melalui pengembangan sistem energi yang lebih berkelanjutan.

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Translate