
Mahasiswa Fisika UGM Raih Medali Perunggu pada International Student Competition (ISC) di Malaysia
Mahasiswa Program Studi Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Dalam ajang International Student Competition (ISC) 2026 yang diselenggarakan pada 14–15 Februari 2026 di Universiti Putra Malaysia (UPM), tim mahasiswa Fisika UGM berhasil meraih medali perunggu melalui karya inovatif di bidang teknologi.
Kompetisi yang diikuti peserta dari berbagai negara tersebut diawali dengan tahap seleksi esai. Para finalis kemudian mempresentasikan gagasannya secara langsung melalui sesi presentasi dan pameran poster di Malaysia.
Pada kompetisi ini, tim yang beranggotakan Amalia Nurin Al Fath dan Meitha Eka Nurhasanah mengangkat gagasan pemanfaatan nanopartikel magnetik yang berasal dari limbah pertanian untuk mendukung teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Inovasi tersebut menawarkan pendekatan yang menggabungkan pengurangan emisi karbon dengan pemanfaatan limbah pertanian bernilai rendah menjadi material yang memiliki potensi aplikasi teknologi.
Amalia selaku ketua tim menjelaskan bahwa proses penyusunan esai dilakukan dengan mengikuti perkembangan riset terbaru yang relevan dengan topik yang diangkat. Setelah lolos ke tahap final, fokus persiapan beralih pada penyusunan materi presentasi yang lebih ringkas dan mudah dipahami, sekaligus menonjolkan aspek kebaruan dari gagasan yang ditawarkan.
“Untuk tahap esai, kami banyak mengikuti perkembangan riset terbaru yang berkaitan dengan topik ini. Sementara untuk presentasi, kami berusaha mem-breakdown poin-poin penting dan menjelaskan novelty dari gagasan kami dengan lebih jelas agar dapat dipahami oleh dewan juri,” ujar Amalia.
Di balik capaian tersebut, tim juga menghadapi sejumlah tantangan sebelum keberangkatan. Mulai dari kebutuhan pendanaan, pengurusan dokumen perjalanan, hingga perencanaan rute dan transportasi selama berada di Malaysia.
“Tantangan terbesar sebelum berangkat adalah mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis perjalanan. Kami harus mengajukan pendanaan, mengurus paspor, serta mencari informasi mengenai rute dan transportasi yang akan digunakan selama di sana,” ungkapnya.
Selain tantangan teknis, pengalaman mengikuti kompetisi internasional juga memberikan pembelajaran tersendiri dalam beradaptasi di lingkungan baru.
“Karena ini pengalaman pertama saya ke luar negeri, saya justru lebih merasa excited daripada khawatir. Yang penting peka terhadap petunjuk dan informasi yang ada, serta tidak takut bertanya ketika tidak tahu,” katanya.
Terkait kemampuan berbahasa Inggris, Amalia mengaku masih terus belajar, terutama untuk kebutuhan presentasi formal di forum internasional.
“Saya masih terus belajar agar kemampuan bahasa Inggris saya semakin baik, khususnya untuk presentasi formal. Namun dalam percakapan sehari-hari, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa saling memahami dan menyampaikan pesan dengan baik,” ujarnya.
Amalia berharap pencapaian ini dapat mendorong mahasiswa lain untuk berani mencoba berbagai kesempatan yang ada.
“Coba dulu. Pasti ada jalan ketika kita memiliki keyakinan bahwa kita bisa,” pesannya.
Topik yang diangkat dalam kompetisi ini juga sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 yakni Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dan SDG 13 yaitu Penanganan Perubahan Iklim. Melalui pemanfaatan limbah pertanian sebagai material fungsional untuk teknologi penangkapan karbon, inovasi yang dikembangkan menunjukkan bagaimana riset sains dapat berkontribusi dalam mendorong inovasi berkelanjutan sekaligus mendukung upaya penanganan perubahan iklim.



























