Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search
Search

SDGs

Kisah Kharisma Mahasiswa FMIPA UGM, Anak ART yang Pantang Menyerah dalam Menggapai Impian

Tidak jarang keterbatasan ekonomi menjadi kendala tersendiri dalam menempuh pendidikan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Kharisma Jayanti Putri, mahasiswa baru Program Studi S1 Kimia UGM, yang pantang menyerah dalam menggapai impian.

“Saya tidak mau membebani Ibu saya,” ungkap Kharisma, anak bungsu dari pasangan alm. Jaswadi dan Asyati (50).

Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, Kharisma, sang ibu, dan sang kakak, menggantungkan harapan pada pekerjaan ibunya sebagai asisten rumah tangga. Pendapatan per bulan yang hanya berkisar di angka Rp900.000,00 harus diatur sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga selama sebulan.

Namun, Kharisma tidak serta-merta berpasrah pada keadaan yang ada. Ia sadar bahwa ia harus berjuang lebih. Oleh karena itu, sejak kelas 12, Kharisma sudah mulai mencari berbagai informasi beasiswa untuk berkuliah. Apabila Kharisma memenuhi persyaratan suatu beasiswa, maka ia akan mencoba untuk mendaftar. Hingga saat ini, ia masih berjuang dengan mendaftar berbagai beasiswa, baik beasiswa biaya pendidikan, beasiswa uang saku, maupun beasiswa tempat tinggal. Ia sangat berharap dapat lolos beasiswa agar kebutuhannya selama berkuliah dapat terpenuhi tanpa harus membebani ibunya.

Selama duduk di bangku SMA, Kharisma merupakan pribadi yang aktif dan gemar berorganisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Palang Merah Remaja (PMR) SMA Negeri 2 Pati, Bendahara Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA Negeri 2 Pati, Sekretaris Forum Remaja Palang Merah Indonesia Kabupaten Pati, dan Koordinator Divisi Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif Forum OSIS Kabupaten Pati.

Kharisma juga mengungkapkan bahwa ia ingin melanjutkan kiprahnya di dunia organisasi selama berkuliah nanti dengan tetap memperhatikan indeks prestasinya agar tidak memengaruhi beasiswa. Selain perencanaan selama berkuliah, Kharisma juga mengaku sudah memiliki perencanaan setelah lulus dari Kimia UGM. Ia memaparkan bahwa ia ingin menjadi analis laboratorium.

Kisah perjuangan Kharisma menunjukkan bahwa kesempatan untuk menempuh pendidikan masih terbuka lebar bagi siapapun asalkan mau berusaha dan tidak patah semangat dengan kendala yang ditemui. Hal ini menunjukkan wujud nyata dari SDGs poin 10, yaitu Berkurangnya Kesenjangan karena dapat dilihat bahwa faktor sosial ekonomi tidak memengaruhi kesempatan dalam meraih pendidikan. Selain itu, kisah Kharisma juga menunjukkan implementasi dari SDGs poin 5, yaitu Kesetaraan Gender karena didapatnya kesetaraan akses dan kesetaraan kesempatan tanpa memandang gender. Harapannya, kisah Kharisma mampu memotivasi banyak orang untuk terus memperjuangkan mimpinya tanpa takut dengan kendala yang dimiliki.

Penulis: Azzah Nurfatin
Foto: Kharisma Jayanti Putri
Editor: Febriska Noor Fitriana

Read More

FMIPA UGM dan PT MAIPARK Indonesia Teken Perjanjian Kerja Sama, Dukung Indonesia Tangguh Bencana

Indonesia merupakan negara yang terkenal sebagai salah satu dari 35 negara di dunia yang memiliki risiko bencana yang tinggi. BNPB mencatat terdapat 5.400 kejadian bencana yang terjadi sepanjang tahun 2023. Bencana alam yang terjadi di Indonesia menimbulkan dampak yang cukup signifikan, baik secara fisik berupa kerusakan bangunan maupun non-fisik berupa korban jiwa hingga kerugian finansial.

Merujuk pada hal tersebut, FMIPA UGM bersama PT MAIPARK Indonesia bersinergi dalam riset pengelolaan risiko bencana melalui penandatanganan kerja sama yang diselenggarakan pada hari Rabu, 10 Juli 2024 di FMIPA UGM. Acara tersebut dihadiri oleh Dekan FMIPA UGM, dosen Departemen Matematika FMIPA UGM, serta Direktur Utama PT MAIPARK yang didampingi oleh jajarannya.

“Ini merupakan kehormatan bagi kami bisa bekerja sama dengan industri,” tutur Prof. Dr.Eng. Kuwat Triyana, M.Si dalam sambutan yang diberikan.

Direktur utama PT MAIPARK, Kocu Andre Hutagalung menyampaikan bahwa dijalinnya kolaborasi tersebut bertujuan untuk menjadikan Indonesia tangguh bencana. Hal ini berarti bahwa ketika terjadi bencana di Indonesia, negara memiliki mekanisme untuk membantu korban-korban bencana.

“Hal tersebut tidak akan dimiliki jika kita tidak memiliki kemampuan mendeskripsikan risiko bencana alam. Kemudian untuk mendeskripsikan risiko bencana alam dibutuhkan model bencana alam dan di situlah peran dari kerja sama kita karena untuk mendeskripsikan model tersebut dibutuhkan ilmu pengetahuan, seperti matematika,” papar Kocu.

Lebih lanjut dirinya menyampaikan bahwa spektrum kerja sama yang akan dibangun meliputi pendidikan hingga aktivitas penelitian serta pengembangan bisnis asuransi bencana alam. Sementara ini, sudah ada 2 mahasiswa dari Program Studi Aktuaria FMIPA UGM yang tengah melakukan magang di PT MAIPARK. Sebelumnya, PT MAIPARK juga telah aktif memperkenalkan aktuaria bencana alam melalui pemaparan kuliah singkat mengenai permodelan katostropik.

“Saya yakin bahwa kami akan mendapatkan dukungan yang tepat dan kuat, khususnya dari FMIPA UGM karena dalam industri asuransi maupun reasuransi membutuhkan dukungan pengetahuan kuantitatif dalam pengelolaan risiko bencana alam,” tutur  Kocu.

Melalui perjanjian kerja sama ini diharapkan mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri yang berdampak dalam mendukung Indonesia tangguh bencana. Acara ini turut menjadi cerminan dari SDGs di poin 4 yaitu Pendidikan Berkualitas dalam pendidikan untuk keberlanjutan melalui peluang riset dan studi, poin 11 yaitu Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan melalui manajemen bencana, poin 13 yaitu Penanganan Perubahan Iklim melalui manajemen perubahan iklim, dan poin 17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam mendorong inovasi dan kemitraan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri.

Penulis: Meitha Eka Nurhasanah
Foto: Hero Prakosa Wibowo Priyanto
Editor: Febriska Noor Fitriana

Read More

Kisah Inspiratif Ratih Lestari Sarjana Doktor Pemilik IPK 4 dengan Studi Tercepat

Memilih Kimia sebagai jalur pendidikan tak pernah terbayangkan oleh Ratih Lestari. Kini, dirinya sedang menjalani program Postdoctoral di Universitas Gadjah Mada. Berawal dari terpesona dengan kemampuan mengajar yang menarik dari guru di Pondok Pesantren tempat Ratih menimba ilmu, dirinya memutuskan untuk menjatuhkan hatinya di jurusan Kimia pada program S1.

“Setelah lulus S1 saya bertekad untuk menjadi dosen,” terang Ratih Lestari yang biasa disapa Ratih dalam wawancara daring, Jumat (5/7).

Dengan tekad dan kesungguhan Ratih dalam menggapai keinginannya, S1 dirinya mulai mengulik informasi terkait beasiswa setelah lulus dari studi. Saat itu, Ratih mendapat informasi terkait Beasiswa PMDSU. Beasiswa tersebut ditujukan bagi sarjana unggul untuk melakukan percepatan pendidikan dari studi S2 menuju jenjang S3 serta menjadi lulusan doktor pada usia muda dalam waktu empat tahun.

“Saya memutuskan untuk mendaftar beasiswa tersebut dan ternyata lolos sehingga saya melanjutkan studi S2 di UGM. Setelah menjalani studi S2 selama satu tahun, alhamdulillah IPK S2 saya juga mencukupi untuk melanjutkan ke jenjang S3,” ujar Ratih Lestari.

Ratih menjadi sarjana dengan IPK 4 berturut-turut pada saat berada di studi S1 dengan prestasi sebagai mahasiswa berprestasi tingkat Fakultas MIPA UII tahun 2017. Saat menjalani S2 hingga S3 dirinya berhasil mendapatkan IPK 4 dengan studi tercepat pada wisuda periode III bulan April 2023/2024 dengan mengangkat tesis berupa Sintesis Nanopartikel Ekstrak Kulit Kakao untuk Aplikasi Antibakteri Klebsiella Pneumonia. Penelitian ini didasari dengan keterkaitan tesis yang diteliti Ratih saat studi S1 hingga S3 yaitu pembuatan nanomaterial dari bahan limbah.

Saat studi S3, Ratih mendapatkan kesempatan mengikuti program exchange untuk melakukan penelitian di Hokkaido University selama 4 bulan melalui program PKPI. Pada kesempatan emas itu, Ratih melanjutkan penelitian dan berkesempatan mengoperasikan instrumen yang tidak ada di UGM seperti XPS dan inVia Raman Microscope. Selain itu, ia juga mendapatkan relasi yang tidak biasa dari program exchange tersebut, serta berkesempatan mempelajari budaya dan mengetahui dunia luar.

Selama Ratih menjadi mahasiswa, ia selalu menerapkan kebiasaan untuk membuat jadwal harian yang akan dilakukan dengan cara ditulis agar tertata. Ia juga selalu menjaga konsistensi pada setiap agenda yang sudah dibuat untuk segera dilaksanakan. Dengan penerapan manajemen waktu yang baik, ia mengidentifikasi waktu-waktu produktif untuk fokus belajar. Tidak pernah bolos kuliah dan selalu mencatat penjelasan dosen serta mempersiapkan ujian minimal 2 minggu sebelum jadwal ujian ditetapkan juga menjadi tips dari Ratih untuk meraih IPK 4 setiap semesternya. Kisah inspiratif Ratih Lestari merupakan bukti pengimplementasian Fakultas MIPA dalam mendukung mahasiswanya untuk mendapatkan pendidikan berkualitas dengan memberikan fasilitas serta dukungan untuk pendidikan yang berkelanjutan seperti nilai pada SDGs poin 4 yaitu Pendidikan Berkualitas.

Penulis: Ratih cintia sari
Foto: Ratih Lestari
Editor: Febriska Noor Fitriana

Read More

Prof. Retantyo Tutup Usia, Inspirasinya Tetap Menyala

Setelah mengabdi selama 40 tahun sebagai seorang pendidik di FMIPA UGM, Prof. Drs. Retantyo Wardoyo, M.Sc., Ph.D tutup usia pada hari Kamis, 11 Juli 2024. Upacara penghormatan terakhir Prof. Retantyo dilaksanakan di Balairung UGM. Pilu dan duka yang dirasakan keluarga, rekan akademisi, dan pelayat menyelimuti seluruh rangkaian upacara yang dilaksanakan.

Tidak hanya disegani sebagai seorang akademisi, Prof. Retantyo yang akrab disapa Pak Yoyok tersebut memiliki tempat Istimewa di hati para mahasiswa dan koleganya.

“Pak Yoyok itu sudah seperti Bapak atau orang tua kami,” tutur salah seorang mahasiswa

Bahkan, salah 1 Tim Media FMIPA UGM tak kuat menahan air mata saat membuat poster pengumuman berita lelayu dari sosok guru besar di bidang komputasi dan algoritma yang tak lain juga adalah dosen yang mengampunya.

“Kemarin Senin padahal masih ketemu. Aku tuh sampai nangis waktu ngeditnya semalem,” tutur Nada.

Perjalanan hidup sosok Pak Yoyok menjadi inspirasi bagi orang di sekitarnya. Dari beliau, dapat dipetik pelajaran bahwa tidak semua yang diinginkan dapat dicapai dengan mudah. Hal ini tercermin dari kisah panjang hidupnya hingga akhirnya bisa mendapat gelar sebagai guru besar.

Kehilangan sosok ibu saat usia belia, membuat Pak Yoyok harus berpisah dengan keluarganya demi meneruskan pendidikan dengan bersekolah SMPN 3 Ambon. Kemudian, untuk mencukupi kebutuhan saat di bangku kuliah, Pak Yoyok harus berjualan nasi. Saat lulus kuliah, beliau langsung menjadi dosen hingga pada tahun 2024 pun akhirnya Pak Yoyok dikukuhkan sebagai guru besar.

Semangat dan dedikasinya di bidang pendidikan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. Walaupun sudah memasukki masa purna, beliau tetap ingin produktif untuk melakukan pengajaran dan penelitian. Dengan demikian, semangat dan dedikasinya tersebut patut untuk dikenang bagi semua orang dalam menjalani kehidupan dan menggapai Impian. Selamat jalan, Prof. Retantyo.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Foto: Hero Prakosa Wibowo Priyanto

Read More

Kawal Mitigasi Bencana di Asia Tenggara, FMIPA UGM Sambut Kunjungan Caraga State University Filipina

FMIPA UGM menerima kunjungan dari Caraga State University Filipina yang diwakili oleh Prof. Jayrold Arcede, Ph.D. pada Senin, 8 Juli 2024 di Ruang Sidang FMIPA UGM. Kunjungan ini bertujuan untuk membangun hubungan dan kolaborasi riset di bidang kebencanaan sekaligus memperkenalkan profil masing-masing fakultas di bidang sains.

Dr. Fajar Adi Kusumo, S.Si., M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Alumni, Kerja Sama, dan Inovasi FMIPA UGM beserta Dr. Nanang Susyanto, S.Si., M.Sc., selaku Ketua Departemen Matematika FMIPA UGM menyambut kehadiran dan inisiasi kerja sama yang diadakan. Dr. Fajar dan Dr. Nanang memberikan pemaparan mengenai profil dari FMIPA UGM beserta penelitian-penelitian yang ada.

“Dari data yang tersimpan jika bersifat open access, bisa kami akses karena letak antara Indonesia dan Filipina dalam 1 lokasi jalur tektonik. Hal ini agar datanya saling terkoneksi,” kata Dr. Fajar.

“Data dari kami bersifat open access. Kemudian, skema riset ini tidak hanya untuk mitigasi di bencana gempa bumi tetapi juga banjir melalui aplikasi SPECFEM dan pendekatan SEM-Newmark,” kata Prof. Jayrold.

Beberapa penelitian dan produk hasil riset untuk mitigasi bencana di FMIPA UGM juga dipaparkan sebagai informasi seperti drone dan early system warning untuk banjir. Di sisi lain, kegiatan riset kolaborasi ini mengajak masyarakat melalui komunitas-komunitas untuk turut mengembangkan ilmu matematika terapan dalam riset untuk mitigasi bencana. Dengan ini, dampak riset yang dihasilkan dapat menjangkau lebih luas.

Dari agenda kunjungan yang ada, FMIPA UGM turut mendukung poin 4 dan 9 SDGSs mengenai Pendidikan Berkualitas dan Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dengan Pendidikan Pembangunan melalui kolaborasi inovasi dan riset data matematika. Kemudian, riset yang diakukan bersama merupakan implementasi dari SDGs poin 11 yaitu Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui manajemen bencana dan strateg bencana. Selain itu, FMIPA UGM juga menyambut baik institusi pendidikan dalam kemitraan untuk mencapai tujuan di bidang pemajuan pendidikan sesuai dengan poin 17 SDGs.

Keywords: riset, inovasi, kolaborasi, program internasional, sains, bencana

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Foto: Febriska Noor Fitriana

Read More

Alumni Geofisika FMIPA UGM Ajak Pemuda Bijak Kelola Sampah Plastik

Puluhan pemuda di Yogyakarta mendapatkan kesempatan dalam memperoleh edukasi mengenai pengelolaan sampah plastik yang dilaksanakan pada 5 – 7 Juli 2024 di Wisma Ngestilaras, Kaliurang melalui acara Jambore Pemuda Daerah. Acara yang diselenggarakan oleh Purna Pemuda Muda Indonesia dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Yogyakarta ini turut mengundang Shofi Rahmadini Kusumastuti sebagai narasumber. Shofi diketahui merupakan alumni Geofisika FMIPA UGM yang bergelut di bidang lingkungan.

Dengan membawa tema Habis Platsik Susah Dibuang: Lalu Kaum Muda Bisa Apa? Shofi membagikan cerita dan wawasan terkait sampah plastik dengan beragam permasalahan dan solusinya.

“Kenapa plastik bermanfaat untuk kita?”, tanya Shofi dalam membuka presentasinya kepada para peserta.

Beragam jawaban disampaikan peserta melalui apliaksi interaktif menti.com dengan jawaban yang bervariasi mulai dari murah dan ringan, mudah dibawa, ekonomis, kuat dan ringan, dan lainnya.

Peserta mendapat materi yang meliputi jenis dan kode wadah plastik yang aman digunakan untuk konsumsi dan tidak, sejarah penggunaan plastik, kondisi lingkungan di sekitar Yogyakarta, tokoh dan pegiat lingkungan, mikroplastik, gaya hidup berkelanjutan, beserta solusi dalam penanganan sampah seperti menerapkan kegiatan 6R.

“Saat ini kita tidak hanya menerapkan 3R saja tetapi 6R yang terdiri atas rethink, refuse, reduce, reuse, repair, dan recycle dalam pengelolaan sampah plastik,” papar Shofi.

Dalam hal ini, Shofi juga memperkenalkan organisasi yang mau menerima sampah masyarakat seperti daur resik serta memperkenalkan toko keperluan sehari-hari yang ramah lingkungan. Dalam mengakhiri presentasinya, Shofi menekankan peran pemuda dalam pengelolaan lingkungan terutama sampah plastik dan mengajak para pemuda untuk memulai dari sekarang juga sesuai dengan kemampuan yang ada.

Peran Shofi dalam memberikan edukasi kepada pemuda untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sampah menjadi cerminan dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan wawasan dan keterampilan dalam mengelola sampah. Kemudian, turut menjadi implementasi dari SDGs nomor 6 yaitu Air Bersih dan Sanitasi Layak, nomor 12 yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, nomor 13 yaitu Penanganan Perubahan Iklim, nomor 14 yaitu Ekosistem Lautan, dan nomor 15 yaitu Ekosistem Daratan melalui perlindungan ekosistem dan air bersih, konsumersime, pengelolaan limbah, aksi iklim, edukasi mikroplastik, dan perlindungan lingkungan.

Read More

Edukasi Bencana hingga Negeri Sakura, Dosen FMIPA UGM Gelar Pengabdian Masyarakat dengan Mount Fuji Research Institute

Dosen Geofisika FMIPA UGM, Dr. Wiwit Suryanto memberikan edukasi bencana di Kota Kawaguchiko, Jepang bersama dengan BPBD Kabupaten Karangasem Bali, Kepala SDN Sebudi Karangasem, Dr. Sukma Arida dari Universitas Udayana, dan dari forum relawan FPRB Provinsi Bali (Ibu Dewi Reny Anggraeni) pada 22 – 25 Juni 2024. Kegiatan ini adalah bagian dari proyek dengan funding dari JICA Grassroot Technical Cooperation Project dengan judul “Building a Disaster-Resistant Community through the Utilization of Local Universities as a Base for Responding to Low Frequency, Large-Scale Disasters yang dimulai sejak tahun 2022.

Dr. Wiwit Suryanto bersama tim diundang oleh Mount Fuji Research Institute untuk memberikan pendidikan mitigasi bencana erupsi gunung api, khususnya di lereng Gunung Agung, Bali. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 22 hingga 25 Juni 2024, mencakup loka karya edukasi bencana gunungapi di SMP Katsuyama di Kota Kawaguchiko, Jepang.

Melalui loka karya yang dilaksanakan di SMP Katsuyama, para siswa mendapatkan wawasan dan pemahaman mendalam perihal fenomena gunung api dan cara-cara mitigasi yang efektif. Loka karya ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kegiatan serupa di masa mendatang, baik di Jepang maupun di Indonesia.

Kegiatan ini merupakan implementasi dari poin SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui akses pendidikan kebencanaan. Kemudian, SDGSs nomor 13 yaitu Penanganan Perubahan Iklim dengan fokus manajemen perubahan iklim. Dalam konteks mitigasi bencana alam, kegiatan ini berfokus pada peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai risiko bencana gunungapi serta langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengurangi dampak dari bencana tersebut. Selain itu, acara tersebut juga merupakan bagian dari SDGs nomor 11 yaitu Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan melalui manajemen bencana dan pengurangan risiko bencana.

Dengan adanya kolaborasi ini, hubungan antara FMIPA UGM dan institusi internasional lainnya diharpakn akan dapat terus terjalin dengan baik serta berdampak dalam kontribusi nyata terhadap mitigasi bencana untuk kesejahteraan masyarakat global. Hal tersebut merupakan implementasi dari SDGs nomor 17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kemitraan global yang terjalin.

Referensi tambahan dapat ditemukan pada berita NHK dan Kanal Bali, yang melaporkan detail mengenai acara tersebut dan dampaknya terhadap upaya mitigasi bencana gunungapi.

Reportase: Wiwit Suryanto
Penulis: Febriska Noor Fitriana

Read More

FMIPA UGM Lanjutkan Inisiasi Kerja Sama dengan Universitas Prasetya Mulya

FMIPA UGM kembali melanjutkan inisiasi kerja sama yang dilakukan bersama dengan Universitas Prasetya Mulya. Sebelumnya, Universitas Prasetya Mulya telah melangsungkan kunjungan pada bulan Mei dengan segenap jajaran pimpinan yang turut hadir di Ruang Sidang FMIPA UGM. Kunjungan tersebut bertujuan untuk membangun hubungan secara formal sekaligus memperkenalkan profil masing-masing fakultas di bidang sains.

Segenap jajaran pimpinan FMIPA UGM menyambut baik tindak lanjut dari inisiasi kerja sama yang diadakan. Dekan FMIPA UGM, Prof. Kuwat beserta jajaran juga memberikan pemaparan mengenai peluang-peluang kerja sama yang bisa dilaksanakan untuk memajukan jalinan antara industri dan perguruan tinggi.

Dalam hal ini, Dekan FMIPA UGM mengapresiasi bagaimana Universitas Prasetya Mulya membangun koneksi dan mendorong mahasiswanya untuk terjun di dunia industri dan pasar global sehingga memperluas jejaring koneksi antar mahasiswa dan alumnus.

“Mahasiswa kami sudah banyak yang terjun di berbagai industri dan memiliki peran strategis di dalam praktiknya,” papar Stevanus Wisnu selaku perwakilan dari Universitas Prasetya Mulya.

“Kita telah menjalin kerja sama dengan berbagai kampus seperti University of Birmingham, National Central University Taiwan, University of Twente, dan lainnya. FMIPA UGM juga menjalin riset inovasi bersama dengan mitra-mitra kampus tersebut,” kata Dr. Roto.

Dari agenda tindak lanjut inisiasi kerja sama yang ada, FMIPA UGM turut mendukung poin 4 SDGSs mengenai pendidikan berkualitas melalui kemitraan dan kerja sama dari masing-masing universitas. Selain itu, FMIPA UGM juga menyambut baik institusi pendidikan dalam kemitraan untuk mencapai tujuan di bidang pemajuan pendidikan sesuai dengan poin 17 SDGs.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Foto: Febriska Noor Fitriana

Read More

Kisah Kharisma Mahasiswa FMIPA UGM, Anak ART yang Pantang Menyerah dalam Menggapai Impian

Tidak jarang keterbatasan ekonomi menjadi kendala tersendiri dalam menempuh pendidikan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Kharisma Jayanti Putri, mahasiswa baru Program Studi S1 Kimia UGM, yang pantang menyerah dalam menggapai impian.

“Saya tidak mau membebani Ibu saya,” ungkap Kharisma, anak bungsu dari pasangan alm. Jaswadi dan Asyati (50).

Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, Kharisma, sang ibu, dan sang kakak, menggantungkan harapan pada pekerjaan ibunya sebagai asisten rumah tangga. Pendapatan per bulan yang hanya berkisar di angka Rp900.000,00 harus diatur sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga selama sebulan.

Namun, Kharisma tidak serta-merta berpasrah pada keadaan yang ada. Ia sadar bahwa ia harus berjuang lebih. Oleh karena itu, sejak kelas 12, Kharisma sudah mulai mencari berbagai informasi beasiswa untuk berkuliah. Apabila Kharisma memenuhi persyaratan suatu beasiswa, maka ia akan mencoba untuk mendaftar. Hingga saat ini, ia masih berjuang dengan mendaftar berbagai beasiswa, baik beasiswa biaya pendidikan, beasiswa uang saku, maupun beasiswa tempat tinggal. Ia sangat berharap dapat lolos beasiswa agar kebutuhannya selama berkuliah dapat terpenuhi tanpa harus membebani ibunya.

Selama duduk di bangku SMA, Kharisma merupakan pribadi yang aktif dan gemar berorganisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Palang Merah Remaja (PMR) SMA Negeri 2 Pati, Bendahara Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA Negeri 2 Pati, Sekretaris Forum Remaja Palang Merah Indonesia Kabupaten Pati, dan Koordinator Divisi Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif Forum OSIS Kabupaten Pati.

Kharisma juga mengungkapkan bahwa ia ingin melanjutkan kiprahnya di dunia organisasi selama berkuliah nanti dengan tetap memperhatikan indeks prestasinya agar tidak memengaruhi beasiswa. Selain perencanaan selama berkuliah, Kharisma juga mengaku sudah memiliki perencanaan setelah lulus dari Kimia UGM. Ia memaparkan bahwa ia ingin menjadi analis laboratorium.

Kisah perjuangan Kharisma menunjukkan bahwa kesempatan untuk menempuh pendidikan masih terbuka lebar bagi siapapun asalkan mau berusaha dan tidak patah semangat dengan kendala yang ditemui. Hal ini menunjukkan wujud nyata dari SDGs poin 10, yaitu Berkurangnya Kesenjangan karena dapat dilihat bahwa faktor sosial ekonomi tidak memengaruhi kesempatan dalam meraih pendidikan. Selain itu, kisah Kharisma juga menunjukkan implementasi dari SDGs poin 5, yaitu Kesetaraan Gender karena didapatnya kesetaraan akses dan kesetaraan kesempatan tanpa memandang gender. Harapannya, kisah Kharisma mampu memotivasi banyak orang untuk terus memperjuangkan mimpinya tanpa takut dengan kendala yang dimiliki.

Penulis: Azzah Nurfatin
Foto: Kharisma Jayanti Putri
Editor: Febriska Noor Fitriana

Read More

FMIPA UGM dan PT MAIPARK Indonesia Teken Perjanjian Kerja Sama, Dukung Indonesia Tangguh Bencana

Indonesia merupakan negara yang terkenal sebagai salah satu dari 35 negara di dunia yang memiliki risiko bencana yang tinggi. BNPB mencatat terdapat 5.400 kejadian bencana yang terjadi sepanjang tahun 2023. Bencana alam yang terjadi di Indonesia menimbulkan dampak yang cukup signifikan, baik secara fisik berupa kerusakan bangunan maupun non-fisik berupa korban jiwa hingga kerugian finansial.

Merujuk pada hal tersebut, FMIPA UGM bersama PT MAIPARK Indonesia bersinergi dalam riset pengelolaan risiko bencana melalui penandatanganan kerja sama yang diselenggarakan pada hari Rabu, 10 Juli 2024 di FMIPA UGM. Acara tersebut dihadiri oleh Dekan FMIPA UGM, dosen Departemen Matematika FMIPA UGM, serta Direktur Utama PT MAIPARK yang didampingi oleh jajarannya.

“Ini merupakan kehormatan bagi kami bisa bekerja sama dengan industri,” tutur Prof. Dr.Eng. Kuwat Triyana, M.Si dalam sambutan yang diberikan.

Direktur utama PT MAIPARK, Kocu Andre Hutagalung menyampaikan bahwa dijalinnya kolaborasi tersebut bertujuan untuk menjadikan Indonesia tangguh bencana. Hal ini berarti bahwa ketika terjadi bencana di Indonesia, negara memiliki mekanisme untuk membantu korban-korban bencana.

“Hal tersebut tidak akan dimiliki jika kita tidak memiliki kemampuan mendeskripsikan risiko bencana alam. Kemudian untuk mendeskripsikan risiko bencana alam dibutuhkan model bencana alam dan di situlah peran dari kerja sama kita karena untuk mendeskripsikan model tersebut dibutuhkan ilmu pengetahuan, seperti matematika,” papar Kocu.

Lebih lanjut dirinya menyampaikan bahwa spektrum kerja sama yang akan dibangun meliputi pendidikan hingga aktivitas penelitian serta pengembangan bisnis asuransi bencana alam. Sementara ini, sudah ada 2 mahasiswa dari Program Studi Aktuaria FMIPA UGM yang tengah melakukan magang di PT MAIPARK. Sebelumnya, PT MAIPARK juga telah aktif memperkenalkan aktuaria bencana alam melalui pemaparan kuliah singkat mengenai permodelan katostropik.

“Saya yakin bahwa kami akan mendapatkan dukungan yang tepat dan kuat, khususnya dari FMIPA UGM karena dalam industri asuransi maupun reasuransi membutuhkan dukungan pengetahuan kuantitatif dalam pengelolaan risiko bencana alam,” tutur  Kocu.

Melalui perjanjian kerja sama ini diharapkan mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri yang berdampak dalam mendukung Indonesia tangguh bencana. Acara ini turut menjadi cerminan dari SDGs di poin 4 yaitu Pendidikan Berkualitas dalam pendidikan untuk keberlanjutan melalui peluang riset dan studi, poin 11 yaitu Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan melalui manajemen bencana, poin 13 yaitu Penanganan Perubahan Iklim melalui manajemen perubahan iklim, dan poin 17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam mendorong inovasi dan kemitraan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri.

Penulis: Meitha Eka Nurhasanah
Foto: Hero Prakosa Wibowo Priyanto
Editor: Febriska Noor Fitriana

Read More

Kisah Inspiratif Ratih Lestari Sarjana Doktor Pemilik IPK 4 dengan Studi Tercepat

Memilih Kimia sebagai jalur pendidikan tak pernah terbayangkan oleh Ratih Lestari. Kini, dirinya sedang menjalani program Postdoctoral di Universitas Gadjah Mada. Berawal dari terpesona dengan kemampuan mengajar yang menarik dari guru di Pondok Pesantren tempat Ratih menimba ilmu, dirinya memutuskan untuk menjatuhkan hatinya di jurusan Kimia pada program S1.

“Setelah lulus S1 saya bertekad untuk menjadi dosen,” terang Ratih Lestari yang biasa disapa Ratih dalam wawancara daring, Jumat (5/7).

Dengan tekad dan kesungguhan Ratih dalam menggapai keinginannya, S1 dirinya mulai mengulik informasi terkait beasiswa setelah lulus dari studi. Saat itu, Ratih mendapat informasi terkait Beasiswa PMDSU. Beasiswa tersebut ditujukan bagi sarjana unggul untuk melakukan percepatan pendidikan dari studi S2 menuju jenjang S3 serta menjadi lulusan doktor pada usia muda dalam waktu empat tahun.

“Saya memutuskan untuk mendaftar beasiswa tersebut dan ternyata lolos sehingga saya melanjutkan studi S2 di UGM. Setelah menjalani studi S2 selama satu tahun, alhamdulillah IPK S2 saya juga mencukupi untuk melanjutkan ke jenjang S3,” ujar Ratih Lestari.

Ratih menjadi sarjana dengan IPK 4 berturut-turut pada saat berada di studi S1 dengan prestasi sebagai mahasiswa berprestasi tingkat Fakultas MIPA UII tahun 2017. Saat menjalani S2 hingga S3 dirinya berhasil mendapatkan IPK 4 dengan studi tercepat pada wisuda periode III bulan April 2023/2024 dengan mengangkat tesis berupa Sintesis Nanopartikel Ekstrak Kulit Kakao untuk Aplikasi Antibakteri Klebsiella Pneumonia. Penelitian ini didasari dengan keterkaitan tesis yang diteliti Ratih saat studi S1 hingga S3 yaitu pembuatan nanomaterial dari bahan limbah.

Saat studi S3, Ratih mendapatkan kesempatan mengikuti program exchange untuk melakukan penelitian di Hokkaido University selama 4 bulan melalui program PKPI. Pada kesempatan emas itu, Ratih melanjutkan penelitian dan berkesempatan mengoperasikan instrumen yang tidak ada di UGM seperti XPS dan inVia Raman Microscope. Selain itu, ia juga mendapatkan relasi yang tidak biasa dari program exchange tersebut, serta berkesempatan mempelajari budaya dan mengetahui dunia luar.

Selama Ratih menjadi mahasiswa, ia selalu menerapkan kebiasaan untuk membuat jadwal harian yang akan dilakukan dengan cara ditulis agar tertata. Ia juga selalu menjaga konsistensi pada setiap agenda yang sudah dibuat untuk segera dilaksanakan. Dengan penerapan manajemen waktu yang baik, ia mengidentifikasi waktu-waktu produktif untuk fokus belajar. Tidak pernah bolos kuliah dan selalu mencatat penjelasan dosen serta mempersiapkan ujian minimal 2 minggu sebelum jadwal ujian ditetapkan juga menjadi tips dari Ratih untuk meraih IPK 4 setiap semesternya. Kisah inspiratif Ratih Lestari merupakan bukti pengimplementasian Fakultas MIPA dalam mendukung mahasiswanya untuk mendapatkan pendidikan berkualitas dengan memberikan fasilitas serta dukungan untuk pendidikan yang berkelanjutan seperti nilai pada SDGs poin 4 yaitu Pendidikan Berkualitas.

Penulis: Ratih cintia sari
Foto: Ratih Lestari
Editor: Febriska Noor Fitriana

Read More

Prof. Retantyo Tutup Usia, Inspirasinya Tetap Menyala

Setelah mengabdi selama 40 tahun sebagai seorang pendidik di FMIPA UGM, Prof. Drs. Retantyo Wardoyo, M.Sc., Ph.D tutup usia pada hari Kamis, 11 Juli 2024. Upacara penghormatan terakhir Prof. Retantyo dilaksanakan di Balairung UGM. Pilu dan duka yang dirasakan keluarga, rekan akademisi, dan pelayat menyelimuti seluruh rangkaian upacara yang dilaksanakan.

Tidak hanya disegani sebagai seorang akademisi, Prof. Retantyo yang akrab disapa Pak Yoyok tersebut memiliki tempat Istimewa di hati para mahasiswa dan koleganya.

“Pak Yoyok itu sudah seperti Bapak atau orang tua kami,” tutur salah seorang mahasiswa

Bahkan, salah 1 Tim Media FMIPA UGM tak kuat menahan air mata saat membuat poster pengumuman berita lelayu dari sosok guru besar di bidang komputasi dan algoritma yang tak lain juga adalah dosen yang mengampunya.

“Kemarin Senin padahal masih ketemu. Aku tuh sampai nangis waktu ngeditnya semalem,” tutur Nada.

Perjalanan hidup sosok Pak Yoyok menjadi inspirasi bagi orang di sekitarnya. Dari beliau, dapat dipetik pelajaran bahwa tidak semua yang diinginkan dapat dicapai dengan mudah. Hal ini tercermin dari kisah panjang hidupnya hingga akhirnya bisa mendapat gelar sebagai guru besar.

Kehilangan sosok ibu saat usia belia, membuat Pak Yoyok harus berpisah dengan keluarganya demi meneruskan pendidikan dengan bersekolah SMPN 3 Ambon. Kemudian, untuk mencukupi kebutuhan saat di bangku kuliah, Pak Yoyok harus berjualan nasi. Saat lulus kuliah, beliau langsung menjadi dosen hingga pada tahun 2024 pun akhirnya Pak Yoyok dikukuhkan sebagai guru besar.

Semangat dan dedikasinya di bidang pendidikan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. Walaupun sudah memasukki masa purna, beliau tetap ingin produktif untuk melakukan pengajaran dan penelitian. Dengan demikian, semangat dan dedikasinya tersebut patut untuk dikenang bagi semua orang dalam menjalani kehidupan dan menggapai Impian. Selamat jalan, Prof. Retantyo.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Foto: Hero Prakosa Wibowo Priyanto

Read More

Kawal Mitigasi Bencana di Asia Tenggara, FMIPA UGM Sambut Kunjungan Caraga State University Filipina

FMIPA UGM menerima kunjungan dari Caraga State University Filipina yang diwakili oleh Prof. Jayrold Arcede, Ph.D. pada Senin, 8 Juli 2024 di Ruang Sidang FMIPA UGM. Kunjungan ini bertujuan untuk membangun hubungan dan kolaborasi riset di bidang kebencanaan sekaligus memperkenalkan profil masing-masing fakultas di bidang sains.

Dr. Fajar Adi Kusumo, S.Si., M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Alumni, Kerja Sama, dan Inovasi FMIPA UGM beserta Dr. Nanang Susyanto, S.Si., M.Sc., selaku Ketua Departemen Matematika FMIPA UGM menyambut kehadiran dan inisiasi kerja sama yang diadakan. Dr. Fajar dan Dr. Nanang memberikan pemaparan mengenai profil dari FMIPA UGM beserta penelitian-penelitian yang ada.

“Dari data yang tersimpan jika bersifat open access, bisa kami akses karena letak antara Indonesia dan Filipina dalam 1 lokasi jalur tektonik. Hal ini agar datanya saling terkoneksi,” kata Dr. Fajar.

“Data dari kami bersifat open access. Kemudian, skema riset ini tidak hanya untuk mitigasi di bencana gempa bumi tetapi juga banjir melalui aplikasi SPECFEM dan pendekatan SEM-Newmark,” kata Prof. Jayrold.

Beberapa penelitian dan produk hasil riset untuk mitigasi bencana di FMIPA UGM juga dipaparkan sebagai informasi seperti drone dan early system warning untuk banjir. Di sisi lain, kegiatan riset kolaborasi ini mengajak masyarakat melalui komunitas-komunitas untuk turut mengembangkan ilmu matematika terapan dalam riset untuk mitigasi bencana. Dengan ini, dampak riset yang dihasilkan dapat menjangkau lebih luas.

Dari agenda kunjungan yang ada, FMIPA UGM turut mendukung poin 4 dan 9 SDGSs mengenai Pendidikan Berkualitas dan Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dengan Pendidikan Pembangunan melalui kolaborasi inovasi dan riset data matematika. Kemudian, riset yang diakukan bersama merupakan implementasi dari SDGs poin 11 yaitu Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui manajemen bencana dan strateg bencana. Selain itu, FMIPA UGM juga menyambut baik institusi pendidikan dalam kemitraan untuk mencapai tujuan di bidang pemajuan pendidikan sesuai dengan poin 17 SDGs.

Keywords: riset, inovasi, kolaborasi, program internasional, sains, bencana

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Foto: Febriska Noor Fitriana

Read More

Alumni Geofisika FMIPA UGM Ajak Pemuda Bijak Kelola Sampah Plastik

Puluhan pemuda di Yogyakarta mendapatkan kesempatan dalam memperoleh edukasi mengenai pengelolaan sampah plastik yang dilaksanakan pada 5 – 7 Juli 2024 di Wisma Ngestilaras, Kaliurang melalui acara Jambore Pemuda Daerah. Acara yang diselenggarakan oleh Purna Pemuda Muda Indonesia dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Yogyakarta ini turut mengundang Shofi Rahmadini Kusumastuti sebagai narasumber. Shofi diketahui merupakan alumni Geofisika FMIPA UGM yang bergelut di bidang lingkungan.

Dengan membawa tema Habis Platsik Susah Dibuang: Lalu Kaum Muda Bisa Apa? Shofi membagikan cerita dan wawasan terkait sampah plastik dengan beragam permasalahan dan solusinya.

“Kenapa plastik bermanfaat untuk kita?”, tanya Shofi dalam membuka presentasinya kepada para peserta.

Beragam jawaban disampaikan peserta melalui apliaksi interaktif menti.com dengan jawaban yang bervariasi mulai dari murah dan ringan, mudah dibawa, ekonomis, kuat dan ringan, dan lainnya.

Peserta mendapat materi yang meliputi jenis dan kode wadah plastik yang aman digunakan untuk konsumsi dan tidak, sejarah penggunaan plastik, kondisi lingkungan di sekitar Yogyakarta, tokoh dan pegiat lingkungan, mikroplastik, gaya hidup berkelanjutan, beserta solusi dalam penanganan sampah seperti menerapkan kegiatan 6R.

“Saat ini kita tidak hanya menerapkan 3R saja tetapi 6R yang terdiri atas rethink, refuse, reduce, reuse, repair, dan recycle dalam pengelolaan sampah plastik,” papar Shofi.

Dalam hal ini, Shofi juga memperkenalkan organisasi yang mau menerima sampah masyarakat seperti daur resik serta memperkenalkan toko keperluan sehari-hari yang ramah lingkungan. Dalam mengakhiri presentasinya, Shofi menekankan peran pemuda dalam pengelolaan lingkungan terutama sampah plastik dan mengajak para pemuda untuk memulai dari sekarang juga sesuai dengan kemampuan yang ada.

Peran Shofi dalam memberikan edukasi kepada pemuda untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sampah menjadi cerminan dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan wawasan dan keterampilan dalam mengelola sampah. Kemudian, turut menjadi implementasi dari SDGs nomor 6 yaitu Air Bersih dan Sanitasi Layak, nomor 12 yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, nomor 13 yaitu Penanganan Perubahan Iklim, nomor 14 yaitu Ekosistem Lautan, dan nomor 15 yaitu Ekosistem Daratan melalui perlindungan ekosistem dan air bersih, konsumersime, pengelolaan limbah, aksi iklim, edukasi mikroplastik, dan perlindungan lingkungan.

Read More

Edukasi Bencana hingga Negeri Sakura, Dosen FMIPA UGM Gelar Pengabdian Masyarakat dengan Mount Fuji Research Institute

Dosen Geofisika FMIPA UGM, Dr. Wiwit Suryanto memberikan edukasi bencana di Kota Kawaguchiko, Jepang bersama dengan BPBD Kabupaten Karangasem Bali, Kepala SDN Sebudi Karangasem, Dr. Sukma Arida dari Universitas Udayana, dan dari forum relawan FPRB Provinsi Bali (Ibu Dewi Reny Anggraeni) pada 22 – 25 Juni 2024. Kegiatan ini adalah bagian dari proyek dengan funding dari JICA Grassroot Technical Cooperation Project dengan judul “Building a Disaster-Resistant Community through the Utilization of Local Universities as a Base for Responding to Low Frequency, Large-Scale Disasters yang dimulai sejak tahun 2022.

Dr. Wiwit Suryanto bersama tim diundang oleh Mount Fuji Research Institute untuk memberikan pendidikan mitigasi bencana erupsi gunung api, khususnya di lereng Gunung Agung, Bali. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 22 hingga 25 Juni 2024, mencakup loka karya edukasi bencana gunungapi di SMP Katsuyama di Kota Kawaguchiko, Jepang.

Melalui loka karya yang dilaksanakan di SMP Katsuyama, para siswa mendapatkan wawasan dan pemahaman mendalam perihal fenomena gunung api dan cara-cara mitigasi yang efektif. Loka karya ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kegiatan serupa di masa mendatang, baik di Jepang maupun di Indonesia.

Kegiatan ini merupakan implementasi dari poin SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui akses pendidikan kebencanaan. Kemudian, SDGSs nomor 13 yaitu Penanganan Perubahan Iklim dengan fokus manajemen perubahan iklim. Dalam konteks mitigasi bencana alam, kegiatan ini berfokus pada peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai risiko bencana gunungapi serta langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengurangi dampak dari bencana tersebut. Selain itu, acara tersebut juga merupakan bagian dari SDGs nomor 11 yaitu Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan melalui manajemen bencana dan pengurangan risiko bencana.

Dengan adanya kolaborasi ini, hubungan antara FMIPA UGM dan institusi internasional lainnya diharpakn akan dapat terus terjalin dengan baik serta berdampak dalam kontribusi nyata terhadap mitigasi bencana untuk kesejahteraan masyarakat global. Hal tersebut merupakan implementasi dari SDGs nomor 17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kemitraan global yang terjalin.

Referensi tambahan dapat ditemukan pada berita NHK dan Kanal Bali, yang melaporkan detail mengenai acara tersebut dan dampaknya terhadap upaya mitigasi bencana gunungapi.

Reportase: Wiwit Suryanto
Penulis: Febriska Noor Fitriana

Read More

FMIPA UGM Lanjutkan Inisiasi Kerja Sama dengan Universitas Prasetya Mulya

FMIPA UGM kembali melanjutkan inisiasi kerja sama yang dilakukan bersama dengan Universitas Prasetya Mulya. Sebelumnya, Universitas Prasetya Mulya telah melangsungkan kunjungan pada bulan Mei dengan segenap jajaran pimpinan yang turut hadir di Ruang Sidang FMIPA UGM. Kunjungan tersebut bertujuan untuk membangun hubungan secara formal sekaligus memperkenalkan profil masing-masing fakultas di bidang sains.

Segenap jajaran pimpinan FMIPA UGM menyambut baik tindak lanjut dari inisiasi kerja sama yang diadakan. Dekan FMIPA UGM, Prof. Kuwat beserta jajaran juga memberikan pemaparan mengenai peluang-peluang kerja sama yang bisa dilaksanakan untuk memajukan jalinan antara industri dan perguruan tinggi.

Dalam hal ini, Dekan FMIPA UGM mengapresiasi bagaimana Universitas Prasetya Mulya membangun koneksi dan mendorong mahasiswanya untuk terjun di dunia industri dan pasar global sehingga memperluas jejaring koneksi antar mahasiswa dan alumnus.

“Mahasiswa kami sudah banyak yang terjun di berbagai industri dan memiliki peran strategis di dalam praktiknya,” papar Stevanus Wisnu selaku perwakilan dari Universitas Prasetya Mulya.

“Kita telah menjalin kerja sama dengan berbagai kampus seperti University of Birmingham, National Central University Taiwan, University of Twente, dan lainnya. FMIPA UGM juga menjalin riset inovasi bersama dengan mitra-mitra kampus tersebut,” kata Dr. Roto.

Dari agenda tindak lanjut inisiasi kerja sama yang ada, FMIPA UGM turut mendukung poin 4 SDGSs mengenai pendidikan berkualitas melalui kemitraan dan kerja sama dari masing-masing universitas. Selain itu, FMIPA UGM juga menyambut baik institusi pendidikan dalam kemitraan untuk mencapai tujuan di bidang pemajuan pendidikan sesuai dengan poin 17 SDGs.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Foto: Febriska Noor Fitriana

Read More
Translate