FMIPA UGM Gelar Webinar bersama Stakeholder Lintas Sektor, Bahas Peluang dan Arah Pengembangan Industri Semikonduktor Indonesia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM) berkolaborasi dengan Kamipagama dan Masyarakat Informatika Sosial Indonesia (MISI) menggelar webinar bertajuk “Pentingkah Industri Semikonduktor untuk Indonesia?” pada Jumat (11/9). Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-71 FMIPA UGM tersebut membahas posisi dan strategi Indonesia dalam pengembangan ekosistem semikonduktor global. Webinar yang digelar secara daring ini mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan dari sektor diplomasi, akademik, industri, dan riset. Diskusi menyoroti kompleksitas rantai pasok semikonduktor sekaligus peluang Indonesia untuk mengambil peran pada sektor-sektor yang sesuai dengan kapasitas nasional.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Laurentius Amrih Jinangkung, mengatakan kompleksitas rantai pasok semikonduktor membuat Indonesia perlu menentukan bidang yang dapat menjadi titik masuk. Pengembangan tersebut, menurutnya, perlu didukung oleh talenta berbasis ilmu dasar, riset dan teknologi, investasi, serta keterhubungan dengan rantai pasok global.
“Rantai pasok semikonduktor sangat kompleks sehingga Indonesia perlu menentukan bidang yang dapat menjadi titik masuk,” ujar Laurentius.
Di sisi lain, penguatan talenta turut menjadi perhatian Dekan FMIPA UGM, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si. Beliau mengatakan FMIPA UGM telah berupaya menyiapkan talenta semikonduktor melalui pemetaan kebutuhan industri, kolaborasi lintas disiplin, serta pengembangan jalur pendidikan dan pengalaman industri, termasuk double degree, fast track, dan industrial placement.
“FMIPA UGM berupaya menjawab kebutuhan tersebut melalui pengembangan talenta semikonduktor, pemetaan kebutuhan industri, kolaborasi lintas disiplin, serta pengembangan jalur pendidikan dan pengalaman industri,” jelas Prof. Kuwat.
FMIPA UGM memiliki basis keilmuan yang beragam untuk mendukung kebutuhan tersebut. Delapan program studi sarjana yang mencakup fisika, kimia, matematika, ilmu komputer, serta elektronika dan instrumentasi menjadi bagian dari potensi pengembangan talenta di bidang semikonduktor.
Dari sisi industri, Joegianto dari Polytron mengingatkan bahwa Indonesia tidak perlu langsung mengejar model manufaktur chip berskala besar. Pembangunan fasilitas seperti yang dimiliki perusahaan manufaktur semikonduktor global membutuhkan modal dan infrastruktur dalam skala sangat besar. Indonesia justru perlu memilih bagian dari rantai industri yang dapat dikembangkan sesuai dengan kemampuan nasional.
“Indonesia perlu menentukan posisi yang sesuai dengan kekuatan nasional dalam rantai industri semikonduktor dan tidak harus mengembangkan seluruh tahap industri sekaligus,” ungkap Joegianto.
Prof. David Marpaung dari University of Twente, Belanda, juga menilai pembangunan fasilitas fabrikasi sendiri belum menjadi langkah awal yang harus ditempuh Indonesia. Besarnya kebutuhan modal membuat pengembangan dapat dimulai dari desain dan intellectual property (IP), sementara proses fabrikasi dapat dilakukan melalui kerja sama dengan fasilitas yang telah tersedia.
Dari sisi lain, Timoti Siahaan, Ph.D., Riset dan Mass Transfer Architect ASML Netherlands, menekankan pentingnya melihat semikonduktor sebagai rangkaian industri yang saling terhubung. Menurutnya, pembangunan ekosistem tersebut membutuhkan dua fondasi utama, yaitu sumber daya manusia dan infrastruktur.
“Industri semikonduktor merupakan ekosistem yang luas dengan banyak pihak yang saling bergantung,” ujar Timoti.
Webinar tersebut menempatkan pengembangan sumber daya manusia, riset, desain chip, material semikonduktor, dan infrastruktur sebagai fondasi awal bagi Indonesia untuk masuk ke rantai pasok semikonduktor global. Pembangunan fasilitas fabrikasi berskala besar dapat menjadi bagian dari pengembangan berikutnya setelah ekosistem dan kapasitas nasional semakin siap.
Berbagai perspektif tersebut kemudian bermuara pada pertanyaan yang lebih besar tentang seperti apa industri semikonduktor Indonesia pada masa mendatang. Sebagai moderator, Daniel Oscar Baskoro, S.Kom., M.Sc., mengajak para narasumber membayangkan kondisi yang ingin dicapai Indonesia pada 2029.
Dari diskusi tersebut muncul sejumlah harapan, mulai dari perbaikan ekosistem, penyiapan talenta unggul, pembangunan infrastruktur utama, penguatan kedaulatan teknologi Indonesia, dukungan terhadap pengembangan industri, hingga lahirnya desainer chip Indonesia yang mumpuni.
Upaya tersebut sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan talenta dan pendidikan berbasis sains dan teknologi, serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi dan kapasitas riset. Kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan juga mendukung SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Inna Mutifah







