Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan

Mahasiswa FMIPA UGM Berikan Inovasi dan Edukasi sebagai Upaya Menjawab Tantangan Pengelolaan Sampah DIY Secara Berkelanjutan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini dihadapkan pada tantangan besar dalam pengelolaan sampah, khususnya setelah penurunan signifikan daya tampung Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) regional pada 2023, dari 780 ton menjadi hanya 450 ton per hari. Meskipun volume sampah yang dikelola berhasil ditekan menjadi 756 ton per hari, data menunjukkan produksi sampah tetap stabil di angka 1.231,55 ton per hari. Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak sampah yang tidak tertangani dengan baik, menciptakan masalah lingkungan yang mendesak untuk diatasi.

Menjawab situasi ini, pemerintah DIY menginisiasi pendekatan holistik untuk meredam dampak lingkungan sekaligus membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah mengintegrasikan edukasi lingkungan ke dalam sistem pendidikan. Melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), siswa didorong untuk aktif belajar tentang pengelolaan sampah melalui berbagai kegiatan praktis, seperti pembuatan kompos, daur ulang, dan kampanye kesadaran lingkungan. Selain itu, gerakan membawa tumbler dan kotak makanan pribadi terus digencarkan, bahkan disertai insentif berupa diskon di kantin sekolah guna meningkatkan partisipasi siswa.

“Pemerintah juga akan memperkuat pengelolaan sampah organik secara mandiri di tingkat rumah tangga, misalnya dengan metode biopori atau kompos,” ujar Guntur, perwakilan dari KM FMIPA UGM. Ia menambahkan bahwa program ini juga melibatkan penunjukan Person in Charge (PIC) di setiap kecamatan untuk memonitor keberlanjutan program pengelolaan sampah.

Selain melalui edukasi, inovasi teknologi menjadi salah satu pilar utama dalam strategi pengelolaan sampah DIY. Teknologi penangkapan gas metana mulai diimplementasikan di tempat pembuangan akhir (TPA). Teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi emisi gas rumah kaca tetapi juga memungkinkan pemanfaatan gas metana sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.

Dengan kombinasi kebijakan, edukasi, dan inovasi teknologi, pemerintah DIY berharap tidak hanya dapat menangani krisis sampah, tetapi juga menciptakan sistem pengelolaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dukungan aktif dari masyarakat, mulai dari rumah tangga hingga komunitas pendidikan, serta sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan langkah besar ini. Kegiatan ini turut mendukung implementasi beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), seperti SDGs 11: Manajemen Bencana melalui kolaborasi dalam mengatasi krisis sampah, serta SDGs 15: Pengelolaan Ekosistem melalui penerapan teknologi pengelolaan sampah dan pengendalian pencemaran. Dengan langkah-langkah strategis ini, DIY bergerak menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Penulis: Ratih Cintia Sari
Dokumentasi: Muhammad Guntur
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More

Mengubah Gaya Hidup Demi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di DIY Melalui Edukasi Pemilahan Sampah

Mengatasi permasalahan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi volume sampah. Kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler dan kotak makanan sendiri, mengurangi penggunaan plastik saat berbelanja, serta memilih bahan-bahan ramah lingkungan dapat memberikan dampak nyata. Dengan implementasi langkah-langkah ini, DIY berpotensi mengurangi volume sampah hingga 18,88%.

Pemerintah DIY juga terus mendorong pengelolaan sampah dapur secara mandiri oleh rumah tangga. Sampah organik yang biasanya terbuang begitu saja kini dapat diolah menjadi kompos, pelet, atau pakan maggot. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menghasilkan nilai tambah ekonomi yang signifikan. “Edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah dari sumber juga terus ditingkatkan, misalnya melalui program KKN dan penelitian biologi sampah,” jelas Guntur, perwakilan dari KM FMIPA.

Selain perubahan gaya hidup, inovasi teknologi juga memainkan peran penting dalam pengelolaan sampah di DIY. Beberapa TPA di Kulon Progo, Gunungkidul, dan Bantul mulai menggunakan metode modern seperti open dumping terkontrol dan teknologi penangkapan gas metana. Teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber energi terbarukan.

Dengan kolaborasi solid antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi, DIY berpeluang menjadi pelopor pengelolaan sampah yang inovatif dan berkelanjutan. Upaya ini sejalan dengan beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), seperti SDGs 11: Manajemen Bencana melalui kolaborasi mengatasi krisis sampah, serta SDGs 15: Ekosistem Daratan melalui pengelolaan sampah dan pengendalian pencemaran lingkungan. Transformasi ini memerlukan komitmen jangka panjang dari semua pihak, namun dampaknya akan dirasakan tidak hanya untuk masa kini, tetapi juga oleh generasi mendatang. Dengan langkah-langkah strategis yang dilakukan saat ini, DIY mampu membuktikan bahwa kolaborasi dan inovasi dapat menjadi solusi nyata untuk krisis lingkungan.

Penulis: Ratih Cintia Sari
Dokumentasi: Muhammad Guntur
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More

BEM KM FMIPA UGM Gelar Expo Beasiswa 2024 sebagai Jembatan Menuju Pendidikan Tanpa Batas untuk Generasi Muda

Expo Beasiswa 2024 sukses menjadi pusat perhatian dan platform penting bagi mahasiswa yang ingin mengejar pendidikan tanpa batasan finansial. Dalam suasana yang interaktif dan penuh antusiasme, acara ini menghadirkan berbagai peluang beasiswa dari lembaga-lembaga ternama untuk mendukung perjalanan akademis generasi muda Indonesia. Beberapa instansi besar, seperti Sobat Bumi Pertamina, Bank Indonesia, Bakti BCA, Adaro Foundation, dan BSI Scholarship, menawarkan program beasiswa menarik. Tak hanya mendapatkan informasi, para pengunjung juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan perwakilan lembaga, memberikan pengalaman yang lebih personal dan mendalam.

“Saya jadi tahu lebih banyak opsi beasiswa yang bisa saya coba, dan itu sangat membantu. Biasanya hanya membaca informasi dari internet, tapi di sini saya bisa langsung tanya ke pihak pemberi beasiswa. Rasanya jadi lebih percaya diri untuk mencoba,” ujar Rahma, mahasiswa semester empat FMIPA UGM yang hadir dengan antusias dalam acara tersebut.

Selain memaparkan informasi beasiswa, acara ini juga menghadirkan kisah inspiratif dari para penerima beasiswa (awardee), yang membagikan perjalanan mereka dalam meraih pendidikan berkualitas. Cerita-cerita ini diharapkan mampu menanamkan semangat optimisme di kalangan mahasiswa untuk terus mencoba dan tidak menyerah menghadapi tantangan pendidikan.

Kementerian Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) BEM KM FMIPA UGM, selaku penyelenggara, menekankan pentingnya membangun jejaring di era global yang semakin kompetitif. “Expo Beasiswa 2024 tidak hanya tentang akses pendidikan, tetapi juga tentang kolaborasi. Kami ingin mahasiswa memahami bahwa melalui kolaborasi antara lembaga pemberi beasiswa dan penerima manfaat, pendidikan yang inklusif bisa menjadi kenyataan,” jelas Ratih, salah satu panitia.

Dengan tema futuristik yang mengusung inovasi dan harapan, Expo Beasiswa 2024 juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk saling terhubung, berbagi pengalaman, dan memperluas wawasan. Kesuksesan acara ini menjadi bukti bahwa tidak ada hambatan yang terlalu besar untuk diraih selama ada dukungan yang memadai dan tekad yang kuat.

Panitia berharap Expo Beasiswa dapat terus berlangsung di tahun-tahun mendatang dengan skala yang lebih besar dan dampak yang lebih luas. Acara ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 4, yaitu meningkatkan akses terhadap pendidikan yang inklusif dan berkualitas. Expo Beasiswa 2024 tidak hanya menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih baik, tetapi juga sumber inspirasi bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang gemilang.

Penulis: Ratih Cintia Sari
Dokumentasi: Tim DDD Expo Beasiswa 2024
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More

Kolaborasi Mahasiswa FMIPA UGM dalam Transformasi Pengelolaan Sampah DIY Menuju Lingkungan Berkelanjutan dengan Desentralisasi dan Inovasi Teknologi

Permasalahan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus menjadi tantangan yang semakin mendesak. Pertumbuhan jumlah penduduk serta meningkatnya kunjungan wisatawan setiap tahunnya menyebabkan volume sampah melonjak secara signifikan. Akibatnya, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, yang selama ini menjadi andalan, kini telah mencapai kapasitas maksimal. Kondisi kritis ini memaksa pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis guna mencegah dampak lebih besar terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Langkah konkret untuk mengatasi krisis ini diwujudkan melalui Keputusan Gubernur DIY Nomor 314/KEP/2024 tentang Pembentukan Satuan Tugas Percepatan Pelaksanaan Desentralisasi Pengelolaan Sampah. “Langkah konkret yang diambil adalah melalui Keputusan Gubernur DIY Nomor 314/KEP/2024 tentang Pembentukan Satuan Tugas Percepatan Pelaksanaan Desentralisasi Pengelolaan Sampah. Keputusan ini menekankan pentingnya setiap kabupaten dan kota di DIY memiliki TPA masing-masing sebagai bagian dari desentralisasi pengelolaan sampah,” papar Guntur sebagai perwakilan KM FMIPA.

Namun, implementasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di berbagai wilayah masih menghadapi berbagai kendala, seperti kapasitas yang belum memadai dan infrastruktur yang belum optimal. Masalah ini tidak hanya terjadi di Sleman, tetapi juga di seluruh DIY. Dengan kondisi ini, percepatan desentralisasi pengelolaan sampah menjadi semakin mendesak untuk dilakukan secara sistematis.

“Pemerintah perlu berinvestasi lebih banyak dalam pembangunan infrastruktur yang merata dan berkelanjutan. Selain itu, pengelolaan sampah yang lebih efektif juga memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta,” jelas Guntur. Tidak cukup hanya dengan membangun TPA baru, melibatkan masyarakat melalui edukasi juga menjadi kunci untuk mengatasi persoalan ini. Masyarakat perlu didorong untuk memilah sampah sejak dari sumber, sehingga pengolahan di TPA dapat berjalan lebih efisien.

Selain itu, penerapan teknologi modern juga dapat menjadi solusi dalam mengurangi dampak lingkungan. Salah satu contohnya adalah teknologi penangkapan gas metana, yang tidak hanya dapat mengurangi emisi gas rumah kaca tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Pendekatan ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs poin 11 tentang pembangunan kota dan permukiman berkelanjutan melalui manajemen bencana dan kolaborasi dalam mengatasi krisis sampah. Selain itu, inisiatif ini juga selaras dengan SDGs poin 15 mengenai pelestarian ekosistem daratan, melalui upaya inovatif seperti pemanfaatan gas metana sebagai solusi yang ramah lingkungan.

Pendekatan terpadu antara pembangunan infrastruktur, edukasi masyarakat, dan penerapan teknologi menjadi langkah penting untuk menyelesaikan permasalahan sampah di DIY secara berkelanjutan. Dengan sinergi yang kuat dari semua pemangku kepentingan, tantangan ini dapat diubah menjadi peluang untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih tangguh dan berwawasan lingkungan.

Penulis: Ratih Cintia Sari
Dokumentasi: Muhammad Guntur
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More

Kolaborasi Mahasiswa FMIPA UGM dengan FMIPA UNY untuk Mengatasi Krisis Sampah Daerah Istimewa Yogyakarta yang Mengancam Lingkungan

Krisis sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) semakin menjadi perhatian serius, terutama sejak penonaktifan pengoperasian Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan. Kondisi ini memicu berbagai dampak nyata, seperti sampah yang berserakan di wilayah perkotaan hingga maraknya praktik pembakaran sampah di malam hari. Praktik tersebut tidak hanya memperparah pencemaran lingkungan, tetapi juga menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Menanggapi situasi yang mengkhawatirkan ini, mahasiswa dari berbagai institusi pendidikan di DIY, termasuk BEM KM UGM, BEM KM FMIPA UGM, dan BEM FMIPA UNY, bersatu untuk melakukan kajian kolaborasi terkait permasalahan sampah. “Kami mencoba menelisik akar rumput masalah dari fenomena yang ditimbulkan,” ujar Guntur, perwakilan dari KM FMIPA, dalam diskusi yang menjadi langkah awal kolaborasi tersebut.

Melalui rangkaian diskusi dan kajian bersama, kelompok mahasiswa ini berharap menjadi pionir dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Sebagai langkah konkret, mereka mengadakan audiensi dengan Balai Pengelolaan Sampah dan Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (P2KLH) di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY pada 26 November 2024. Pertemuan tersebut bertujuan untuk menggali lebih dalam permasalahan yang ada, sekaligus merumuskan solusi kolaboratif yang dapat diterapkan.

“Kami meyakini bahwa diskusi dan kajian yang kami lakukan masih sangat kurang. Namun, kami berharap ini menjadi langkah awal yang dapat menumbuhkan semangat bersama untuk mengurangi dampak dan penyebab krisis sampah di DIY,” lanjut Guntur.

Permasalahan sampah menjadi tantangan besar, terutama di wilayah dengan tingkat aktivitas tinggi seperti DIY. Selain dipengaruhi oleh pertumbuhan jumlah penduduk, lonjakan wisatawan yang signifikan turut berkontribusi pada peningkatan volume sampah. Situasi ini membutuhkan langkah kolektif dari berbagai pihak—pemerintah, masyarakat, serta komunitas mahasiswa—untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan dan berdampak jangka panjang.

Langkah-langkah ini juga sejalan dengan implementasi beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), seperti SDGs 11: Manajemen Bencana, melalui kolaborasi dalam mengatasi krisis sampah, serta SDGs 15: Ekosistem Daratan, melalui pengelolaan sampah dan pengendalian pencemaran lingkungan. Dengan sinergi berbagai pihak, DIY diharapkan mampu mengatasi krisis sampah dan menjadi model pengelolaan lingkungan yang lebih baik bagi daerah lain.

Penulis: Ratih Cintia Sari
Dokumentasi: Muhammad Guntur
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More

Inovasi Sistem Dirgantara dan Elektronika Warnai ICARES 2024

Pada Jumat, 8 November 2024, Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) International Conference on Aerospace Electronics and Remote Sensing Technology (ICARES 2024) sukses diselenggarakan secara hybrid di Auditorium Lantai 7 FMIPA UGM dan melalui platform daring. Konferensi ini menjadi ajang bagi peneliti dan mahasiswa untuk mempresentasikan penelitian inovatif di bidang Aerospace and Electronic Systems, dengan berbagai kontribusi yang menjanjikan bagi perkembangan teknologi.

Sesi presentasi luring diawali dengan topik Aerospace and Electronic Systems, yang menampilkan beragam inovasi menarik. Salah satu presentator, Lissa Joumilena dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia, memaparkan penelitian berjudul “RIDU-Sat Nano Satellite Mission Concept.” “RIDU-Sat merupakan nanosatelit yang dikembangkan oleh Universitas Pertahanan Republik Indonesia dan bertujuan untuk penelitian serta pendidikan di lingkungan universitas,” jelasnya.

Selain Lissa, sesi ini juga diisi oleh sejumlah peneliti lainnya dengan topik yang tidak kalah menarik. Ardanto Pramutadi membahas “Stakeholder Expectations for A Medical Cargo UAV Concept of Operation,” sementara Aniket Mangalore memaparkan analisisnya melalui presentasi berjudul “Exploring the Potential of Morphing Wings: A Comparative Analysis of the NACA 0018 Airfoil.” Penelitian lain yang dipresentasikan adalah “Emergency Position Reporting System for Border and Inland Areas with APRS Communication Mode” oleh Amelia Pratiwi, “Evaluation of Minimum SDR Requirements for Transmitter Modules in CC-OFDM MIMO Radar Applications” oleh Muhammad Romadly, dan “Optimization of Dimple Configurations on Aircraft Wings to Enhance Aerodynamic Performance” oleh Brenda Sintia.

Masing-masing presentasi disambut dengan antusias oleh peserta konferensi sehingga menciptakan suasana diskusi yang dinamis. Beragam topik menarik dipaparkan, mulai dari konsep Medical Cargo UAV untuk distribusi logistik medis hingga mekanisme morphing wings untuk efisiensi aerodinamika pesawat. Selain itu, dibahas juga optimasi modul radar CC-OFDM MIMO dan desain sayap pesawat dengan konfigurasi dimples untuk mengurangi hambatan. Penelitian-penelitian ini tidak hanya mencerminkan kemajuan teknologi, tetapi juga menunjukkan potensi aplikasinya dalam pendidikan dan industri.

ICARES 2024 tidak hanya menjadi wadah untuk berbagi ilmu, tetapi juga mencerminkan penerapan SDGs poin 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, yang terlihat dari keterbukaan akses pendidikan melalui pemaparan penelitian-penelitian inovatif di bidang Aerospace and Electronic Systems. Selanjutnya, inovasi yang dihadirkan juga menunjukkan penerapan SDGs poin 9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dengan menampilkan kontribusi dalam pengembangan teknologi terkini. Terakhir, presentasi yang berkaitan dengan sistem transportasi cerdas juga mendukung SDGs poin 11, yaitu Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan.

Penulis: Azzah Nurfatin
Dokumentasi: Sulaiman Nurhidayat
Editor: Danendra Azriel Ramadhany

Read More

ICARES 2024: Peran Geoscience and Remote Sensing dalam Pendidikan dan Pelestarian Lingkungan

Pada Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) International Conference on Aerospace Electronics and Remote Sensing Technology 2024 (ICARES 2024), penelitian dalam bidang Geoscience dan Remote Sensing menjadi salah satu sorotan utama. Para peneliti dari berbagai institusi mempresentasikan inovasi teknologi yang berpotensi membawa dampak signifikan bagi ilmu pengetahuan dan keberlanjutan lingkungan.

“Kontribusi utama dari penelitian ini adalah menyediakan data empiris tentang kinerja komparatif Software Defined Radio (SDR) dan Handy Talky (HT) untuk transmisi Slow Scan Television (SSTV),” papar Eliana Maharani dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas penerimaan sinyal SSTV menggunakan dua metode berbeda, yaitu HT dan SDR.

Selain Eliana, Pingkan Mayestika Afgitanti dari University of the Ryukyus, Jepang, juga membagikan temuannya dalam penelitian berjudul “Comparative Analysis Multispatial Imagery for Coral and Seagrass Distribution Mapping.” Penelitian ini memanfaatkan data Landsat-8 dan Aerophoto untuk memetakan distribusi terumbu karang dan lamun di Pulau Yoron, Jepang.

Sesi kemudian dilanjut dengan Diki Akhyar Amanatulloh dari Universitas Gadjah Mada mempresentasikan penelitian berjudul “Annual Water Yield Comparison Based on InVEST Modelling in Way Ratai Watershed, Lampung Province, Indonesia.” Ia menjelaskan bahwa pemodelan hasil air tahunan menggunakan pendekatan InVEST mampu menunjukkan konsentrasi hasil air yang lebih tinggi di sepanjang sungai utama dan wilayah pesisir DAS Way Ratai.

Kemudian, M. Khawariz Andrizarisyan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memaparkan penelitian berjudul “Static Jacchia 1977 Atmospheric Modeling using Python.” Penelitian ini memanfaatkan model atmosfer Jacchia 1977 yang diimplementasikan menggunakan Python untuk mempelajari profil kepadatan dan suhu atmosfer pada ketinggian tinggi.

Hasil riset yang dipaparkan mencerminkan implementasi beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs poin 4, yaitu Pendidikan Berkualitas. Hal ini terlihat dari riset-riset inovatif yang menunjukkan semakin terbukanya akses terhadap pendidikan. Selain itu, beragam hasil riset dan inovasi yang dipaparkan menunjukkan penerapan SDGs poin 9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, karena mampu mendorong pengembangan teknologi baru di bidang Geoscience and Remote Sensing. Terakhir, penerapan riset ini pada pengelolaan lingkungan, seperti perlindungan ekosistem terumbu karang, pengelolaan air di DAS Way Ratai, dan pengembangan model atmosfer untuk aplikasi satelit, mendukung penerapan SDGs poin 11, yaitu Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan. Hal ini membuktikan bahwa hasil riset yang dipresentasikan tidak hanya inovatif tetapi juga berdampak nyata bagi kehidupan manusia dan keberlanjutan planet.

Penulis: Azzah Nurfatin
Dokumentasi: Sulaiman Nurhidayat
Editor: Danendra Azriel Ramadhany

Read More

Ikatan Alumni Geofisika UGM Kenalkan Inovasi Geoteknik Beachrock Buatan untuk Infrastruktur yang Aman dan Berkelanjutan

Kegiatan bulanan Ikatan Alumni Geofisika Universitas Gadjah Mada (IAGF UGM) menghadirkan course bertajuk “A Feasibility Investigation for Developing Artificial Beachrocks”, yang dipandu oleh Dr. Eng. Lutfian Rusdi Daryono dan Dr. Eng. Muhammad Akmal Putera. Acara ini membahas teknologi geoteknik modern yang dirancang untuk menjawab tantangan lingkungan sekaligus mendukung kebutuhan infrastruktur yang aman, tahan lama, dan ramah lingkungan.

Salah satu solusi yang diperkenalkan adalah teknik depth cement mixing, yang memungkinkan perkuatan tanah hingga kedalaman 30 meter dengan diameter sekitar 2,5 meter. Teknik ini dirancang untuk proyek infrastruktur besar di wilayah pesisir dan rawan gempa. “Dengan menambahkan sodium silikat ke dalam larutan semen, kita bisa merekayasa densitas larutan sehingga tanah menjadi lebih padat tanpa kehilangan fleksibilitas saat proses injeksi,” jelas Dr. Eng. Muhammad Akmal.

Selain itu, metode nailing dan anchoring diaplikasikan untuk memperkuat lereng dan dinding tanah. Nailing digunakan untuk kedalaman hingga 5 meter, sementara anchoring mampu memperkuat struktur pada kedalaman yang lebih besar. Di sisi lain, penghijauan area tambang turut menjadi perhatian utama. Teknik seperti penyemprotan biji tanaman menggunakan bahan adhesif dan serat kelapa dianyam telah berhasil menciptakan vegetasi alami yang membantu memulihkan ekosistem tambang.

“Kami menggunakan serat kelapa yang dianyam sebagai media penahan kelembaban, setelah itu, biji tanaman, bahan adhesif, dan air disemprotkan untuk menciptakan vegetasi yang tumbuh secara alami,” Dr. Eng. Muhammad Akmal.

Fokus utama teknologi ini adalah membatasi ruang resonansi seismik untuk memastikan bangunan tidak mudah runtuh meskipun diguncang gempa. Dengan pendekatan ini, masa depan konstruksi tidak hanya mengutamakan kecepatan dan efisiensi, tetapi juga keberlanjutan, keamanan, dan kepedulian lingkungan.

Kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), melalui pengembangan teknologi untuk infrastruktur tangguh, khususnya di daerah rawan bencana, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), dengan memperkuat struktur tanah dan bangunan untuk menciptakan kota yang lebih aman dan berkelanjutan, dan SDG 15 (Life on Land), melalui penghijauan area tambang dan lereng dengan teknik inovatif seperti penggunaan serat kelapa dan penyemprotan biji tanaman.

Penulis: Ratih Cintia Sari
Dokumentasi: Ratih Cintia Sari
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More

Mahasiswa FMIPA UGM Berikan Inovasi dan Edukasi sebagai Upaya Menjawab Tantangan Pengelolaan Sampah DIY Secara Berkelanjutan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini dihadapkan pada tantangan besar dalam pengelolaan sampah, khususnya setelah penurunan signifikan daya tampung Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) regional pada 2023, dari 780 ton menjadi hanya 450 ton per hari. Meskipun volume sampah yang dikelola berhasil ditekan menjadi 756 ton per hari, data menunjukkan produksi sampah tetap stabil di angka 1.231,55 ton per hari. Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak sampah yang tidak tertangani dengan baik, menciptakan masalah lingkungan yang mendesak untuk diatasi.

Menjawab situasi ini, pemerintah DIY menginisiasi pendekatan holistik untuk meredam dampak lingkungan sekaligus membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah mengintegrasikan edukasi lingkungan ke dalam sistem pendidikan. Melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), siswa didorong untuk aktif belajar tentang pengelolaan sampah melalui berbagai kegiatan praktis, seperti pembuatan kompos, daur ulang, dan kampanye kesadaran lingkungan. Selain itu, gerakan membawa tumbler dan kotak makanan pribadi terus digencarkan, bahkan disertai insentif berupa diskon di kantin sekolah guna meningkatkan partisipasi siswa.

“Pemerintah juga akan memperkuat pengelolaan sampah organik secara mandiri di tingkat rumah tangga, misalnya dengan metode biopori atau kompos,” ujar Guntur, perwakilan dari KM FMIPA UGM. Ia menambahkan bahwa program ini juga melibatkan penunjukan Person in Charge (PIC) di setiap kecamatan untuk memonitor keberlanjutan program pengelolaan sampah.

Selain melalui edukasi, inovasi teknologi menjadi salah satu pilar utama dalam strategi pengelolaan sampah DIY. Teknologi penangkapan gas metana mulai diimplementasikan di tempat pembuangan akhir (TPA). Teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi emisi gas rumah kaca tetapi juga memungkinkan pemanfaatan gas metana sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.

Dengan kombinasi kebijakan, edukasi, dan inovasi teknologi, pemerintah DIY berharap tidak hanya dapat menangani krisis sampah, tetapi juga menciptakan sistem pengelolaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dukungan aktif dari masyarakat, mulai dari rumah tangga hingga komunitas pendidikan, serta sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan langkah besar ini. Kegiatan ini turut mendukung implementasi beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), seperti SDGs 11: Manajemen Bencana melalui kolaborasi dalam mengatasi krisis sampah, serta SDGs 15: Pengelolaan Ekosistem melalui penerapan teknologi pengelolaan sampah dan pengendalian pencemaran. Dengan langkah-langkah strategis ini, DIY bergerak menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Penulis: Ratih Cintia Sari
Dokumentasi: Muhammad Guntur
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More

Mengubah Gaya Hidup Demi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di DIY Melalui Edukasi Pemilahan Sampah

Mengatasi permasalahan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi volume sampah. Kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler dan kotak makanan sendiri, mengurangi penggunaan plastik saat berbelanja, serta memilih bahan-bahan ramah lingkungan dapat memberikan dampak nyata. Dengan implementasi langkah-langkah ini, DIY berpotensi mengurangi volume sampah hingga 18,88%.

Pemerintah DIY juga terus mendorong pengelolaan sampah dapur secara mandiri oleh rumah tangga. Sampah organik yang biasanya terbuang begitu saja kini dapat diolah menjadi kompos, pelet, atau pakan maggot. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menghasilkan nilai tambah ekonomi yang signifikan. “Edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah dari sumber juga terus ditingkatkan, misalnya melalui program KKN dan penelitian biologi sampah,” jelas Guntur, perwakilan dari KM FMIPA.

Selain perubahan gaya hidup, inovasi teknologi juga memainkan peran penting dalam pengelolaan sampah di DIY. Beberapa TPA di Kulon Progo, Gunungkidul, dan Bantul mulai menggunakan metode modern seperti open dumping terkontrol dan teknologi penangkapan gas metana. Teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber energi terbarukan.

Dengan kolaborasi solid antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi, DIY berpeluang menjadi pelopor pengelolaan sampah yang inovatif dan berkelanjutan. Upaya ini sejalan dengan beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), seperti SDGs 11: Manajemen Bencana melalui kolaborasi mengatasi krisis sampah, serta SDGs 15: Ekosistem Daratan melalui pengelolaan sampah dan pengendalian pencemaran lingkungan. Transformasi ini memerlukan komitmen jangka panjang dari semua pihak, namun dampaknya akan dirasakan tidak hanya untuk masa kini, tetapi juga oleh generasi mendatang. Dengan langkah-langkah strategis yang dilakukan saat ini, DIY mampu membuktikan bahwa kolaborasi dan inovasi dapat menjadi solusi nyata untuk krisis lingkungan.

Penulis: Ratih Cintia Sari
Dokumentasi: Muhammad Guntur
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More

BEM KM FMIPA UGM Gelar Expo Beasiswa 2024 sebagai Jembatan Menuju Pendidikan Tanpa Batas untuk Generasi Muda

Expo Beasiswa 2024 sukses menjadi pusat perhatian dan platform penting bagi mahasiswa yang ingin mengejar pendidikan tanpa batasan finansial. Dalam suasana yang interaktif dan penuh antusiasme, acara ini menghadirkan berbagai peluang beasiswa dari lembaga-lembaga ternama untuk mendukung perjalanan akademis generasi muda Indonesia. Beberapa instansi besar, seperti Sobat Bumi Pertamina, Bank Indonesia, Bakti BCA, Adaro Foundation, dan BSI Scholarship, menawarkan program beasiswa menarik. Tak hanya mendapatkan informasi, para pengunjung juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan perwakilan lembaga, memberikan pengalaman yang lebih personal dan mendalam.

“Saya jadi tahu lebih banyak opsi beasiswa yang bisa saya coba, dan itu sangat membantu. Biasanya hanya membaca informasi dari internet, tapi di sini saya bisa langsung tanya ke pihak pemberi beasiswa. Rasanya jadi lebih percaya diri untuk mencoba,” ujar Rahma, mahasiswa semester empat FMIPA UGM yang hadir dengan antusias dalam acara tersebut.

Selain memaparkan informasi beasiswa, acara ini juga menghadirkan kisah inspiratif dari para penerima beasiswa (awardee), yang membagikan perjalanan mereka dalam meraih pendidikan berkualitas. Cerita-cerita ini diharapkan mampu menanamkan semangat optimisme di kalangan mahasiswa untuk terus mencoba dan tidak menyerah menghadapi tantangan pendidikan.

Kementerian Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) BEM KM FMIPA UGM, selaku penyelenggara, menekankan pentingnya membangun jejaring di era global yang semakin kompetitif. “Expo Beasiswa 2024 tidak hanya tentang akses pendidikan, tetapi juga tentang kolaborasi. Kami ingin mahasiswa memahami bahwa melalui kolaborasi antara lembaga pemberi beasiswa dan penerima manfaat, pendidikan yang inklusif bisa menjadi kenyataan,” jelas Ratih, salah satu panitia.

Dengan tema futuristik yang mengusung inovasi dan harapan, Expo Beasiswa 2024 juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk saling terhubung, berbagi pengalaman, dan memperluas wawasan. Kesuksesan acara ini menjadi bukti bahwa tidak ada hambatan yang terlalu besar untuk diraih selama ada dukungan yang memadai dan tekad yang kuat.

Panitia berharap Expo Beasiswa dapat terus berlangsung di tahun-tahun mendatang dengan skala yang lebih besar dan dampak yang lebih luas. Acara ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 4, yaitu meningkatkan akses terhadap pendidikan yang inklusif dan berkualitas. Expo Beasiswa 2024 tidak hanya menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih baik, tetapi juga sumber inspirasi bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang gemilang.

Penulis: Ratih Cintia Sari
Dokumentasi: Tim DDD Expo Beasiswa 2024
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More

Kolaborasi Mahasiswa FMIPA UGM dalam Transformasi Pengelolaan Sampah DIY Menuju Lingkungan Berkelanjutan dengan Desentralisasi dan Inovasi Teknologi

Permasalahan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus menjadi tantangan yang semakin mendesak. Pertumbuhan jumlah penduduk serta meningkatnya kunjungan wisatawan setiap tahunnya menyebabkan volume sampah melonjak secara signifikan. Akibatnya, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, yang selama ini menjadi andalan, kini telah mencapai kapasitas maksimal. Kondisi kritis ini memaksa pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis guna mencegah dampak lebih besar terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Langkah konkret untuk mengatasi krisis ini diwujudkan melalui Keputusan Gubernur DIY Nomor 314/KEP/2024 tentang Pembentukan Satuan Tugas Percepatan Pelaksanaan Desentralisasi Pengelolaan Sampah. “Langkah konkret yang diambil adalah melalui Keputusan Gubernur DIY Nomor 314/KEP/2024 tentang Pembentukan Satuan Tugas Percepatan Pelaksanaan Desentralisasi Pengelolaan Sampah. Keputusan ini menekankan pentingnya setiap kabupaten dan kota di DIY memiliki TPA masing-masing sebagai bagian dari desentralisasi pengelolaan sampah,” papar Guntur sebagai perwakilan KM FMIPA.

Namun, implementasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di berbagai wilayah masih menghadapi berbagai kendala, seperti kapasitas yang belum memadai dan infrastruktur yang belum optimal. Masalah ini tidak hanya terjadi di Sleman, tetapi juga di seluruh DIY. Dengan kondisi ini, percepatan desentralisasi pengelolaan sampah menjadi semakin mendesak untuk dilakukan secara sistematis.

“Pemerintah perlu berinvestasi lebih banyak dalam pembangunan infrastruktur yang merata dan berkelanjutan. Selain itu, pengelolaan sampah yang lebih efektif juga memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta,” jelas Guntur. Tidak cukup hanya dengan membangun TPA baru, melibatkan masyarakat melalui edukasi juga menjadi kunci untuk mengatasi persoalan ini. Masyarakat perlu didorong untuk memilah sampah sejak dari sumber, sehingga pengolahan di TPA dapat berjalan lebih efisien.

Selain itu, penerapan teknologi modern juga dapat menjadi solusi dalam mengurangi dampak lingkungan. Salah satu contohnya adalah teknologi penangkapan gas metana, yang tidak hanya dapat mengurangi emisi gas rumah kaca tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Pendekatan ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs poin 11 tentang pembangunan kota dan permukiman berkelanjutan melalui manajemen bencana dan kolaborasi dalam mengatasi krisis sampah. Selain itu, inisiatif ini juga selaras dengan SDGs poin 15 mengenai pelestarian ekosistem daratan, melalui upaya inovatif seperti pemanfaatan gas metana sebagai solusi yang ramah lingkungan.

Pendekatan terpadu antara pembangunan infrastruktur, edukasi masyarakat, dan penerapan teknologi menjadi langkah penting untuk menyelesaikan permasalahan sampah di DIY secara berkelanjutan. Dengan sinergi yang kuat dari semua pemangku kepentingan, tantangan ini dapat diubah menjadi peluang untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih tangguh dan berwawasan lingkungan.

Penulis: Ratih Cintia Sari
Dokumentasi: Muhammad Guntur
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More

Kolaborasi Mahasiswa FMIPA UGM dengan FMIPA UNY untuk Mengatasi Krisis Sampah Daerah Istimewa Yogyakarta yang Mengancam Lingkungan

Krisis sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) semakin menjadi perhatian serius, terutama sejak penonaktifan pengoperasian Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan. Kondisi ini memicu berbagai dampak nyata, seperti sampah yang berserakan di wilayah perkotaan hingga maraknya praktik pembakaran sampah di malam hari. Praktik tersebut tidak hanya memperparah pencemaran lingkungan, tetapi juga menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Menanggapi situasi yang mengkhawatirkan ini, mahasiswa dari berbagai institusi pendidikan di DIY, termasuk BEM KM UGM, BEM KM FMIPA UGM, dan BEM FMIPA UNY, bersatu untuk melakukan kajian kolaborasi terkait permasalahan sampah. “Kami mencoba menelisik akar rumput masalah dari fenomena yang ditimbulkan,” ujar Guntur, perwakilan dari KM FMIPA, dalam diskusi yang menjadi langkah awal kolaborasi tersebut.

Melalui rangkaian diskusi dan kajian bersama, kelompok mahasiswa ini berharap menjadi pionir dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Sebagai langkah konkret, mereka mengadakan audiensi dengan Balai Pengelolaan Sampah dan Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (P2KLH) di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY pada 26 November 2024. Pertemuan tersebut bertujuan untuk menggali lebih dalam permasalahan yang ada, sekaligus merumuskan solusi kolaboratif yang dapat diterapkan.

“Kami meyakini bahwa diskusi dan kajian yang kami lakukan masih sangat kurang. Namun, kami berharap ini menjadi langkah awal yang dapat menumbuhkan semangat bersama untuk mengurangi dampak dan penyebab krisis sampah di DIY,” lanjut Guntur.

Permasalahan sampah menjadi tantangan besar, terutama di wilayah dengan tingkat aktivitas tinggi seperti DIY. Selain dipengaruhi oleh pertumbuhan jumlah penduduk, lonjakan wisatawan yang signifikan turut berkontribusi pada peningkatan volume sampah. Situasi ini membutuhkan langkah kolektif dari berbagai pihak—pemerintah, masyarakat, serta komunitas mahasiswa—untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan dan berdampak jangka panjang.

Langkah-langkah ini juga sejalan dengan implementasi beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), seperti SDGs 11: Manajemen Bencana, melalui kolaborasi dalam mengatasi krisis sampah, serta SDGs 15: Ekosistem Daratan, melalui pengelolaan sampah dan pengendalian pencemaran lingkungan. Dengan sinergi berbagai pihak, DIY diharapkan mampu mengatasi krisis sampah dan menjadi model pengelolaan lingkungan yang lebih baik bagi daerah lain.

Penulis: Ratih Cintia Sari
Dokumentasi: Muhammad Guntur
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More

Inovasi Sistem Dirgantara dan Elektronika Warnai ICARES 2024

Pada Jumat, 8 November 2024, Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) International Conference on Aerospace Electronics and Remote Sensing Technology (ICARES 2024) sukses diselenggarakan secara hybrid di Auditorium Lantai 7 FMIPA UGM dan melalui platform daring. Konferensi ini menjadi ajang bagi peneliti dan mahasiswa untuk mempresentasikan penelitian inovatif di bidang Aerospace and Electronic Systems, dengan berbagai kontribusi yang menjanjikan bagi perkembangan teknologi.

Sesi presentasi luring diawali dengan topik Aerospace and Electronic Systems, yang menampilkan beragam inovasi menarik. Salah satu presentator, Lissa Joumilena dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia, memaparkan penelitian berjudul “RIDU-Sat Nano Satellite Mission Concept.” “RIDU-Sat merupakan nanosatelit yang dikembangkan oleh Universitas Pertahanan Republik Indonesia dan bertujuan untuk penelitian serta pendidikan di lingkungan universitas,” jelasnya.

Selain Lissa, sesi ini juga diisi oleh sejumlah peneliti lainnya dengan topik yang tidak kalah menarik. Ardanto Pramutadi membahas “Stakeholder Expectations for A Medical Cargo UAV Concept of Operation,” sementara Aniket Mangalore memaparkan analisisnya melalui presentasi berjudul “Exploring the Potential of Morphing Wings: A Comparative Analysis of the NACA 0018 Airfoil.” Penelitian lain yang dipresentasikan adalah “Emergency Position Reporting System for Border and Inland Areas with APRS Communication Mode” oleh Amelia Pratiwi, “Evaluation of Minimum SDR Requirements for Transmitter Modules in CC-OFDM MIMO Radar Applications” oleh Muhammad Romadly, dan “Optimization of Dimple Configurations on Aircraft Wings to Enhance Aerodynamic Performance” oleh Brenda Sintia.

Masing-masing presentasi disambut dengan antusias oleh peserta konferensi sehingga menciptakan suasana diskusi yang dinamis. Beragam topik menarik dipaparkan, mulai dari konsep Medical Cargo UAV untuk distribusi logistik medis hingga mekanisme morphing wings untuk efisiensi aerodinamika pesawat. Selain itu, dibahas juga optimasi modul radar CC-OFDM MIMO dan desain sayap pesawat dengan konfigurasi dimples untuk mengurangi hambatan. Penelitian-penelitian ini tidak hanya mencerminkan kemajuan teknologi, tetapi juga menunjukkan potensi aplikasinya dalam pendidikan dan industri.

ICARES 2024 tidak hanya menjadi wadah untuk berbagi ilmu, tetapi juga mencerminkan penerapan SDGs poin 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, yang terlihat dari keterbukaan akses pendidikan melalui pemaparan penelitian-penelitian inovatif di bidang Aerospace and Electronic Systems. Selanjutnya, inovasi yang dihadirkan juga menunjukkan penerapan SDGs poin 9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dengan menampilkan kontribusi dalam pengembangan teknologi terkini. Terakhir, presentasi yang berkaitan dengan sistem transportasi cerdas juga mendukung SDGs poin 11, yaitu Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan.

Penulis: Azzah Nurfatin
Dokumentasi: Sulaiman Nurhidayat
Editor: Danendra Azriel Ramadhany

Read More

ICARES 2024: Peran Geoscience and Remote Sensing dalam Pendidikan dan Pelestarian Lingkungan

Pada Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) International Conference on Aerospace Electronics and Remote Sensing Technology 2024 (ICARES 2024), penelitian dalam bidang Geoscience dan Remote Sensing menjadi salah satu sorotan utama. Para peneliti dari berbagai institusi mempresentasikan inovasi teknologi yang berpotensi membawa dampak signifikan bagi ilmu pengetahuan dan keberlanjutan lingkungan.

“Kontribusi utama dari penelitian ini adalah menyediakan data empiris tentang kinerja komparatif Software Defined Radio (SDR) dan Handy Talky (HT) untuk transmisi Slow Scan Television (SSTV),” papar Eliana Maharani dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas penerimaan sinyal SSTV menggunakan dua metode berbeda, yaitu HT dan SDR.

Selain Eliana, Pingkan Mayestika Afgitanti dari University of the Ryukyus, Jepang, juga membagikan temuannya dalam penelitian berjudul “Comparative Analysis Multispatial Imagery for Coral and Seagrass Distribution Mapping.” Penelitian ini memanfaatkan data Landsat-8 dan Aerophoto untuk memetakan distribusi terumbu karang dan lamun di Pulau Yoron, Jepang.

Sesi kemudian dilanjut dengan Diki Akhyar Amanatulloh dari Universitas Gadjah Mada mempresentasikan penelitian berjudul “Annual Water Yield Comparison Based on InVEST Modelling in Way Ratai Watershed, Lampung Province, Indonesia.” Ia menjelaskan bahwa pemodelan hasil air tahunan menggunakan pendekatan InVEST mampu menunjukkan konsentrasi hasil air yang lebih tinggi di sepanjang sungai utama dan wilayah pesisir DAS Way Ratai.

Kemudian, M. Khawariz Andrizarisyan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memaparkan penelitian berjudul “Static Jacchia 1977 Atmospheric Modeling using Python.” Penelitian ini memanfaatkan model atmosfer Jacchia 1977 yang diimplementasikan menggunakan Python untuk mempelajari profil kepadatan dan suhu atmosfer pada ketinggian tinggi.

Hasil riset yang dipaparkan mencerminkan implementasi beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs poin 4, yaitu Pendidikan Berkualitas. Hal ini terlihat dari riset-riset inovatif yang menunjukkan semakin terbukanya akses terhadap pendidikan. Selain itu, beragam hasil riset dan inovasi yang dipaparkan menunjukkan penerapan SDGs poin 9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, karena mampu mendorong pengembangan teknologi baru di bidang Geoscience and Remote Sensing. Terakhir, penerapan riset ini pada pengelolaan lingkungan, seperti perlindungan ekosistem terumbu karang, pengelolaan air di DAS Way Ratai, dan pengembangan model atmosfer untuk aplikasi satelit, mendukung penerapan SDGs poin 11, yaitu Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan. Hal ini membuktikan bahwa hasil riset yang dipresentasikan tidak hanya inovatif tetapi juga berdampak nyata bagi kehidupan manusia dan keberlanjutan planet.

Penulis: Azzah Nurfatin
Dokumentasi: Sulaiman Nurhidayat
Editor: Danendra Azriel Ramadhany

Read More

Ikatan Alumni Geofisika UGM Kenalkan Inovasi Geoteknik Beachrock Buatan untuk Infrastruktur yang Aman dan Berkelanjutan

Kegiatan bulanan Ikatan Alumni Geofisika Universitas Gadjah Mada (IAGF UGM) menghadirkan course bertajuk “A Feasibility Investigation for Developing Artificial Beachrocks”, yang dipandu oleh Dr. Eng. Lutfian Rusdi Daryono dan Dr. Eng. Muhammad Akmal Putera. Acara ini membahas teknologi geoteknik modern yang dirancang untuk menjawab tantangan lingkungan sekaligus mendukung kebutuhan infrastruktur yang aman, tahan lama, dan ramah lingkungan.

Salah satu solusi yang diperkenalkan adalah teknik depth cement mixing, yang memungkinkan perkuatan tanah hingga kedalaman 30 meter dengan diameter sekitar 2,5 meter. Teknik ini dirancang untuk proyek infrastruktur besar di wilayah pesisir dan rawan gempa. “Dengan menambahkan sodium silikat ke dalam larutan semen, kita bisa merekayasa densitas larutan sehingga tanah menjadi lebih padat tanpa kehilangan fleksibilitas saat proses injeksi,” jelas Dr. Eng. Muhammad Akmal.

Selain itu, metode nailing dan anchoring diaplikasikan untuk memperkuat lereng dan dinding tanah. Nailing digunakan untuk kedalaman hingga 5 meter, sementara anchoring mampu memperkuat struktur pada kedalaman yang lebih besar. Di sisi lain, penghijauan area tambang turut menjadi perhatian utama. Teknik seperti penyemprotan biji tanaman menggunakan bahan adhesif dan serat kelapa dianyam telah berhasil menciptakan vegetasi alami yang membantu memulihkan ekosistem tambang.

“Kami menggunakan serat kelapa yang dianyam sebagai media penahan kelembaban, setelah itu, biji tanaman, bahan adhesif, dan air disemprotkan untuk menciptakan vegetasi yang tumbuh secara alami,” Dr. Eng. Muhammad Akmal.

Fokus utama teknologi ini adalah membatasi ruang resonansi seismik untuk memastikan bangunan tidak mudah runtuh meskipun diguncang gempa. Dengan pendekatan ini, masa depan konstruksi tidak hanya mengutamakan kecepatan dan efisiensi, tetapi juga keberlanjutan, keamanan, dan kepedulian lingkungan.

Kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), melalui pengembangan teknologi untuk infrastruktur tangguh, khususnya di daerah rawan bencana, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), dengan memperkuat struktur tanah dan bangunan untuk menciptakan kota yang lebih aman dan berkelanjutan, dan SDG 15 (Life on Land), melalui penghijauan area tambang dan lereng dengan teknik inovatif seperti penggunaan serat kelapa dan penyemprotan biji tanaman.

Penulis: Ratih Cintia Sari
Dokumentasi: Ratih Cintia Sari
Editor: Sulaiman Nurhidayat

Read More
Translate