Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur

Dongkrak Angka Melek Digital Masyarakat, Intip Viga Mahasiswa FMIPA UGM Buka Kelas Coding

Viga Hardjanto, mahasiswa pascasarjana FMIPA UGM membuka kelas coding atau pemrogaman bagi masyarakat umum dalam rangka meningkatkan kompetensi masyarakat khususnya di bidang digital. Terdapat 2 kelas yaitu kelas anak-anak dan kelas dewasa. Pada kelas anak-anak, manfaat kelas ini dapat dirasakan seperti untuk mengembangkan keterampilan kognitif dan mendorong keterampilan di bidang matematika hingga seni. Di sisi lain, pada kelas dewasa akan membantu memahami teknologi dengan cara yang terstruktur, meingkatkan prospek karir khususnya di bidang data analyst dan software developer.

“Kelas coding python dasar untuk pemula yang baru belajar pemrograman. Kelasnya sifatnya online class (bukan hanya sekedar video pembelajaran). Di kelas yang Aku buka sendiri namanya Kodenus Aku bertugas untuk menyiapkan materi, mengajar, dan reporting ke client terkait capaian pembelajaran. Materinya mulai dari Pengantar Python sebagai suatu bahasa pemrograman, variable, tipe data, operasi dasar, hingga pembuatan mini project. Kelas ini terinspirasi dari tempatku kerja lainnya (company asal Rusia), tetapi sayangnya kelas dan materi di company ini utamanya ditujukan untuk anak-anak dan remaja (belum mencakup kaum dewasa),” papar Viga.

Peserta kelasnya berasal dari berbagai kalangan seperti pelajar dari jenjang SD hingga SMA, masyarakat yang sedang berusaha bekerja di bidang lain, dan kalangan ASN yang memerlukan pembelajaran analisis data atau sekadar ingin mengetahui pemograman.

Seneng dan seneng banget. Apalagi kalau yang Aku sampaikan bisa diterima dengan baik sama client baik dari komunikasi di kelas dan ketika deal-dealan harga kelas. Kesulitan yang sering terjadi ketika reschedule karena kebanyakan kalo kelas seperti ini ambil waktunya di sore – malam hari sehingga kalo reschedule kadang cukup sulit dikala jadwal sore atau malam lainnya sudah penuh,” ungkap Viga.

Dari kelas yang ditawarkan Viga, terdapat 7 pertemuan. Pada pertemuan pertama materi yang diberikan adalah pengantar Phyton, Variabel, dan Tipe Data. Kemudian dilanjutkan dengan Casting, Manipulasi String pada pertemuan kedua serta Operator dan List pada pertemuan ketiga. Selanjutnya, pada pertemuan keempat diberikan materi Tuple, Set, dan Dictionary serta pada pertemuan kelima diberikan materi Conditional, Statements, dan Looping. Pada pertemuan akhir yaitu 7 dan 8 akan diberikan materi Function dan File Handling.

“Kelas coding yang dibuka harapannya bisa dirasakan manfaatnya untuk para pemula yang baru belajar pemrograman. Tidak ada hal yang cukup mahal dan sebanding di bidang keilmuan karena anggaplah seperti kita punya “gaman” (senjata) kita bisa pakai kapanpun ketika itu dibutuhkan. Harapan selanjutnya kelas coding (Kodenus) yang dibuka semakin banyak siswanya khususnya bisa untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin belajar langsung coding bersama mentor mengingat realita yang ada kelas coding saat ini cukup mahal. Kalopun yang cukup miring harganya itu biasanya dalam bentuk rekaman video pembelajaran atau kasus lain kalo pas kelas online dalam satu sesi terlalu banyak peserta sehingga sering kurang optimal dalam pembelajarannya,” papar Viga.

Peran Viga dalam mendongkrak angka melek digital pada masyarakat melalui kelas coding yang dibukanya menjadi implementasi dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan keterampilan di bidang digital. Kemudian, hal ini juga menjadi cerminan dari SDGs nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan ilmu di bidang teknologi bagi mahasiswa FMIPA UGM kepada masyarakat.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Viga Hardjanto

Read More

Cerita Fajar, Dosen Kimia FMIPA UGM: Bina Mahasiswa dan Pelajar Hingga Sabet Medali di Ajang PIMNAS dan Olimpiade Kimia Internasional

Ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional dan International Chemistry Olympiad (IChO) atau Olimpiade Kimia Internasional menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dan pelajar tak terkecuali juga bagi pembina mereka yang salah satunya merupakan Dosen Kimia FMIPA UGM, Mokhamad Fajar Pradipta, S.Si., M.Eng. Pada bidang PIMNAS, beberapa karya yang lolos melenggang ke babak nasional hingga menyabet medali emas adalah TecoBator: Alat Pemasakan dan Inkubator Sterilisasi Sebagai Solusi Peningkatan produktivitas dan Umur Simpan Madu Nabati Kepala di KWT Nira Lestari serta NCT (Neutral Carbon Transportation): Inovasi sistem Transportasi berbasis E-fuel sebagai Supporting Konsep Self Managing Weather City di Indonesia.

“Pembinaan PKM yang paling berkesan adalah pada tahun 2023 dengan meloloskan 2 tim PKM dan mendapatkan 2 medali emas dan 1 perunggu. Sangat berkesan karena dengan pendampingan tidak kenal lelah berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya akhirnya yang dicita-citakan membawa medali emas tercapai,” papar Fajar.

Fajar juga turut memberikan pembinaan mengenai peran dosen pembimbing seperti mendampingi dan mengarahkan mahasiswa agar PKM sesuai dengan yang ditulis di proposal, membantu mahasiswa untuk mengakses pemakaian fasilitas yang diperlukan, memantau hasil pelaksanaan PKM secara berkala, memberi motivasi agar luaran PKM berkualitas, memberi solusi apabila ditemui permasalahan selama pelaksanaan PKM, dan lainnya.

Kepada para mahasiswa, Fajar menekankan untuk terus melakukan latihan terutama saat di ajang PIMNAS. Dirinya juga menyampaikan bahwa perlunya mahasiswa untuk aktif melakukan konsultasi kepada dosen-dosen yang menjadi pembimbingnya.

“Jangan takut untuk berkreasi, manfaatkan kesempatan yang ada, dan berikan dampak positif bagi masyarakat,” papar Fajar.

Selain mengantarkan mahasiswa menyabet medali emas hingga perunggu, Fajar juga melakukan pembinaan terhadap pelajar yang akan menghadapi International Chemistry Olympiad (IChO) atau Olimpiade Kimia Internasional di Riyadh, Arab Saudi. Ajang kompetisi di bidang Kimia berskala dunia tersebut turut melibatkan peran Fajar untuk membina para pelajar dari segi materi dan juga praktik. Pada tahun ini, para delegasi pelajar Indonesia mampu menyabet medali perunggu dalam ajang tersebut.

Kiprah dan peran Fajar dalam membina mahasiswa pada ajang PIMNAS dan pelajar pada bidang International Chemistry Olympiad (IChO) atau Olimpiade Kimia Internasional hingga meraih medali menjadi cerminan dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui akses terhadap pendidikan dan peningkatan keterampilan baik untuk mahasiswa atau pelajar khususnya di bidang Kimia. Selain itu, hasil pembinaan yang dilakukan turut mendukung generasi muda dalam menciptakan inovasi yang berdampak bagi masyarakat sehingga menjadi implementasi dari SDGs nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Mokhamad Fajar Pradipta

Read More

Latih Masyarakat Pesisir Olah Daun Mangrove Jadi Sabun Cair, Simak Cerita Aziz Mahasiswa Kimia FMIPA UGM

Momen KKN menjadi pengalaman berharga bagi Aziz, mahasiswa Kimia FMIPA UGM dalam mengimplementasikan ilmunya kepada masyarakat bersama dengan tim kelompoknya. Lokasi KKN Aziz berada pada Desa Wedung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Terdapat 5 program kerja yang dijalankan Aziz yaitu edukasi budidaya maggot, diversifikasi minyak jelantah untuk lilin aromaterapi, pemanfaatan daun mangrove untuk sabun cair, science fair, serta lomba tartil Al-Qur’an, sains, dan calistung.

Melihat kekayaan potensi wilayah desa KKN tersebutm membuat Aziz bergerak dalam memberdayakan daun mangrove menjadi sesuatu hal yang bernilai lebih. Hal ini juga didukung oleh disiplin ilmu yang dipelajarinya di bangku kuliah yaitu bidang Kimia.

“Latar belakang Saya membuat program ini karena melihat potensi sumber daya alam di Dusun Tambak Seklenting, wedung yang merupakan daerah pesisir dan memiliki banyak ekosistem mangrove dengan berbagai spesies. Mangrove kaya akan manfaat selain mencegah terjadinya bencana, salah satunya yaitu kandungan dari daun mangrove dapat berpotensi dijadikan sabun. Sebenarnya, masih banyak manfaat lain, apalagi masyarakat di sini juga sudah mulai memanfaatkan potensi mangrove tersebut, salah satunya dengan diolah menjadi sirup, kopi, dan teh mangrove. Sehingga saya membuat produk yang belum pernah dibuat di sini,” papar Aziz.

Aziz juga berharap bahwa ke depannya dengan adanya program ini dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan mengelola ekosistem mangrove di daerah pesisir karena memiliki banyak potensi dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, produk-produk olahan dari mangrove dapat dijadikan sebagai salah satu sumber penghasilan dan lokasi hutan mangrove dapat dijadikan sebagai ekowisata.

Kegiatan KKN yang dilaksanakan oleh Aziz beserta timnya merupakan implementasi dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan keterampilan mahasiswa dalam pengabdian masyarakat serta nomor 17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam memajukan desa lokasi penempatan KKN. Selain itu, upaya Aziz tersebut menjadi cerminan SDGs nomor 8 yaitu pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui produktivitas ekonomi masyarakat pesisir serta nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui inovasi potensi alam masyarakat desa.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Nur Aziz

Read More

Dorong Kompetensi Mahasiswa Baru, Himpunan Mahasiswa Geofisika FMIPA UGM Beri Wawasan Organisasi

Himpunan Mahasiswa Geofisika FMIPA UGM menyelenggarakan kegiatan pengenalan pada mahasiswa baru di bidang organisasi. Kegiatan tersebut merupakan salah satu dari rangkaian acara dari masa pengenalan mahasiswa baru di tingkat jurusan Geofisika. Dalam hal ini, Pamungkas yang merupakan Ketua Ikatan Alumni Geofisika FMIPA UGM turut hadir dan memberikan arahan kepada mahasiswa baru khususnya untuk lebih mengenal satu sama lain baik di organisasi mahasiswa atau teman satu angkatannya.

“HMGF (Himpunan Mahasiswa Geofisika) mengundang teman-teman mahasiswa 2024 untuk mengenal lebih dekat HMGF seperti apa. Sebagai maba, alangkah lebih baik mengetahui wadah yang menaungi program studi. Hal ini juga upaya untuk promosi HMGF kan tahun depan mereka pengurus. Alangkah lebih baik mereka tahu sekarang,” papar Abel selaku Koordinator Acara.

Melalui booth yang disediakan seperti pameran, mahasiswa baru dapat mengunjungi dan menanyakan langsung perihal bidang organisasi yang sesuai dengan minat mereka. Bidang yang dapat dikunjungi yaitu akademik, internal, kewirausahaan, sosial masyarkat, society of exploration geophysics, minat dan bakat, pengembangan SDM, media dan informasi, dan hubungan masyarakat.

“Semoga angkatan 24 bisa lebih kenal dekat dan merasa terlindungi dengan adanya HMGF,” papar Abel.

Kegiatan Elins Planet yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi FMIPA UGM turut menjadi cerminan dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan mahasiswa baik secara teknis atau non teknis di bidangnya. Selain itu, kegiatan tersebut mengimplementasikan SDGs nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui kegiatan praktik terhadap komponen yang sudah disiapkan untuk mewadahi ide dari mahasiswa baru.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Indara Nurwulandari

Read More

Cerita Nugi, Mahasiswa FMIPA UGM Dorong Petani Desa dengan Kreasi Hasil Bumi Jadi Sambal Salak

Sambal merupakan salah satu makanan favorit masyarakat di Indonesia dengan beragam kreasi yang dibuat sesuai dengan daerahnya. Hal ini menjadi salah satu peluang bagi Anugrah Yuwan Atmadja, yang akrab disapa Nugi, mahasiswa Ilmu Komputer FMIPA UGM untuk turut mendorong kreasi masyarakat di kawasan Desa Purwobinangun. Pada mulanya, melalui program pengabdian PPK Ormawa 2022, Nugi berhasil mendirikan Salacca Space sebagai rumah inovasi pengolahan salak di Desa Purwobinangun. Salah satu produk unggulan yang dikembangkan adalah Sambalacca, atau sambal salak yang diproduksi menggunakan hasil bumi khas Desa Purwobinangun.

“Produk ini dapat menjadi pendobrak usaha-usaha lainnya mulai dari petani salak sebagai supplier bahan baku dan rempah-rempah lainnya serta usaha restoran yang terlibat. Dukanya adalah ketika harga cabai dan bahan baku lainnya sedang mengalami kenaikan,” papar Nugi.

Sambalacca dapat dibeli dengan harga Rp18.000 untuk 1 botol dengan ukuran 120gram. Saat ini, penjualan Sambalacca berfokus pada penjualan B2B ke salah satu restoran yang ada di Godean bernama Tamanjiwo Resto. Beberapa menu yang disediakan di restoran ini menggunakan sambal salak dari Sambalacca sebagai menu pelengkapnya.

“Kesannya adalah sangat senang ketika produk ini dapat membantu petani salak yang mengalami kesulitan menjual hasil bumi mereka karena harga salak yang kian menurun. Dengan adanya produk ini, salak dapat dijual dengan nilai jual yang tinggi,” papar Nugi.

Dalam hal ini, Nugi turut berharap bahwa bisnis ini semoga dapat dikembangkan lebih jauh lagi bersama teman-teman yang lain setelah lulus kuliah. Merujuk pada upaya Nugi tersebut menjadi implementasi dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan keterampilan mahasiswa di bidang wirausaha dan sosial masyarakt. Selain itu, upaya tersebut menjadi cerminan SDGs nomor 8 yaitu pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui produktivitas ekonomi petani salak serta nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui inovasi hasil bumi masyarakat desa.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Anugrah Yuwan Atmadja

Read More

Dukung Kualitas Mahasiswa Baru, Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi FMIPA UGM Beri Wawasan Kepemimpinan dan Kompetensi

Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi FMIPA UGM menyelenggarakan kegiatan pengenalan pada mahasiswa baru di bidang kepemimpinan dan kompetensi. Kegiatan tersebut merupakan salah satu dari rangkaian acara dari masa pengenalan mahasiswa baru di tingkat jurusan yang diberi nama Elins Planet. Pada tahun sebelumnya, materi yang diberikan sebatan mengenai teknis-teknis terkait kegiatan akademik di kampus. Namun, tahun ini, mahasiswa baru diberikan wawasan mengenai kepemimpinan dan kompetensi khususnya pada bidang softskill.

“Aku ngeliat mabanya lebih semangat dari tahun sebelumnya. Lebih excited. Di teknis mereka semangat banget kayak bilang “ini kak aku bikin ini itu”, papar Zidan selaku Koordinator Acara Elins Planet.

Dalam hal ini, Zidan turut memaparkan rangkaian acara yang terbagi ke dalam 3 bagian yaitu Skill Set Forum, Kelompok Studi Elins, dan Forum Group Discussion. Di balik suksesnya acara yang dilaksanakan oleh segenap Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi, Zidan mengaku sempat terdapat tantangan dalam memimpin acara tersebut.

“Tantangannya gimana kita cari materi yang tepat. Materi tahun sebelumnya tuh beda soalnya karena fokus ke teknis terus. Jadi, kita materi biar ada pemantik yang bisa memimpin (softskill) dan teknis,” papar Zidan.

Pada bagian Skill Set Forum, pokok materi yang disampaikan adalah mengenai mengenal diri sendiri, bagaimana menjadi pemimpin yang baik, cara mengelola organisasi, dan cara berkembang di organisasi. Pada bagian Kelompok Studi Elins, materi yang diberikan seputar kegiatan teknis dan contohnya sehingga mahasiswa baru langsung melakukan praktik dengan sensor. Para mahasiswa juga diberikan komponen untuk melakukan praktik dan ide dibebaskan untuk mereka. Terakhir, pada bagian Forum Group Discussion, terdapat kegiatan diskusi mengenai simulasi atau permainan yang tujuannya melatih kemampuan berpikir mahasiswa.

“Harapannya, semoga Elins Planet sukses dan ilmu untuk mabanya bermanfaat,” ungkap Zidan.

Kegiatan Elins Planet yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi FMIPA UGM turut menjadi cerminan dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan mahasiswa baik secara teknis atau non teknis di bidangnya. Selain itu, kegiatan tersebut mengimplementasikan SDGs nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui kegiatan praktik terhadap komponen yang sudah disiapkan untuk mewadahi ide dari mahasiswa baru.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Indara Nurwulandari

Read More

Cerita Jose, Mahasiswa Elins FMIPA Tuai Prestasi di Ajang Model United Nation

Ajang Model United Nation (MUN) menjadi momen kompetisi bergengsi di mana peserta berperan sebagai duta besar atau diplomat suatu negara untuk representasikan untuk menyelesaikan isu-isu global yang penting untuk meningkatkan kesadaran global, melatih cara berpikir secara kritis, dan cara melobi. Walaupun pada praktiknya peserta didominasi oleh mahasiswa sosial humaniora, cerita Jose Otto Ranier yang merupakan mahasiswa saisn dari program studi Elektronika dan Instrumentasi FMIPA UGM mampu turut bersaing dan berprestasi di ajang tersebut.

“Perjalanan untuk menjadi anggota MUN pun tidak mudah. Sebelum mendaftarkan diri, Saya adalah mahasiswa yang sangat berlatar belakang sains dan belum terbiasa dengan hal-hal seperti public speaking dan membuat esai bertema politik. Tetapi, hal itu justru membuat Saya lebih semangat dalam meningkatkan tingkat riset, grammar, dan cara berpikir kritis,” papar Jose.

Jose turut dilibatkan sebagai anggota akademik United Nations Security Council (UNSC) untuk kompetisi MUN terbesar di Jogja yang diketahui sebagai Jogja International Model United Nations atau JOINMUN.

“Setelah belajar atas kesalahan dan meningkatkan kekurangan Saya dalam berlomba, Saya akhirnya mendapatkan juara Best Position Paper yang membuktikan bahwa karya tulis saya diberikan penghargaan terbaik & Verbal Commendation atau juara runner up ketiga pada debat di acara Udayana Model United Nations 2023,” papar Jose.

Walaupun terdapat tantangan dalam mengikuti kompetisi MUN, Jose tetap berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri. Pada tahun 2024, dirinya juga kembali berkompetisi melalui ajang Jakarta International Model United Nation pada bulan Agustus.

“Saya harap bahwa semua mahasiswa FMIPA yang memiliki minat atau bakat di suatu bidang yang berbeda dengan jurusannya agar tetap mengikuti organisasi atau komunitas UGM yang dapat membantu mengasah kemampuan mereka dan semoga dapat membawa prestasi untuk universitas yang mereka cintai. Lawanlah ketakutan kalian untuk menggapai kebahagiaan pada akhirnya!” ungkap Jose.

Prestasi dan keterampilan Jose sebagai mahasiswa turut menjadi cerminan dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui keterampilan untuk berkompetisi. Selain itu, kegiatan tersebut mengimplementasikan SDGs nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui kegiatan MUN yang memberikan wadah untuk menyelesaikan isu-isu global melalui inovasi yang ada.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Jose Otto Ranier

Read More

Geofisika Kenalkan Produk Buatan Dalam Negeri, Kurangi Ketergantungan pada Teknologi Impor

Departemen Geofisika Universitas Gadjah Mada (UGM) turut berpartisipasi dalam pameran inovasi yang digelar pada bulan Agustus lalu di selasar Auditorium Lantai 7 FMIPA UGM. Sesuai dengan namanya, pameran ini bertujuan untuk mengenalkan beragam inovasi dari setiap departemen yang ada di FMIPA UGM. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian workshop “Paradigma dan Implementasi Merdeka Belajar.”

Dalam pameran ini, Departemen Geofisika memperkenalkan sejumlah inovasi unggulan yang mereka kembangkan. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Seismometer GamaDu. Alat ini berfungsi untuk merekam getaran permukaan bumi, termasuk getaran yang disebabkan oleh gempa. GamaDu sudah dikomersialisasikan dan bahkan sudah dijalin kerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) maupun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Seismometer ini menjadi solusi penting bagi Indonesia karena mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri yang selama ini bergantung pada produk impor. Selain lebih terjangkau, penggunaan GamaDu juga mengurangi masalah yang sering muncul ketika alat impor mengalami kerusakan.

Selain GamaDu, Departemen Geofisika juga memperkenalkan alat pendeteksi permukaan yang berfungsi untuk mendeteksi gempa di bawah tanah. Alat ini memiliki aplikasi yang luas, termasuk dalam bidang arkeologi untuk mencari situs bersejarah seperti candi, serta di sektor pertambangan untuk menemukan sumber daya seperti batu bara dan nikel.

Inovasi-inovasi yang diperkenalkan Departemen Geofisika sejalan dengan penerapan SDGs poin 9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Dengan mengembangkan teknologi dalam negeri, Indonesia berpeluang memperkuat sektor industrinya secara berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada teknologi impor, serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja di bidang riset dan manufaktur.

Penulis: Azzah Nurfatin
Dokumentasi: Tim Media FMIPA UGM
Editor: Febriska Noor Fitriana

Read More

Dongkrak Angka Melek Digital Masyarakat, Intip Viga Mahasiswa FMIPA UGM Buka Kelas Coding

Viga Hardjanto, mahasiswa pascasarjana FMIPA UGM membuka kelas coding atau pemrogaman bagi masyarakat umum dalam rangka meningkatkan kompetensi masyarakat khususnya di bidang digital. Terdapat 2 kelas yaitu kelas anak-anak dan kelas dewasa. Pada kelas anak-anak, manfaat kelas ini dapat dirasakan seperti untuk mengembangkan keterampilan kognitif dan mendorong keterampilan di bidang matematika hingga seni. Di sisi lain, pada kelas dewasa akan membantu memahami teknologi dengan cara yang terstruktur, meingkatkan prospek karir khususnya di bidang data analyst dan software developer.

“Kelas coding python dasar untuk pemula yang baru belajar pemrograman. Kelasnya sifatnya online class (bukan hanya sekedar video pembelajaran). Di kelas yang Aku buka sendiri namanya Kodenus Aku bertugas untuk menyiapkan materi, mengajar, dan reporting ke client terkait capaian pembelajaran. Materinya mulai dari Pengantar Python sebagai suatu bahasa pemrograman, variable, tipe data, operasi dasar, hingga pembuatan mini project. Kelas ini terinspirasi dari tempatku kerja lainnya (company asal Rusia), tetapi sayangnya kelas dan materi di company ini utamanya ditujukan untuk anak-anak dan remaja (belum mencakup kaum dewasa),” papar Viga.

Peserta kelasnya berasal dari berbagai kalangan seperti pelajar dari jenjang SD hingga SMA, masyarakat yang sedang berusaha bekerja di bidang lain, dan kalangan ASN yang memerlukan pembelajaran analisis data atau sekadar ingin mengetahui pemograman.

Seneng dan seneng banget. Apalagi kalau yang Aku sampaikan bisa diterima dengan baik sama client baik dari komunikasi di kelas dan ketika deal-dealan harga kelas. Kesulitan yang sering terjadi ketika reschedule karena kebanyakan kalo kelas seperti ini ambil waktunya di sore – malam hari sehingga kalo reschedule kadang cukup sulit dikala jadwal sore atau malam lainnya sudah penuh,” ungkap Viga.

Dari kelas yang ditawarkan Viga, terdapat 7 pertemuan. Pada pertemuan pertama materi yang diberikan adalah pengantar Phyton, Variabel, dan Tipe Data. Kemudian dilanjutkan dengan Casting, Manipulasi String pada pertemuan kedua serta Operator dan List pada pertemuan ketiga. Selanjutnya, pada pertemuan keempat diberikan materi Tuple, Set, dan Dictionary serta pada pertemuan kelima diberikan materi Conditional, Statements, dan Looping. Pada pertemuan akhir yaitu 7 dan 8 akan diberikan materi Function dan File Handling.

“Kelas coding yang dibuka harapannya bisa dirasakan manfaatnya untuk para pemula yang baru belajar pemrograman. Tidak ada hal yang cukup mahal dan sebanding di bidang keilmuan karena anggaplah seperti kita punya “gaman” (senjata) kita bisa pakai kapanpun ketika itu dibutuhkan. Harapan selanjutnya kelas coding (Kodenus) yang dibuka semakin banyak siswanya khususnya bisa untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin belajar langsung coding bersama mentor mengingat realita yang ada kelas coding saat ini cukup mahal. Kalopun yang cukup miring harganya itu biasanya dalam bentuk rekaman video pembelajaran atau kasus lain kalo pas kelas online dalam satu sesi terlalu banyak peserta sehingga sering kurang optimal dalam pembelajarannya,” papar Viga.

Peran Viga dalam mendongkrak angka melek digital pada masyarakat melalui kelas coding yang dibukanya menjadi implementasi dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan keterampilan di bidang digital. Kemudian, hal ini juga menjadi cerminan dari SDGs nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan ilmu di bidang teknologi bagi mahasiswa FMIPA UGM kepada masyarakat.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Viga Hardjanto

Read More

Cerita Fajar, Dosen Kimia FMIPA UGM: Bina Mahasiswa dan Pelajar Hingga Sabet Medali di Ajang PIMNAS dan Olimpiade Kimia Internasional

Ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional dan International Chemistry Olympiad (IChO) atau Olimpiade Kimia Internasional menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dan pelajar tak terkecuali juga bagi pembina mereka yang salah satunya merupakan Dosen Kimia FMIPA UGM, Mokhamad Fajar Pradipta, S.Si., M.Eng. Pada bidang PIMNAS, beberapa karya yang lolos melenggang ke babak nasional hingga menyabet medali emas adalah TecoBator: Alat Pemasakan dan Inkubator Sterilisasi Sebagai Solusi Peningkatan produktivitas dan Umur Simpan Madu Nabati Kepala di KWT Nira Lestari serta NCT (Neutral Carbon Transportation): Inovasi sistem Transportasi berbasis E-fuel sebagai Supporting Konsep Self Managing Weather City di Indonesia.

“Pembinaan PKM yang paling berkesan adalah pada tahun 2023 dengan meloloskan 2 tim PKM dan mendapatkan 2 medali emas dan 1 perunggu. Sangat berkesan karena dengan pendampingan tidak kenal lelah berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya akhirnya yang dicita-citakan membawa medali emas tercapai,” papar Fajar.

Fajar juga turut memberikan pembinaan mengenai peran dosen pembimbing seperti mendampingi dan mengarahkan mahasiswa agar PKM sesuai dengan yang ditulis di proposal, membantu mahasiswa untuk mengakses pemakaian fasilitas yang diperlukan, memantau hasil pelaksanaan PKM secara berkala, memberi motivasi agar luaran PKM berkualitas, memberi solusi apabila ditemui permasalahan selama pelaksanaan PKM, dan lainnya.

Kepada para mahasiswa, Fajar menekankan untuk terus melakukan latihan terutama saat di ajang PIMNAS. Dirinya juga menyampaikan bahwa perlunya mahasiswa untuk aktif melakukan konsultasi kepada dosen-dosen yang menjadi pembimbingnya.

“Jangan takut untuk berkreasi, manfaatkan kesempatan yang ada, dan berikan dampak positif bagi masyarakat,” papar Fajar.

Selain mengantarkan mahasiswa menyabet medali emas hingga perunggu, Fajar juga melakukan pembinaan terhadap pelajar yang akan menghadapi International Chemistry Olympiad (IChO) atau Olimpiade Kimia Internasional di Riyadh, Arab Saudi. Ajang kompetisi di bidang Kimia berskala dunia tersebut turut melibatkan peran Fajar untuk membina para pelajar dari segi materi dan juga praktik. Pada tahun ini, para delegasi pelajar Indonesia mampu menyabet medali perunggu dalam ajang tersebut.

Kiprah dan peran Fajar dalam membina mahasiswa pada ajang PIMNAS dan pelajar pada bidang International Chemistry Olympiad (IChO) atau Olimpiade Kimia Internasional hingga meraih medali menjadi cerminan dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui akses terhadap pendidikan dan peningkatan keterampilan baik untuk mahasiswa atau pelajar khususnya di bidang Kimia. Selain itu, hasil pembinaan yang dilakukan turut mendukung generasi muda dalam menciptakan inovasi yang berdampak bagi masyarakat sehingga menjadi implementasi dari SDGs nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Mokhamad Fajar Pradipta

Read More

Latih Masyarakat Pesisir Olah Daun Mangrove Jadi Sabun Cair, Simak Cerita Aziz Mahasiswa Kimia FMIPA UGM

Momen KKN menjadi pengalaman berharga bagi Aziz, mahasiswa Kimia FMIPA UGM dalam mengimplementasikan ilmunya kepada masyarakat bersama dengan tim kelompoknya. Lokasi KKN Aziz berada pada Desa Wedung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Terdapat 5 program kerja yang dijalankan Aziz yaitu edukasi budidaya maggot, diversifikasi minyak jelantah untuk lilin aromaterapi, pemanfaatan daun mangrove untuk sabun cair, science fair, serta lomba tartil Al-Qur’an, sains, dan calistung.

Melihat kekayaan potensi wilayah desa KKN tersebutm membuat Aziz bergerak dalam memberdayakan daun mangrove menjadi sesuatu hal yang bernilai lebih. Hal ini juga didukung oleh disiplin ilmu yang dipelajarinya di bangku kuliah yaitu bidang Kimia.

“Latar belakang Saya membuat program ini karena melihat potensi sumber daya alam di Dusun Tambak Seklenting, wedung yang merupakan daerah pesisir dan memiliki banyak ekosistem mangrove dengan berbagai spesies. Mangrove kaya akan manfaat selain mencegah terjadinya bencana, salah satunya yaitu kandungan dari daun mangrove dapat berpotensi dijadikan sabun. Sebenarnya, masih banyak manfaat lain, apalagi masyarakat di sini juga sudah mulai memanfaatkan potensi mangrove tersebut, salah satunya dengan diolah menjadi sirup, kopi, dan teh mangrove. Sehingga saya membuat produk yang belum pernah dibuat di sini,” papar Aziz.

Aziz juga berharap bahwa ke depannya dengan adanya program ini dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan mengelola ekosistem mangrove di daerah pesisir karena memiliki banyak potensi dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, produk-produk olahan dari mangrove dapat dijadikan sebagai salah satu sumber penghasilan dan lokasi hutan mangrove dapat dijadikan sebagai ekowisata.

Kegiatan KKN yang dilaksanakan oleh Aziz beserta timnya merupakan implementasi dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan keterampilan mahasiswa dalam pengabdian masyarakat serta nomor 17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam memajukan desa lokasi penempatan KKN. Selain itu, upaya Aziz tersebut menjadi cerminan SDGs nomor 8 yaitu pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui produktivitas ekonomi masyarakat pesisir serta nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui inovasi potensi alam masyarakat desa.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Nur Aziz

Read More

Dorong Kompetensi Mahasiswa Baru, Himpunan Mahasiswa Geofisika FMIPA UGM Beri Wawasan Organisasi

Himpunan Mahasiswa Geofisika FMIPA UGM menyelenggarakan kegiatan pengenalan pada mahasiswa baru di bidang organisasi. Kegiatan tersebut merupakan salah satu dari rangkaian acara dari masa pengenalan mahasiswa baru di tingkat jurusan Geofisika. Dalam hal ini, Pamungkas yang merupakan Ketua Ikatan Alumni Geofisika FMIPA UGM turut hadir dan memberikan arahan kepada mahasiswa baru khususnya untuk lebih mengenal satu sama lain baik di organisasi mahasiswa atau teman satu angkatannya.

“HMGF (Himpunan Mahasiswa Geofisika) mengundang teman-teman mahasiswa 2024 untuk mengenal lebih dekat HMGF seperti apa. Sebagai maba, alangkah lebih baik mengetahui wadah yang menaungi program studi. Hal ini juga upaya untuk promosi HMGF kan tahun depan mereka pengurus. Alangkah lebih baik mereka tahu sekarang,” papar Abel selaku Koordinator Acara.

Melalui booth yang disediakan seperti pameran, mahasiswa baru dapat mengunjungi dan menanyakan langsung perihal bidang organisasi yang sesuai dengan minat mereka. Bidang yang dapat dikunjungi yaitu akademik, internal, kewirausahaan, sosial masyarkat, society of exploration geophysics, minat dan bakat, pengembangan SDM, media dan informasi, dan hubungan masyarakat.

“Semoga angkatan 24 bisa lebih kenal dekat dan merasa terlindungi dengan adanya HMGF,” papar Abel.

Kegiatan Elins Planet yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi FMIPA UGM turut menjadi cerminan dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan mahasiswa baik secara teknis atau non teknis di bidangnya. Selain itu, kegiatan tersebut mengimplementasikan SDGs nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui kegiatan praktik terhadap komponen yang sudah disiapkan untuk mewadahi ide dari mahasiswa baru.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Indara Nurwulandari

Read More

Cerita Nugi, Mahasiswa FMIPA UGM Dorong Petani Desa dengan Kreasi Hasil Bumi Jadi Sambal Salak

Sambal merupakan salah satu makanan favorit masyarakat di Indonesia dengan beragam kreasi yang dibuat sesuai dengan daerahnya. Hal ini menjadi salah satu peluang bagi Anugrah Yuwan Atmadja, yang akrab disapa Nugi, mahasiswa Ilmu Komputer FMIPA UGM untuk turut mendorong kreasi masyarakat di kawasan Desa Purwobinangun. Pada mulanya, melalui program pengabdian PPK Ormawa 2022, Nugi berhasil mendirikan Salacca Space sebagai rumah inovasi pengolahan salak di Desa Purwobinangun. Salah satu produk unggulan yang dikembangkan adalah Sambalacca, atau sambal salak yang diproduksi menggunakan hasil bumi khas Desa Purwobinangun.

“Produk ini dapat menjadi pendobrak usaha-usaha lainnya mulai dari petani salak sebagai supplier bahan baku dan rempah-rempah lainnya serta usaha restoran yang terlibat. Dukanya adalah ketika harga cabai dan bahan baku lainnya sedang mengalami kenaikan,” papar Nugi.

Sambalacca dapat dibeli dengan harga Rp18.000 untuk 1 botol dengan ukuran 120gram. Saat ini, penjualan Sambalacca berfokus pada penjualan B2B ke salah satu restoran yang ada di Godean bernama Tamanjiwo Resto. Beberapa menu yang disediakan di restoran ini menggunakan sambal salak dari Sambalacca sebagai menu pelengkapnya.

“Kesannya adalah sangat senang ketika produk ini dapat membantu petani salak yang mengalami kesulitan menjual hasil bumi mereka karena harga salak yang kian menurun. Dengan adanya produk ini, salak dapat dijual dengan nilai jual yang tinggi,” papar Nugi.

Dalam hal ini, Nugi turut berharap bahwa bisnis ini semoga dapat dikembangkan lebih jauh lagi bersama teman-teman yang lain setelah lulus kuliah. Merujuk pada upaya Nugi tersebut menjadi implementasi dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan keterampilan mahasiswa di bidang wirausaha dan sosial masyarakt. Selain itu, upaya tersebut menjadi cerminan SDGs nomor 8 yaitu pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui produktivitas ekonomi petani salak serta nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui inovasi hasil bumi masyarakat desa.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Anugrah Yuwan Atmadja

Read More

Dukung Kualitas Mahasiswa Baru, Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi FMIPA UGM Beri Wawasan Kepemimpinan dan Kompetensi

Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi FMIPA UGM menyelenggarakan kegiatan pengenalan pada mahasiswa baru di bidang kepemimpinan dan kompetensi. Kegiatan tersebut merupakan salah satu dari rangkaian acara dari masa pengenalan mahasiswa baru di tingkat jurusan yang diberi nama Elins Planet. Pada tahun sebelumnya, materi yang diberikan sebatan mengenai teknis-teknis terkait kegiatan akademik di kampus. Namun, tahun ini, mahasiswa baru diberikan wawasan mengenai kepemimpinan dan kompetensi khususnya pada bidang softskill.

“Aku ngeliat mabanya lebih semangat dari tahun sebelumnya. Lebih excited. Di teknis mereka semangat banget kayak bilang “ini kak aku bikin ini itu”, papar Zidan selaku Koordinator Acara Elins Planet.

Dalam hal ini, Zidan turut memaparkan rangkaian acara yang terbagi ke dalam 3 bagian yaitu Skill Set Forum, Kelompok Studi Elins, dan Forum Group Discussion. Di balik suksesnya acara yang dilaksanakan oleh segenap Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi, Zidan mengaku sempat terdapat tantangan dalam memimpin acara tersebut.

“Tantangannya gimana kita cari materi yang tepat. Materi tahun sebelumnya tuh beda soalnya karena fokus ke teknis terus. Jadi, kita materi biar ada pemantik yang bisa memimpin (softskill) dan teknis,” papar Zidan.

Pada bagian Skill Set Forum, pokok materi yang disampaikan adalah mengenai mengenal diri sendiri, bagaimana menjadi pemimpin yang baik, cara mengelola organisasi, dan cara berkembang di organisasi. Pada bagian Kelompok Studi Elins, materi yang diberikan seputar kegiatan teknis dan contohnya sehingga mahasiswa baru langsung melakukan praktik dengan sensor. Para mahasiswa juga diberikan komponen untuk melakukan praktik dan ide dibebaskan untuk mereka. Terakhir, pada bagian Forum Group Discussion, terdapat kegiatan diskusi mengenai simulasi atau permainan yang tujuannya melatih kemampuan berpikir mahasiswa.

“Harapannya, semoga Elins Planet sukses dan ilmu untuk mabanya bermanfaat,” ungkap Zidan.

Kegiatan Elins Planet yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi FMIPA UGM turut menjadi cerminan dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan mahasiswa baik secara teknis atau non teknis di bidangnya. Selain itu, kegiatan tersebut mengimplementasikan SDGs nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui kegiatan praktik terhadap komponen yang sudah disiapkan untuk mewadahi ide dari mahasiswa baru.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Indara Nurwulandari

Read More

Cerita Jose, Mahasiswa Elins FMIPA Tuai Prestasi di Ajang Model United Nation

Ajang Model United Nation (MUN) menjadi momen kompetisi bergengsi di mana peserta berperan sebagai duta besar atau diplomat suatu negara untuk representasikan untuk menyelesaikan isu-isu global yang penting untuk meningkatkan kesadaran global, melatih cara berpikir secara kritis, dan cara melobi. Walaupun pada praktiknya peserta didominasi oleh mahasiswa sosial humaniora, cerita Jose Otto Ranier yang merupakan mahasiswa saisn dari program studi Elektronika dan Instrumentasi FMIPA UGM mampu turut bersaing dan berprestasi di ajang tersebut.

“Perjalanan untuk menjadi anggota MUN pun tidak mudah. Sebelum mendaftarkan diri, Saya adalah mahasiswa yang sangat berlatar belakang sains dan belum terbiasa dengan hal-hal seperti public speaking dan membuat esai bertema politik. Tetapi, hal itu justru membuat Saya lebih semangat dalam meningkatkan tingkat riset, grammar, dan cara berpikir kritis,” papar Jose.

Jose turut dilibatkan sebagai anggota akademik United Nations Security Council (UNSC) untuk kompetisi MUN terbesar di Jogja yang diketahui sebagai Jogja International Model United Nations atau JOINMUN.

“Setelah belajar atas kesalahan dan meningkatkan kekurangan Saya dalam berlomba, Saya akhirnya mendapatkan juara Best Position Paper yang membuktikan bahwa karya tulis saya diberikan penghargaan terbaik & Verbal Commendation atau juara runner up ketiga pada debat di acara Udayana Model United Nations 2023,” papar Jose.

Walaupun terdapat tantangan dalam mengikuti kompetisi MUN, Jose tetap berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri. Pada tahun 2024, dirinya juga kembali berkompetisi melalui ajang Jakarta International Model United Nation pada bulan Agustus.

“Saya harap bahwa semua mahasiswa FMIPA yang memiliki minat atau bakat di suatu bidang yang berbeda dengan jurusannya agar tetap mengikuti organisasi atau komunitas UGM yang dapat membantu mengasah kemampuan mereka dan semoga dapat membawa prestasi untuk universitas yang mereka cintai. Lawanlah ketakutan kalian untuk menggapai kebahagiaan pada akhirnya!” ungkap Jose.

Prestasi dan keterampilan Jose sebagai mahasiswa turut menjadi cerminan dari SDGs nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas melalui keterampilan untuk berkompetisi. Selain itu, kegiatan tersebut mengimplementasikan SDGs nomor 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui kegiatan MUN yang memberikan wadah untuk menyelesaikan isu-isu global melalui inovasi yang ada.

Penulis: Febriska Noor Fitriana
Dokumentasi: Jose Otto Ranier

Read More

Geofisika Kenalkan Produk Buatan Dalam Negeri, Kurangi Ketergantungan pada Teknologi Impor

Departemen Geofisika Universitas Gadjah Mada (UGM) turut berpartisipasi dalam pameran inovasi yang digelar pada bulan Agustus lalu di selasar Auditorium Lantai 7 FMIPA UGM. Sesuai dengan namanya, pameran ini bertujuan untuk mengenalkan beragam inovasi dari setiap departemen yang ada di FMIPA UGM. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian workshop “Paradigma dan Implementasi Merdeka Belajar.”

Dalam pameran ini, Departemen Geofisika memperkenalkan sejumlah inovasi unggulan yang mereka kembangkan. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Seismometer GamaDu. Alat ini berfungsi untuk merekam getaran permukaan bumi, termasuk getaran yang disebabkan oleh gempa. GamaDu sudah dikomersialisasikan dan bahkan sudah dijalin kerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) maupun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Seismometer ini menjadi solusi penting bagi Indonesia karena mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri yang selama ini bergantung pada produk impor. Selain lebih terjangkau, penggunaan GamaDu juga mengurangi masalah yang sering muncul ketika alat impor mengalami kerusakan.

Selain GamaDu, Departemen Geofisika juga memperkenalkan alat pendeteksi permukaan yang berfungsi untuk mendeteksi gempa di bawah tanah. Alat ini memiliki aplikasi yang luas, termasuk dalam bidang arkeologi untuk mencari situs bersejarah seperti candi, serta di sektor pertambangan untuk menemukan sumber daya seperti batu bara dan nikel.

Inovasi-inovasi yang diperkenalkan Departemen Geofisika sejalan dengan penerapan SDGs poin 9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Dengan mengembangkan teknologi dalam negeri, Indonesia berpeluang memperkuat sektor industrinya secara berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada teknologi impor, serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja di bidang riset dan manufaktur.

Penulis: Azzah Nurfatin
Dokumentasi: Tim Media FMIPA UGM
Editor: Febriska Noor Fitriana

Read More
Translate