Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim

Kisah Inspiratif Wangsa, Laboran Departemen Kimia FMIPA UGM Sukses Temukan Potensi Pemanfaatan Limbah Sarung Tangan Lateks menjadi Fraksi Bahan Bakar

“Sebagai laboran, saya melihat langsung limbah itu terus bertambah setiap hari.” Pernyataan tersebut disampaikan Wangsa, S.Si., M.Sc., teknisi Laboratorium Riset Kimia Fisika, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM), saat menceritakan awal mula penelitiannya yang memanfaatkan limbah sarung tangan lateks menjadi fraksi bahan bakar setara bensin.

Selain bertanggung jawab mengelola Laboratorium Riset Kimia Fisika, Departemen Kimia FMIPA UGM, Wangsa juga aktif melakukan penelitian yang berfokus pada pengembangan metode analisis serta perancangan peralatan laboratorium untuk mendukung kualitas penelitian dosen dan mahasiswa. Atas dedikasi dan kinerja yang ditunjukkan, ia memperoleh kesempatan melanjutkan studi Magister Kimia di FMIPA UGM melalui pendanaan penuh dari universitas. Pada jenjang tersebut, ia mengambil peminatan Kimia Fisika dengan fokus penelitian pada bidang limbah, energi, dan katalis.

Menurut Wangsa, inspirasi penelitian ini datang dari aktivitas sehari-hari di laboratorium. Sebagai laboran, ia melihat secara langsung tingginya penggunaan sarung tangan lateks sebagai alat pelindung diri (APD) dalam kegiatan praktikum maupun penelitian. Kondisi tersebut menghasilkan limbah dalam jumlah yang tidak sedikit. Di Departemen Kimia FMIPA UGM, limbah sarung tangan lateks dapat mencapai sekitar 200 kg setiap tahunnya.

Berangkat dari pengamatan tersebut, Wangsa mulai menelusuri potensi yang masih dimiliki limbah sarung tangan lateks. Menurutnya, material tersebut tersusun atas campuran karet alam dan karet sintetis yang didominasi senyawa isoprena, yakni hidrokarbon rantai panjang yang berpotensi dikonversi menjadi bahan bakar cair. Potensi inilah yang kemudian menjadi dasar pengembangan penelitiannya.

Melalui penelitian yang dilakukan, limbah sarung tangan lateks dikonversi menjadi fraksi bahan bakar setara bensin menggunakan kombinasi katalis berbasis logam dan teknologi microwave-assisted pyrolysis atau pirolisis berbantuan gelombang mikro. Menurut Wangsa, pendekatan tersebut mampu meningkatkan selektivitas produk terhadap fraksi bensin sekaligus membuat proses konversi menjadi lebih efisien dari sisi konsumsi energi.

Bagi Wangsa, penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk menjawab tantangan pengelolaan limbah sekaligus mendukung pengembangan teknologi energi berkelanjutan melalui pendekatan kimia yang lebih ramah lingkungan. Ia meyakini bahwa persoalan yang ditemui dalam aktivitas laboratorium dapat menjadi titik awal lahirnya solusi yang memberikan manfaat lebih luas.

Sebagai wujud kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan, penelitian yang dilakukan Wangsa sejalan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pengembangan sumber energi alternatif dari limbah, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan mendorong pemanfaatan kembali limbah laboratorium menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya mengurangi timbulan limbah dan mendukung pengembangan teknologi yang lebih efisien dalam pemanfaatan energi. Inovasi ini menunjukkan bahwa permasalahan yang muncul dari aktivitas laboratorium dapat diubah menjadi peluang untuk menghasilkan solusi berbasis sains yang memberikan manfaat bagi lingkungan, mendukung pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan, serta mendorong pengembangan energi alternatif di masa depan.

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Mahasiswa FMIPA UGM Kembangkan Fuel Booster dari Limbah Baterai Ni-MH melalui Pendekatan Ekonomi Sirkular

Limbah baterai Nickel-Metal Hydride (Ni-MH) menjadi salah satu jenis limbah yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Di sisi lain, kebutuhan bahan bakar di sektor transportasi masih didominasi oleh energi fosil yang menghasilkan emisi gas buang. Berangkat dari dua tantangan tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diketuai mahasiswa Departemen Kimia FMIPA UGM mengembangkan inovasi pemanfaatan limbah baterai Ni-MH sebagai bahan baku pembuatan katalis untuk menghasilkan aditif bahan bakar diesel yang lebih ramah lingkungan.

Penelitian yang berjudul Transformasi Limbah Baterai Nikel-Logam Hidrida Menjadi Katalis Ni/Karbon Aktif untuk Aditif Solar Berbasis Butanol mengusung konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan kembali logam nikel dari baterai bekas menjadi material yang memiliki nilai tambah.

Ketua tim, Fidel Faj’ri, menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada pemanfaatan nikel hasil daur ulang limbah baterai sebagai komponen utama dalam pengembangan katalis. Katalis tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan senyawa yang berpotensi digunakan sebagai fuel booster atau aditif pada bahan bakar solar. Selanjutnya, produk yang diperoleh dievaluasi melalui berbagai pengujian guna mengetahui karakteristik dan potensi penerapannya sebagai aditif bahan bakar.

Tim PKM ini terdiri atas Fidel Faj’ri (Kimia FMIPA 2024) sebagai ketua, Arashi Yuko Naeri (Kimia FMIPA 2024), Olga Fitriyaningtyas (Kimia FMIPA  2024), Jingga Rohmaningsih (Teknik Kimia FT 2024) serta Arghia Kalulla (Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian FTP 2025). Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi kekuatan tim dalam mengembangkan solusi inovatif yang menghubungkan aspek material, energi, dan keberlanjutan.

Penelitian ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pengembangan aditif bahan bakar yang berpotensi meningkatkan efisiensi pembakaran, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui inovasi pemanfaatan material hasil daur ulang menjadi katalis bernilai tambah, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan menerapkan prinsip circular economy dalam pengelolaan limbah baterai, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) karena penelitian ini ditujukan untuk mendukung upaya pengurangan dampak lingkungan dari limbah dan emisi sektor transportasi.

Penulis: Inna Mutifah
>Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

FMIPA UGM Hadirkan Sains yang Membumi : Laboratorium Kimia Organik Inspirasi Guru dan Siswa Kediri melalui Inovasi Pemanfaatan Bahan Alam Indonesia

Pengabdian kepada Masyarakat Dorong Literasi Sains, Kimia Hijau, dan Lahirnya Generasi Saintis Masa Depan

Kediri – Komitmen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM) dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak nyata bagi masyarakat kembali diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia FMIPA UGM bertajuk “Workshop Peningkatan Kapasitas Guru dan Siswa SMA: Bahan Alam Asli Indonesia, Manfaat dan Sumber Belajar Tanpa Batas” yang diselenggarakan pada Jumat, 26 Juni 2026 di SMA Negeri 1 Kediri. Kegiatan ini diikuti oleh 50 guru Kimia anggota MGMP Kabupaten dan Kota Kediri serta 100 siswa SMA dari berbagai sekolah di wilayah Kediri.

Acara dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Adi Prayitno, S.Pd., M.M., didampingi Kepala Laboratorium Kimia Organik Departemen Kimia FMIPA UGM, Dr. Endang Astuti, M.Si., serta dihadiri para dosen dan peneliti Departemen Kimia FMIPA UGM. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sekolah ini menjadi wujud nyata sinergi dalam meningkatkan kualitas pendidikan sains di Indonesia.

Menghubungkan Riset Kampus dengan Ruang Kelas

Mengusung semangat pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia sebagai sumber belajar, workshop menghadirkan empat materi utama yang disampaikan oleh para pakar Departemen Kimia FMIPA UGM.

Sesi pertama dibawakan oleh Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, M.Si., Ph.D. mengenai implementasi Kimia Hijau (Green Chemistry) dalam pembelajaran SMA. Peserta diajak memahami bagaimana prinsip-prinsip kimia dapat diterapkan secara aman, efisien, dan ramah lingkungan.

Selanjutnya, Prof. Drs. Jumina, Ph.D. memperkenalkan potensi pewarna alami Indonesia sebagai media pembelajaran sekaligus produk bernilai tambah. Materi dilanjutkan oleh Prof. Drs. Bambang Purwono, M.Sc., Ph.D. yang menjelaskan inovasi pemanfaatan zat warna alami sebagai chemosensor untuk mendeteksi perubahan pH dan berbagai parameter kimia lainnya.

Pada sesi berikutnya, Respati Tri Swasono, S.Si., M.Phil., Ph.D. memperkenalkan konsep dasar minyak atsiri, teknik ekstraksi sederhana, serta berbagai peluang implementasinya sebagai bahan praktikum kimia yang mudah diterapkan di sekolah.

Sebagai puncak kegiatan, peserta mengikuti praktikum interaktif yang dipandu oleh Dr. M. Idham Darussalam, S.Si., M.Sc. bersama Dr. Sc. Robby Noor Cahyono, M.Sc. Guru dan siswa mempraktikkan pembuatan parfum berbasis minyak atsiri, eksplorasi indikator pH dari bahan alam, hingga berbagai eksperimen sederhana yang dapat direplikasi menggunakan peralatan laboratorium sekolah.

Menginspirasi Generasi Saintis Masa Depan

Tidak hanya untuk guru, Departemen Kimia FMIPA UGM juga menghadirkan rangkaian kegiatan khusus bagi siswa melalui program “Fun Chemistry, Campus Sharing, and Future Scientist Inspiration.”

Siswa memperoleh wawasan mengenai kehidupan kampus, program studi di FMIPA UGM, prospek karier lulusan, hingga strategi sukses memasuki perguruan tinggi melalui sesi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Winarto Haryadi dan Sugeng Triono, M.Si.

Salah satu sesi yang paling dinantikan adalah Fun Chemistry yang dipandu oleh Dr. Deni Pranowo, M.Si. Melalui pendekatan experiential learning, siswa mengikuti demonstrasi reaksi kimia sederhana, memanfaatkan zat warna alami sebagai indikator pH, serta membuat lilin aromaterapi dari bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kimia bukan sekadar kumpulan rumus, melainkan ilmu yang relevan dan menyenangkan.

“Melalui program ini kami ingin memperkenalkan dunia kimia dengan cara yang lebih menarik. Kami berharap siswa semakin termotivasi untuk mencintai sains, mengenal kehidupan kampus, dan memiliki cita-cita menjadi ilmuwan di masa depan,” ujar Dr. Deni Pranowo, M.Si., Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM.

Senada dengan hal tersebut, Sudjiono, S.Pd., M.Pd., Pembina MGMP Kimia Kabupaten dan Kota Kediri, menyampaikan apresiasinya.

“Kehadiran para dosen dan peneliti dari UGM menjadi motivasi tersendiri bagi guru maupun siswa. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut sehingga kualitas pembelajaran kimia di sekolah semakin meningkat dan semakin banyak siswa yang tertarik menekuni dunia sains.”

Antusiasme peserta pun sangat tinggi. Julita Sulistya Eka dari SMA Negeri 1 Kediri mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut mengubah pandangannya terhadap kimia yang selama ini dianggap sulit menjadi ilmu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Yemima Brenda Chrissia dari SMA Negeri 1 Pare berharap pengalaman tersebut menjadi langkah awal untuk mewujudkan cita-citanya melanjutkan studi di UGM.

Kontribusi Nyata terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

Program pengabdian ini menjadi implementasi nyata komitmen FMIPA UGM dalam mendukung SDGs 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui peningkatan kompetensi guru, penguatan literasi sains, serta pembelajaran berbasis pengalaman.

Lebih jauh, pengenalan konsep Green Chemistry dan pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia juga mendukung SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, dengan mendorong penggunaan bahan alam yang aman dan berkelanjutan, serta SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim, melalui edukasi mengenai praktik kimia yang lebih ramah lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, FMIPA UGM menunjukkan bahwa sains tidak hanya berkembang di laboratorium, tetapi juga menjadi solusi nyata bagi pendidikan, lingkungan, dan pembangunan masyarakat.

Memperkuat Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045

Kegiatan ini menegaskan peran Departemen Kimia FMIPA UGM sebagai institusi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga aktif mentransformasikan hasil riset menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Bagi para alumni, capaian ini menjadi kebanggaan bahwa almamater terus memperluas dampaknya di tingkat nasional. Bagi mitra, kegiatan ini membuka peluang kolaborasi strategis dalam pengembangan pendidikan berbasis riset. Sementara bagi calon mahasiswa, atmosfer akademik yang inovatif dan aplikatif menjadi gambaran nyata pengalaman belajar di FMIPA UGM.

Ke depan, Laboratorium Kimia Organik Departemen Kimia FMIPA UGM berkomitmen untuk terus memperluas jejaring kemitraan dengan sekolah, pemerintah daerah, industri, dan masyarakat sehingga inovasi berbasis sains dapat semakin berkontribusi dalam membangun sumber daya manusia unggul dan mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Penulis: Deni Pranowo
Editor: Robby
Fotografer: Harno DP, Robby NC

Read More

Prof. Keiichi Tomishige Hadir di CASE #3 Departemen Kimia FMIPA UGM, Paparkan Inovasi Katalisis dan Katalis Heterogen untuk Proses Kimia Berkelanjutan

Prof. Keiichi Tomishige dari Tohoku University, Jepang, hadir sebagai pembicara dalam kegiatan Chemistry Advanced Studies & Exploration (CASE) #3 yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Pascasarjana Kimia (KMPK) Departemen Kimia FMIPA UGM pada Kamis (18/6).

Kegiatan ini berlangsung secara luring di Auditorium Herman Johannes FMIPA UGM dan secara online melalui Zoom Meeting. Seminar yang berlangsung pukul 13.00–15.30 WIB tersebut dihadiri oleh dosen, mahasiswa Kimia UGM, serta peserta dari berbagai institusi eksternal.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Tomishige memaparkan berbagai inovasi dalam bidang katalisis dan katalis heterogen yang berfokus pada pengembangan proses kimia berkelanjutan melalui pemanfaatan biomassa dan karbon dioksida (CO₂) sebagai bahan baku alternatif.

Mengangkat tema Development of Heterogeneous Catalyst for Reductive Conversion of Biomass and Non-Reductive Conversion of CO₂, acara ini dipandu oleh Gavriel Hagai Paulus Sumlang, S.Si., M.Sc. sebagai master of ceremony (MC) dan dimoderatori oleh Prof. Dr. rer. nat. Nuryono, M.S.

Seminar dibuka dengan sambutan dari Ketua Departemen Kimia FMIPA UGM, Prof. Dr.rer.nat. Nurul Hidayat Aprilita, M.Si., sebelum dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi oleh Prof. Keiichi Tomishige.

Dalam pemaparannya, Prof. Tomishige menjelaskan berbagai inovasi dalam pengembangan proses kimia ramah lingkungan melalui pemanfaatan biomassa dan karbon dioksida (CO₂) sebagai bahan baku alternatif. Pendekatan ini bertujuan mengurangi ketergantungan industri terhadap sumber daya fosil sekaligus mendukung upaya penurunan emisi karbon.

Salah satu topik yang dibahas adalah konversi biomassa menjadi bahan kimia bernilai tinggi menggunakan katalis padat. Menurutnya, kandungan oksigen yang tinggi pada biomassa menjadi tantangan utama dalam proses pengolahannya. Untuk mengatasinya, Prof. Tomishige menawarkan metode hydrodeoxygenation dan deoxydehydration yang memungkinkan penghilangan oksigen secara selektif tanpa merusak kerangka karbon.

Selain konversi biomassa, seminar ini juga turut menyoroti pemanfaatan CO₂ sebagai sumber karbon untuk menghasilkan berbagai produk industri. Melalui pengembangan katalis yang inovatif, CO₂ dapat direaksikan dengan alkohol maupun amina untuk menghasilkan senyawa bernilai tambah tanpa menggunakan reagen beracun yang umum ditemukan pada proses konvensional.

Prof. Tomishige juga memperkenalkan teknologi yang memungkinkan pemanfaatan langsung CO₂ hasil proses penangkapan karbon. Pendekatan ini dinilai mampu mengintegrasikan proses penangkapan dan pemanfaatan CO₂ dalam satu sistem yang lebih sederhana dan hemat energi.

Ketua KMPK, Mohammad Ahsani Taqwim, S.Si., menyampaikan harapannya agar kegiatan CASE dapat terus disinergikan dengan berbagai mitra eksternal. Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk memperluas wawasan mahasiswa terhadap perkembangan ilmu kimia sekaligus membuka peluang membangun jejaring akademik dan profesional yang lebih luas.

Inovasi yang dipaparkan Prof. Tomishige menunjukkan bagaimana penelitian di bidang kimia dapat berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan global, mulai dari pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil hingga pemanfaatan emisi karbon menjadi produk yang bernilai guna. Sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi kimia yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.

Penulis : Inna Mutifah
Editor : Meitha Eka Nur Khasanah
Fotografer : Daffa Athatara

Read More

Mahasiswa Fisika UGM Raih Medali Perunggu pada International Student Competition (ISC) di Malaysia

Mahasiswa Program Studi Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Dalam ajang International Student Competition (ISC) 2026 yang diselenggarakan pada 14–15 Februari 2026 di Universiti Putra Malaysia (UPM), tim mahasiswa Fisika UGM berhasil meraih medali perunggu melalui karya inovatif di bidang teknologi.

Kompetisi yang diikuti peserta dari berbagai negara tersebut diawali dengan tahap seleksi esai. Para finalis kemudian mempresentasikan gagasannya secara langsung melalui sesi presentasi dan pameran poster di Malaysia.

Pada kompetisi ini, tim yang beranggotakan Amalia Nurin Al Fath dan Meitha Eka Nurhasanah mengangkat gagasan pemanfaatan nanopartikel magnetik yang berasal dari limbah pertanian untuk mendukung teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Inovasi tersebut menawarkan pendekatan yang menggabungkan pengurangan emisi karbon dengan pemanfaatan limbah pertanian bernilai rendah menjadi material yang memiliki potensi aplikasi teknologi.

Amalia selaku ketua tim menjelaskan bahwa proses penyusunan esai dilakukan dengan mengikuti perkembangan riset terbaru yang relevan dengan topik yang diangkat. Setelah lolos ke tahap final, fokus persiapan beralih pada penyusunan materi presentasi yang lebih ringkas dan mudah dipahami, sekaligus menonjolkan aspek kebaruan dari gagasan yang ditawarkan.

“Untuk tahap esai, kami banyak mengikuti perkembangan riset terbaru yang berkaitan dengan topik ini. Sementara untuk presentasi, kami berusaha mem-breakdown poin-poin penting dan menjelaskan novelty dari gagasan kami dengan lebih jelas agar dapat dipahami oleh dewan juri,” ujar Amalia.

Di balik capaian tersebut, tim juga menghadapi sejumlah tantangan sebelum keberangkatan. Mulai dari kebutuhan pendanaan, pengurusan dokumen perjalanan, hingga perencanaan rute dan transportasi selama berada di Malaysia.

“Tantangan terbesar sebelum berangkat adalah mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis perjalanan. Kami harus mengajukan pendanaan, mengurus paspor, serta mencari informasi mengenai rute dan transportasi yang akan digunakan selama di sana,” ungkapnya.

Selain tantangan teknis, pengalaman mengikuti kompetisi internasional juga memberikan pembelajaran tersendiri dalam beradaptasi di lingkungan baru.

“Karena ini pengalaman pertama saya ke luar negeri, saya justru lebih merasa excited daripada khawatir. Yang penting peka terhadap petunjuk dan informasi yang ada, serta tidak takut bertanya ketika tidak tahu,” katanya.

Terkait kemampuan berbahasa Inggris, Amalia mengaku masih terus belajar, terutama untuk kebutuhan presentasi formal di forum internasional.

“Saya masih terus belajar agar kemampuan bahasa Inggris saya semakin baik, khususnya untuk presentasi formal. Namun dalam percakapan sehari-hari, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa saling memahami dan menyampaikan pesan dengan baik,” ujarnya.

Amalia berharap pencapaian ini dapat mendorong mahasiswa lain untuk berani mencoba berbagai kesempatan yang ada.

“Coba dulu. Pasti ada jalan ketika kita memiliki keyakinan bahwa kita bisa,” pesannya.

Topik yang diangkat dalam kompetisi ini juga sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 yakni Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dan SDG 13 yaitu Penanganan Perubahan Iklim. Melalui pemanfaatan limbah pertanian sebagai material fungsional untuk teknologi penangkapan karbon, inovasi yang dikembangkan menunjukkan bagaimana riset sains dapat berkontribusi dalam mendorong inovasi berkelanjutan sekaligus mendukung upaya penanganan perubahan iklim.

Read More

Riset Kolaborasi Departemen Kimia FMIPA UGM dengan BRIN Hasilkan Terobosan Baru untuk Konversi CO₂ Jadi Bahan Baku Multifungsi

Publikasi terbaru hasil kolaborasi penelitian dari Departemen Kimia Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dimuat di Journal of  Materials Science (Mei 2026) menawarkan salah satu teknologi carbon capture and utilization (CCU). Tim ini mengembangkan katalis berbasis MOF UiO-66 yang dimodifikasi dengan nanopartikel perak yang mampu mengonversi CO₂ menjadi karbonat siklik, senyawa untuk bahan baku produksi polimer, baterai, dan produk farmasi. Hasil konversi mencapai 96,2% hanya dalam 24 jam, ini membuka peluang bagi proses industri kimia yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan.

Penelitian ini mendapat pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema Penelitian Tesis Magister tahun 2025.

Tim peneliti dengan sengaja menciptakan defek atau cacat struktural pada material penangkap CO₂. Defek yang sengaja dirancang ini justru menjadi tempat yang potensial untuk menempelkan partikel perak sebagai pemicu reaksi. Dengan rekayasa ini, material mampu menampung partikel perak hampir lima kali lebih banyak dibandingkan material biasa. Distribusinya juga lebih merata, sehingga reaksi berjalan lebih cepat dan stabil. Melalui pemodelan komputasi, tim peneliti mengonfirmasi bahwa nanopartikel perak terikat melalui dua mekanisme stabilisasi sekaligus, sehingga tidak mudah mengalami aglomerasi.

Katalis yang dihasilkan, diberi nama AgNP@UiO-66(D), mampu mengonversi CO₂ menjadi karbonat siklik dengan tingkat konversi mencapai 96,2% hanya dalam 24 jam pada kondisi reaksi ringan. Sebagai pembanding, material tanpa defek hanya mencapai 55,6% pada durasi uji yang sama.

Penelitian ini melibatkan mahasiswa dan dosen dari Departemen Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) yaitu Nabila Nur Agusti, Thariq Makkiyya, Indriana Kartini, dan Fajar Inggit Pambudi, serta Oka  Pradipta Arjasa peneliti dari Pusat Riset Material Maju BRIN. 

Riset ini selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Teknologi konversi CO₂ yang dikembangkan berpotensi mengurangi emisi karbon sekaligus memanfaatkan gas rumah kaca sebagai bahan baku bernilai tambah untuk industri kimia yang lebih berkelanjutan. Publikasi ini turut menambah daftar riset material maju yang dihasilkan oleh kolaborasi antar institusi di Indonesia. Temuan ini dapat menjadi inspirasi untuk mengeksplorasi topik-topik terkait kimia material, katalisis, dan teknologi ramah lingkungan. 

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

Kerja Sama FMIPA UGM dan NPO Volcano Jepang Perkuat Edukasi Mitigasi Bencana

Yogyakarta, 24 April 2026 — Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan perwakilan NPO Volcano Jepang dalam rangka penguatan kerja sama edukasi mitigasi kebencanaan. Kegiatan ini dihadiri Dekan FMIPA Prof. Dr. Eng Kuwat Triyana, M.Si., Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Kerja Sama, Dr.rer.nat. Wiwit Suryanto, S.Si., M.Si., Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Drs. Roto, M.Eng., Ph.D., Dr. Sudarmaji, S.Si., M.Si., serta jajaran Departemen Geofisika dan Fisika, termasuk Theodosius Marwan Irnaka, S.Si., M.Sc., Ph.D., dan Dr.rer.nat. Herlan Darmawan, S.Si., M.Sc.

Dalam sambutannya, Dekan FMIPA Kuwat Triyana menekankan pentingnya kolaborasi sosial dalam isu kebencanaan. Ia menyebut kegiatan ini sebagai langkah bermakna yang tidak hanya berhenti pada tataran akademik, tetapi juga menyentuh implementasi di lapangan.

“Kami membutuhkan kegiatan seperti ini, dan harapannya para staf juga dapat terlibat langsung dalam pengawalan di lapangan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kerja sama yang telah terjalin cukup lama diharapkan semakin kuat ke depan.

Perwakilan NPO Volcano, Kenzie Nihori, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini berawal dari percakapan sederhana sekitar satu dekade lalu. “Sepuluh tahun lalu hanya diskusi kasual bersama Pak Wiwit, tetapi kini benar-benar terwujud,” katanya.

Ia menilai perjalanan kolaborasi tersebut sebagai proses belajar bersama yang berkelanjutan. Nihori juga menyampaikan bahwa meskipun Jepang telah memiliki sistem mitigasi bencana yang maju, pemerintah setempat mendorong pembelajaran lintas negara. “Kami berharap dapat bertukar gagasan, masukan, dan budaya, sekaligus menjaga hubungan baik dengan FMIPA,” tambahnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama, yang menjadi puncak acara. Setelah itu, sesi diskusi dipandu oleh Theodorus Permana membahas agenda lanjutan di Desa Dukun, Kabupaten Magelang. Program tersebut akan berfokus pada sosialisasi mitigasi bencana bagi anak-anak dan guru, dengan pendekatan sederhana dan aplikatif.

Melalui kegiatan ini, tim berupaya menunjukkan bahwa edukasi mitigasi tidak harus kompleks, melainkan dapat disampaikan dengan cara yang mudah dipahami. Peserta didik yang terlibat nantinya akan mendapatkan pembelajaran sekaligus sertifikat sebagai duta mitigasi, dengan harapan mampu menumbuhkan kesadaran sejak dini. Semangat ini selaras dengan moto UGM, “locally rooted, globally respected”.

Inisiatif kolaboratif ini juga relevan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Developments Goals, SDGs), khususnya pada poin pendidikan berkualitas (SDG 4), kota dan permukiman berkelanjutan (SDG 11), serta penanganan perubahan iklim (SDG 13), melalui penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana secara inklusif dan berkelanjutan.

Penulis: Meitha Eka Nurhasanah
Dokumentasi: Daffa

Read More

Puncak Penghargaan dan Penutupan PARE Spring School 2026 Digelar di Kawasan Candi Prambanan

Menutup serangkaian kegiatan yang berlangsung selama 12 hari, agenda PARE Spring School 2026 menyelenggarakan sesi penghargaan sekaligus penutupan di kawasan Candi Prambanan pada 16 Februari 2026. Pada sesi ini, panitia memberikan penghargaan kepada peserta berdasarkan hasil final presentation serta partisipasi selama program berlangsung.

Sebelumnya, para peserta telah mengikuti berbagai rangkaian kegiatan akademik yang diselenggarakan di Departemen Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada, yang mencakup kuliah pakar lintas disiplin, kegiatan pengambilan sampel air di Sungai Code, analisis sampel di Laboratorium Kimia Analitik UGM, kunjungan ke instalasi pengelolaan air limbah di Bantul, diskusi kelompok dan mid-term presentation. Seluruh kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai isu lingkungan dan pertanian melalui pendekatan ilmiah dan kolaboratif lintas negara.

Dalam sambutannya, Prof. Drs. Roto, M.Eng., Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan FMIPA UGM menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh peserta, panitia, serta mitra institusi yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

Ia juga berharap program PARE Spring School dapat terus menjadi wadah kolaborasi internasional dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya terkait inovasi yang mendukung keberlanjutan di bidang lingkungan dan sumber daya alam.

Secara umum, kegiatan ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Melalui rangkaian kegiatan akademik, riset terapan, dan kolaborasi lintas negara yang dipusatkan di Universitas Gadjah Mada, program ini memperkuat kapasitas keilmuan peserta sekaligus mendorong inovasi berbasis sains yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Meitha Eka Nur Khasanah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Kisah Inspiratif Wangsa, Laboran Departemen Kimia FMIPA UGM Sukses Temukan Potensi Pemanfaatan Limbah Sarung Tangan Lateks menjadi Fraksi Bahan Bakar

“Sebagai laboran, saya melihat langsung limbah itu terus bertambah setiap hari.” Pernyataan tersebut disampaikan Wangsa, S.Si., M.Sc., teknisi Laboratorium Riset Kimia Fisika, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM), saat menceritakan awal mula penelitiannya yang memanfaatkan limbah sarung tangan lateks menjadi fraksi bahan bakar setara bensin.

Selain bertanggung jawab mengelola Laboratorium Riset Kimia Fisika, Departemen Kimia FMIPA UGM, Wangsa juga aktif melakukan penelitian yang berfokus pada pengembangan metode analisis serta perancangan peralatan laboratorium untuk mendukung kualitas penelitian dosen dan mahasiswa. Atas dedikasi dan kinerja yang ditunjukkan, ia memperoleh kesempatan melanjutkan studi Magister Kimia di FMIPA UGM melalui pendanaan penuh dari universitas. Pada jenjang tersebut, ia mengambil peminatan Kimia Fisika dengan fokus penelitian pada bidang limbah, energi, dan katalis.

Menurut Wangsa, inspirasi penelitian ini datang dari aktivitas sehari-hari di laboratorium. Sebagai laboran, ia melihat secara langsung tingginya penggunaan sarung tangan lateks sebagai alat pelindung diri (APD) dalam kegiatan praktikum maupun penelitian. Kondisi tersebut menghasilkan limbah dalam jumlah yang tidak sedikit. Di Departemen Kimia FMIPA UGM, limbah sarung tangan lateks dapat mencapai sekitar 200 kg setiap tahunnya.

Berangkat dari pengamatan tersebut, Wangsa mulai menelusuri potensi yang masih dimiliki limbah sarung tangan lateks. Menurutnya, material tersebut tersusun atas campuran karet alam dan karet sintetis yang didominasi senyawa isoprena, yakni hidrokarbon rantai panjang yang berpotensi dikonversi menjadi bahan bakar cair. Potensi inilah yang kemudian menjadi dasar pengembangan penelitiannya.

Melalui penelitian yang dilakukan, limbah sarung tangan lateks dikonversi menjadi fraksi bahan bakar setara bensin menggunakan kombinasi katalis berbasis logam dan teknologi microwave-assisted pyrolysis atau pirolisis berbantuan gelombang mikro. Menurut Wangsa, pendekatan tersebut mampu meningkatkan selektivitas produk terhadap fraksi bensin sekaligus membuat proses konversi menjadi lebih efisien dari sisi konsumsi energi.

Bagi Wangsa, penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk menjawab tantangan pengelolaan limbah sekaligus mendukung pengembangan teknologi energi berkelanjutan melalui pendekatan kimia yang lebih ramah lingkungan. Ia meyakini bahwa persoalan yang ditemui dalam aktivitas laboratorium dapat menjadi titik awal lahirnya solusi yang memberikan manfaat lebih luas.

Sebagai wujud kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan, penelitian yang dilakukan Wangsa sejalan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pengembangan sumber energi alternatif dari limbah, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan mendorong pemanfaatan kembali limbah laboratorium menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya mengurangi timbulan limbah dan mendukung pengembangan teknologi yang lebih efisien dalam pemanfaatan energi. Inovasi ini menunjukkan bahwa permasalahan yang muncul dari aktivitas laboratorium dapat diubah menjadi peluang untuk menghasilkan solusi berbasis sains yang memberikan manfaat bagi lingkungan, mendukung pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan, serta mendorong pengembangan energi alternatif di masa depan.

Penulis: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Mahasiswa FMIPA UGM Kembangkan Fuel Booster dari Limbah Baterai Ni-MH melalui Pendekatan Ekonomi Sirkular

Limbah baterai Nickel-Metal Hydride (Ni-MH) menjadi salah satu jenis limbah yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Di sisi lain, kebutuhan bahan bakar di sektor transportasi masih didominasi oleh energi fosil yang menghasilkan emisi gas buang. Berangkat dari dua tantangan tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diketuai mahasiswa Departemen Kimia FMIPA UGM mengembangkan inovasi pemanfaatan limbah baterai Ni-MH sebagai bahan baku pembuatan katalis untuk menghasilkan aditif bahan bakar diesel yang lebih ramah lingkungan.

Penelitian yang berjudul Transformasi Limbah Baterai Nikel-Logam Hidrida Menjadi Katalis Ni/Karbon Aktif untuk Aditif Solar Berbasis Butanol mengusung konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan kembali logam nikel dari baterai bekas menjadi material yang memiliki nilai tambah.

Ketua tim, Fidel Faj’ri, menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada pemanfaatan nikel hasil daur ulang limbah baterai sebagai komponen utama dalam pengembangan katalis. Katalis tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan senyawa yang berpotensi digunakan sebagai fuel booster atau aditif pada bahan bakar solar. Selanjutnya, produk yang diperoleh dievaluasi melalui berbagai pengujian guna mengetahui karakteristik dan potensi penerapannya sebagai aditif bahan bakar.

Tim PKM ini terdiri atas Fidel Faj’ri (Kimia FMIPA 2024) sebagai ketua, Arashi Yuko Naeri (Kimia FMIPA 2024), Olga Fitriyaningtyas (Kimia FMIPA  2024), Jingga Rohmaningsih (Teknik Kimia FT 2024) serta Arghia Kalulla (Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian FTP 2025). Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi kekuatan tim dalam mengembangkan solusi inovatif yang menghubungkan aspek material, energi, dan keberlanjutan.

Penelitian ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pengembangan aditif bahan bakar yang berpotensi meningkatkan efisiensi pembakaran, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui inovasi pemanfaatan material hasil daur ulang menjadi katalis bernilai tambah, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan menerapkan prinsip circular economy dalam pengelolaan limbah baterai, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) karena penelitian ini ditujukan untuk mendukung upaya pengurangan dampak lingkungan dari limbah dan emisi sektor transportasi.

Penulis: Inna Mutifah
>Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

FMIPA UGM Hadirkan Sains yang Membumi : Laboratorium Kimia Organik Inspirasi Guru dan Siswa Kediri melalui Inovasi Pemanfaatan Bahan Alam Indonesia

Pengabdian kepada Masyarakat Dorong Literasi Sains, Kimia Hijau, dan Lahirnya Generasi Saintis Masa Depan

Kediri – Komitmen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM) dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak nyata bagi masyarakat kembali diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia FMIPA UGM bertajuk “Workshop Peningkatan Kapasitas Guru dan Siswa SMA: Bahan Alam Asli Indonesia, Manfaat dan Sumber Belajar Tanpa Batas” yang diselenggarakan pada Jumat, 26 Juni 2026 di SMA Negeri 1 Kediri. Kegiatan ini diikuti oleh 50 guru Kimia anggota MGMP Kabupaten dan Kota Kediri serta 100 siswa SMA dari berbagai sekolah di wilayah Kediri.

Acara dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Adi Prayitno, S.Pd., M.M., didampingi Kepala Laboratorium Kimia Organik Departemen Kimia FMIPA UGM, Dr. Endang Astuti, M.Si., serta dihadiri para dosen dan peneliti Departemen Kimia FMIPA UGM. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sekolah ini menjadi wujud nyata sinergi dalam meningkatkan kualitas pendidikan sains di Indonesia.

Menghubungkan Riset Kampus dengan Ruang Kelas

Mengusung semangat pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia sebagai sumber belajar, workshop menghadirkan empat materi utama yang disampaikan oleh para pakar Departemen Kimia FMIPA UGM.

Sesi pertama dibawakan oleh Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, M.Si., Ph.D. mengenai implementasi Kimia Hijau (Green Chemistry) dalam pembelajaran SMA. Peserta diajak memahami bagaimana prinsip-prinsip kimia dapat diterapkan secara aman, efisien, dan ramah lingkungan.

Selanjutnya, Prof. Drs. Jumina, Ph.D. memperkenalkan potensi pewarna alami Indonesia sebagai media pembelajaran sekaligus produk bernilai tambah. Materi dilanjutkan oleh Prof. Drs. Bambang Purwono, M.Sc., Ph.D. yang menjelaskan inovasi pemanfaatan zat warna alami sebagai chemosensor untuk mendeteksi perubahan pH dan berbagai parameter kimia lainnya.

Pada sesi berikutnya, Respati Tri Swasono, S.Si., M.Phil., Ph.D. memperkenalkan konsep dasar minyak atsiri, teknik ekstraksi sederhana, serta berbagai peluang implementasinya sebagai bahan praktikum kimia yang mudah diterapkan di sekolah.

Sebagai puncak kegiatan, peserta mengikuti praktikum interaktif yang dipandu oleh Dr. M. Idham Darussalam, S.Si., M.Sc. bersama Dr. Sc. Robby Noor Cahyono, M.Sc. Guru dan siswa mempraktikkan pembuatan parfum berbasis minyak atsiri, eksplorasi indikator pH dari bahan alam, hingga berbagai eksperimen sederhana yang dapat direplikasi menggunakan peralatan laboratorium sekolah.

Menginspirasi Generasi Saintis Masa Depan

Tidak hanya untuk guru, Departemen Kimia FMIPA UGM juga menghadirkan rangkaian kegiatan khusus bagi siswa melalui program “Fun Chemistry, Campus Sharing, and Future Scientist Inspiration.”

Siswa memperoleh wawasan mengenai kehidupan kampus, program studi di FMIPA UGM, prospek karier lulusan, hingga strategi sukses memasuki perguruan tinggi melalui sesi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Winarto Haryadi dan Sugeng Triono, M.Si.

Salah satu sesi yang paling dinantikan adalah Fun Chemistry yang dipandu oleh Dr. Deni Pranowo, M.Si. Melalui pendekatan experiential learning, siswa mengikuti demonstrasi reaksi kimia sederhana, memanfaatkan zat warna alami sebagai indikator pH, serta membuat lilin aromaterapi dari bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kimia bukan sekadar kumpulan rumus, melainkan ilmu yang relevan dan menyenangkan.

“Melalui program ini kami ingin memperkenalkan dunia kimia dengan cara yang lebih menarik. Kami berharap siswa semakin termotivasi untuk mencintai sains, mengenal kehidupan kampus, dan memiliki cita-cita menjadi ilmuwan di masa depan,” ujar Dr. Deni Pranowo, M.Si., Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM.

Senada dengan hal tersebut, Sudjiono, S.Pd., M.Pd., Pembina MGMP Kimia Kabupaten dan Kota Kediri, menyampaikan apresiasinya.

“Kehadiran para dosen dan peneliti dari UGM menjadi motivasi tersendiri bagi guru maupun siswa. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut sehingga kualitas pembelajaran kimia di sekolah semakin meningkat dan semakin banyak siswa yang tertarik menekuni dunia sains.”

Antusiasme peserta pun sangat tinggi. Julita Sulistya Eka dari SMA Negeri 1 Kediri mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut mengubah pandangannya terhadap kimia yang selama ini dianggap sulit menjadi ilmu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Yemima Brenda Chrissia dari SMA Negeri 1 Pare berharap pengalaman tersebut menjadi langkah awal untuk mewujudkan cita-citanya melanjutkan studi di UGM.

Kontribusi Nyata terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

Program pengabdian ini menjadi implementasi nyata komitmen FMIPA UGM dalam mendukung SDGs 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui peningkatan kompetensi guru, penguatan literasi sains, serta pembelajaran berbasis pengalaman.

Lebih jauh, pengenalan konsep Green Chemistry dan pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia juga mendukung SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, dengan mendorong penggunaan bahan alam yang aman dan berkelanjutan, serta SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim, melalui edukasi mengenai praktik kimia yang lebih ramah lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, FMIPA UGM menunjukkan bahwa sains tidak hanya berkembang di laboratorium, tetapi juga menjadi solusi nyata bagi pendidikan, lingkungan, dan pembangunan masyarakat.

Memperkuat Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045

Kegiatan ini menegaskan peran Departemen Kimia FMIPA UGM sebagai institusi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga aktif mentransformasikan hasil riset menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Bagi para alumni, capaian ini menjadi kebanggaan bahwa almamater terus memperluas dampaknya di tingkat nasional. Bagi mitra, kegiatan ini membuka peluang kolaborasi strategis dalam pengembangan pendidikan berbasis riset. Sementara bagi calon mahasiswa, atmosfer akademik yang inovatif dan aplikatif menjadi gambaran nyata pengalaman belajar di FMIPA UGM.

Ke depan, Laboratorium Kimia Organik Departemen Kimia FMIPA UGM berkomitmen untuk terus memperluas jejaring kemitraan dengan sekolah, pemerintah daerah, industri, dan masyarakat sehingga inovasi berbasis sains dapat semakin berkontribusi dalam membangun sumber daya manusia unggul dan mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Penulis: Deni Pranowo
Editor: Robby
Fotografer: Harno DP, Robby NC

Read More

Prof. Keiichi Tomishige Hadir di CASE #3 Departemen Kimia FMIPA UGM, Paparkan Inovasi Katalisis dan Katalis Heterogen untuk Proses Kimia Berkelanjutan

Prof. Keiichi Tomishige dari Tohoku University, Jepang, hadir sebagai pembicara dalam kegiatan Chemistry Advanced Studies & Exploration (CASE) #3 yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Pascasarjana Kimia (KMPK) Departemen Kimia FMIPA UGM pada Kamis (18/6).

Kegiatan ini berlangsung secara luring di Auditorium Herman Johannes FMIPA UGM dan secara online melalui Zoom Meeting. Seminar yang berlangsung pukul 13.00–15.30 WIB tersebut dihadiri oleh dosen, mahasiswa Kimia UGM, serta peserta dari berbagai institusi eksternal.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Tomishige memaparkan berbagai inovasi dalam bidang katalisis dan katalis heterogen yang berfokus pada pengembangan proses kimia berkelanjutan melalui pemanfaatan biomassa dan karbon dioksida (CO₂) sebagai bahan baku alternatif.

Mengangkat tema Development of Heterogeneous Catalyst for Reductive Conversion of Biomass and Non-Reductive Conversion of CO₂, acara ini dipandu oleh Gavriel Hagai Paulus Sumlang, S.Si., M.Sc. sebagai master of ceremony (MC) dan dimoderatori oleh Prof. Dr. rer. nat. Nuryono, M.S.

Seminar dibuka dengan sambutan dari Ketua Departemen Kimia FMIPA UGM, Prof. Dr.rer.nat. Nurul Hidayat Aprilita, M.Si., sebelum dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi oleh Prof. Keiichi Tomishige.

Dalam pemaparannya, Prof. Tomishige menjelaskan berbagai inovasi dalam pengembangan proses kimia ramah lingkungan melalui pemanfaatan biomassa dan karbon dioksida (CO₂) sebagai bahan baku alternatif. Pendekatan ini bertujuan mengurangi ketergantungan industri terhadap sumber daya fosil sekaligus mendukung upaya penurunan emisi karbon.

Salah satu topik yang dibahas adalah konversi biomassa menjadi bahan kimia bernilai tinggi menggunakan katalis padat. Menurutnya, kandungan oksigen yang tinggi pada biomassa menjadi tantangan utama dalam proses pengolahannya. Untuk mengatasinya, Prof. Tomishige menawarkan metode hydrodeoxygenation dan deoxydehydration yang memungkinkan penghilangan oksigen secara selektif tanpa merusak kerangka karbon.

Selain konversi biomassa, seminar ini juga turut menyoroti pemanfaatan CO₂ sebagai sumber karbon untuk menghasilkan berbagai produk industri. Melalui pengembangan katalis yang inovatif, CO₂ dapat direaksikan dengan alkohol maupun amina untuk menghasilkan senyawa bernilai tambah tanpa menggunakan reagen beracun yang umum ditemukan pada proses konvensional.

Prof. Tomishige juga memperkenalkan teknologi yang memungkinkan pemanfaatan langsung CO₂ hasil proses penangkapan karbon. Pendekatan ini dinilai mampu mengintegrasikan proses penangkapan dan pemanfaatan CO₂ dalam satu sistem yang lebih sederhana dan hemat energi.

Ketua KMPK, Mohammad Ahsani Taqwim, S.Si., menyampaikan harapannya agar kegiatan CASE dapat terus disinergikan dengan berbagai mitra eksternal. Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk memperluas wawasan mahasiswa terhadap perkembangan ilmu kimia sekaligus membuka peluang membangun jejaring akademik dan profesional yang lebih luas.

Inovasi yang dipaparkan Prof. Tomishige menunjukkan bagaimana penelitian di bidang kimia dapat berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan global, mulai dari pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil hingga pemanfaatan emisi karbon menjadi produk yang bernilai guna. Sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi kimia yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.

Penulis : Inna Mutifah
Editor : Meitha Eka Nur Khasanah
Fotografer : Daffa Athatara

Read More

Mahasiswa Fisika UGM Raih Medali Perunggu pada International Student Competition (ISC) di Malaysia

Mahasiswa Program Studi Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Dalam ajang International Student Competition (ISC) 2026 yang diselenggarakan pada 14–15 Februari 2026 di Universiti Putra Malaysia (UPM), tim mahasiswa Fisika UGM berhasil meraih medali perunggu melalui karya inovatif di bidang teknologi.

Kompetisi yang diikuti peserta dari berbagai negara tersebut diawali dengan tahap seleksi esai. Para finalis kemudian mempresentasikan gagasannya secara langsung melalui sesi presentasi dan pameran poster di Malaysia.

Pada kompetisi ini, tim yang beranggotakan Amalia Nurin Al Fath dan Meitha Eka Nurhasanah mengangkat gagasan pemanfaatan nanopartikel magnetik yang berasal dari limbah pertanian untuk mendukung teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Inovasi tersebut menawarkan pendekatan yang menggabungkan pengurangan emisi karbon dengan pemanfaatan limbah pertanian bernilai rendah menjadi material yang memiliki potensi aplikasi teknologi.

Amalia selaku ketua tim menjelaskan bahwa proses penyusunan esai dilakukan dengan mengikuti perkembangan riset terbaru yang relevan dengan topik yang diangkat. Setelah lolos ke tahap final, fokus persiapan beralih pada penyusunan materi presentasi yang lebih ringkas dan mudah dipahami, sekaligus menonjolkan aspek kebaruan dari gagasan yang ditawarkan.

“Untuk tahap esai, kami banyak mengikuti perkembangan riset terbaru yang berkaitan dengan topik ini. Sementara untuk presentasi, kami berusaha mem-breakdown poin-poin penting dan menjelaskan novelty dari gagasan kami dengan lebih jelas agar dapat dipahami oleh dewan juri,” ujar Amalia.

Di balik capaian tersebut, tim juga menghadapi sejumlah tantangan sebelum keberangkatan. Mulai dari kebutuhan pendanaan, pengurusan dokumen perjalanan, hingga perencanaan rute dan transportasi selama berada di Malaysia.

“Tantangan terbesar sebelum berangkat adalah mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis perjalanan. Kami harus mengajukan pendanaan, mengurus paspor, serta mencari informasi mengenai rute dan transportasi yang akan digunakan selama di sana,” ungkapnya.

Selain tantangan teknis, pengalaman mengikuti kompetisi internasional juga memberikan pembelajaran tersendiri dalam beradaptasi di lingkungan baru.

“Karena ini pengalaman pertama saya ke luar negeri, saya justru lebih merasa excited daripada khawatir. Yang penting peka terhadap petunjuk dan informasi yang ada, serta tidak takut bertanya ketika tidak tahu,” katanya.

Terkait kemampuan berbahasa Inggris, Amalia mengaku masih terus belajar, terutama untuk kebutuhan presentasi formal di forum internasional.

“Saya masih terus belajar agar kemampuan bahasa Inggris saya semakin baik, khususnya untuk presentasi formal. Namun dalam percakapan sehari-hari, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa saling memahami dan menyampaikan pesan dengan baik,” ujarnya.

Amalia berharap pencapaian ini dapat mendorong mahasiswa lain untuk berani mencoba berbagai kesempatan yang ada.

“Coba dulu. Pasti ada jalan ketika kita memiliki keyakinan bahwa kita bisa,” pesannya.

Topik yang diangkat dalam kompetisi ini juga sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 yakni Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dan SDG 13 yaitu Penanganan Perubahan Iklim. Melalui pemanfaatan limbah pertanian sebagai material fungsional untuk teknologi penangkapan karbon, inovasi yang dikembangkan menunjukkan bagaimana riset sains dapat berkontribusi dalam mendorong inovasi berkelanjutan sekaligus mendukung upaya penanganan perubahan iklim.

Read More

Riset Kolaborasi Departemen Kimia FMIPA UGM dengan BRIN Hasilkan Terobosan Baru untuk Konversi CO₂ Jadi Bahan Baku Multifungsi

Publikasi terbaru hasil kolaborasi penelitian dari Departemen Kimia Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dimuat di Journal of  Materials Science (Mei 2026) menawarkan salah satu teknologi carbon capture and utilization (CCU). Tim ini mengembangkan katalis berbasis MOF UiO-66 yang dimodifikasi dengan nanopartikel perak yang mampu mengonversi CO₂ menjadi karbonat siklik, senyawa untuk bahan baku produksi polimer, baterai, dan produk farmasi. Hasil konversi mencapai 96,2% hanya dalam 24 jam, ini membuka peluang bagi proses industri kimia yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan.

Penelitian ini mendapat pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema Penelitian Tesis Magister tahun 2025.

Tim peneliti dengan sengaja menciptakan defek atau cacat struktural pada material penangkap CO₂. Defek yang sengaja dirancang ini justru menjadi tempat yang potensial untuk menempelkan partikel perak sebagai pemicu reaksi. Dengan rekayasa ini, material mampu menampung partikel perak hampir lima kali lebih banyak dibandingkan material biasa. Distribusinya juga lebih merata, sehingga reaksi berjalan lebih cepat dan stabil. Melalui pemodelan komputasi, tim peneliti mengonfirmasi bahwa nanopartikel perak terikat melalui dua mekanisme stabilisasi sekaligus, sehingga tidak mudah mengalami aglomerasi.

Katalis yang dihasilkan, diberi nama AgNP@UiO-66(D), mampu mengonversi CO₂ menjadi karbonat siklik dengan tingkat konversi mencapai 96,2% hanya dalam 24 jam pada kondisi reaksi ringan. Sebagai pembanding, material tanpa defek hanya mencapai 55,6% pada durasi uji yang sama.

Penelitian ini melibatkan mahasiswa dan dosen dari Departemen Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) yaitu Nabila Nur Agusti, Thariq Makkiyya, Indriana Kartini, dan Fajar Inggit Pambudi, serta Oka  Pradipta Arjasa peneliti dari Pusat Riset Material Maju BRIN. 

Riset ini selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Teknologi konversi CO₂ yang dikembangkan berpotensi mengurangi emisi karbon sekaligus memanfaatkan gas rumah kaca sebagai bahan baku bernilai tambah untuk industri kimia yang lebih berkelanjutan. Publikasi ini turut menambah daftar riset material maju yang dihasilkan oleh kolaborasi antar institusi di Indonesia. Temuan ini dapat menjadi inspirasi untuk mengeksplorasi topik-topik terkait kimia material, katalisis, dan teknologi ramah lingkungan. 

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

Kerja Sama FMIPA UGM dan NPO Volcano Jepang Perkuat Edukasi Mitigasi Bencana

Yogyakarta, 24 April 2026 — Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan perwakilan NPO Volcano Jepang dalam rangka penguatan kerja sama edukasi mitigasi kebencanaan. Kegiatan ini dihadiri Dekan FMIPA Prof. Dr. Eng Kuwat Triyana, M.Si., Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Kerja Sama, Dr.rer.nat. Wiwit Suryanto, S.Si., M.Si., Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Drs. Roto, M.Eng., Ph.D., Dr. Sudarmaji, S.Si., M.Si., serta jajaran Departemen Geofisika dan Fisika, termasuk Theodosius Marwan Irnaka, S.Si., M.Sc., Ph.D., dan Dr.rer.nat. Herlan Darmawan, S.Si., M.Sc.

Dalam sambutannya, Dekan FMIPA Kuwat Triyana menekankan pentingnya kolaborasi sosial dalam isu kebencanaan. Ia menyebut kegiatan ini sebagai langkah bermakna yang tidak hanya berhenti pada tataran akademik, tetapi juga menyentuh implementasi di lapangan.

“Kami membutuhkan kegiatan seperti ini, dan harapannya para staf juga dapat terlibat langsung dalam pengawalan di lapangan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kerja sama yang telah terjalin cukup lama diharapkan semakin kuat ke depan.

Perwakilan NPO Volcano, Kenzie Nihori, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini berawal dari percakapan sederhana sekitar satu dekade lalu. “Sepuluh tahun lalu hanya diskusi kasual bersama Pak Wiwit, tetapi kini benar-benar terwujud,” katanya.

Ia menilai perjalanan kolaborasi tersebut sebagai proses belajar bersama yang berkelanjutan. Nihori juga menyampaikan bahwa meskipun Jepang telah memiliki sistem mitigasi bencana yang maju, pemerintah setempat mendorong pembelajaran lintas negara. “Kami berharap dapat bertukar gagasan, masukan, dan budaya, sekaligus menjaga hubungan baik dengan FMIPA,” tambahnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama, yang menjadi puncak acara. Setelah itu, sesi diskusi dipandu oleh Theodorus Permana membahas agenda lanjutan di Desa Dukun, Kabupaten Magelang. Program tersebut akan berfokus pada sosialisasi mitigasi bencana bagi anak-anak dan guru, dengan pendekatan sederhana dan aplikatif.

Melalui kegiatan ini, tim berupaya menunjukkan bahwa edukasi mitigasi tidak harus kompleks, melainkan dapat disampaikan dengan cara yang mudah dipahami. Peserta didik yang terlibat nantinya akan mendapatkan pembelajaran sekaligus sertifikat sebagai duta mitigasi, dengan harapan mampu menumbuhkan kesadaran sejak dini. Semangat ini selaras dengan moto UGM, “locally rooted, globally respected”.

Inisiatif kolaboratif ini juga relevan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Developments Goals, SDGs), khususnya pada poin pendidikan berkualitas (SDG 4), kota dan permukiman berkelanjutan (SDG 11), serta penanganan perubahan iklim (SDG 13), melalui penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana secara inklusif dan berkelanjutan.

Penulis: Meitha Eka Nurhasanah
Dokumentasi: Daffa

Read More

Puncak Penghargaan dan Penutupan PARE Spring School 2026 Digelar di Kawasan Candi Prambanan

Menutup serangkaian kegiatan yang berlangsung selama 12 hari, agenda PARE Spring School 2026 menyelenggarakan sesi penghargaan sekaligus penutupan di kawasan Candi Prambanan pada 16 Februari 2026. Pada sesi ini, panitia memberikan penghargaan kepada peserta berdasarkan hasil final presentation serta partisipasi selama program berlangsung.

Sebelumnya, para peserta telah mengikuti berbagai rangkaian kegiatan akademik yang diselenggarakan di Departemen Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada, yang mencakup kuliah pakar lintas disiplin, kegiatan pengambilan sampel air di Sungai Code, analisis sampel di Laboratorium Kimia Analitik UGM, kunjungan ke instalasi pengelolaan air limbah di Bantul, diskusi kelompok dan mid-term presentation. Seluruh kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai isu lingkungan dan pertanian melalui pendekatan ilmiah dan kolaboratif lintas negara.

Dalam sambutannya, Prof. Drs. Roto, M.Eng., Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan FMIPA UGM menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh peserta, panitia, serta mitra institusi yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

Ia juga berharap program PARE Spring School dapat terus menjadi wadah kolaborasi internasional dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya terkait inovasi yang mendukung keberlanjutan di bidang lingkungan dan sumber daya alam.

Secara umum, kegiatan ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Melalui rangkaian kegiatan akademik, riset terapan, dan kolaborasi lintas negara yang dipusatkan di Universitas Gadjah Mada, program ini memperkuat kapasitas keilmuan peserta sekaligus mendorong inovasi berbasis sains yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Meitha Eka Nur Khasanah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More
Translate