Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

Search

UNIVERSITAS GADJAH MADA FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES 

SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur

Berhasil Ciptakan Inovasi PRAKE (Phrase-Refined RAKE), Tim Peneliti DIKE FMIPA UGM Tunjukkan Solusi Baru Mengekstrak Frasa Penting dari Dokumen Panjang

Dokumen akreditasi program studi seringkali mencapai ratusan halaman. Di dalamnya tersimpan banyak sekali informasi penting, namun mengekstrak frasa-frasa kunci secara manual riskan terlewat dan kurang efisien. 

Tim peneliti dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menciptakan solusi. Tim ini mengembangkan PRAKE (Phrase-Refined RAKE), sebuah inovasi algoritma yang dirancang untuk mengekstrak frasa-frasa penting dari dokumen naratif panjang dan kompleks, seperti borang akreditasi.

Hasil pengujian pada dokumen akreditasi di lingkungan LAM INFOKOM menunjukkan bahwa PRAKE mencapai nilai F1-score 0,85 yang menandakan bahwa algoritma ini mampu menangkap informasi secara tepat dan lengkap.

Algoritma RAKE (Rapid Automatic Keyword Extraction) yang biasanya digunakan memiliki kelemahan seperti hanya memisahkan frasa berdasarkan kata-kata umum seperti “dan”, “atau”, atau “yang”. Akibatnya, dalam dokumen panjang yang kaya narasi, banyak frasa pendek kehilangan konteks.

Misalnya, kata “ps” akan berdiri sendiri. Padahal dalam dokumen akreditasi, ia adalah bagian dari frasa utuh seperti “rumusan VMTS ps”. PRAKE hadir untuk memperbaiki kelemahan itu.

Sementra itu, PRAKE melengkapi frasa yang terpotong, menggabungkan frasa yang semestinya utuh, serta menyusun ulang elemen semantik yang tersebar dalam kalimat kompleks. PRAKE juga memberi bobot lebih pada istilah-istilah penting dalam dunia akreditasi seperti “strategi”, “kebijakan”, dan “evaluasi”. Selain itu, PRAKE membersihkan teks dari karakter non-alfabetik dan menyaring kata kerja umum, tetapi tetap mempertahankan kata kerja substantif seperti “mengevaluasi”.

Dengan ketiga keunggulan ini, PRAKE mampu menghasilkan frasa yang lebih panjang (3–5 kata) dan jauh lebih informatif dibandingkan algoritma standar.

Inovasi ini dikerjakan oleh mahasiswa dan dosen dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM. Tim ini terdiri dari Helena Nurramdhani Irmanda, S.Pd., M.Kom., Prof. Dra. Sri Hartati, M.Sc., Ph.D. dan  Dr. Sri Mulyana, M.Kom.

Pengembangan PRAKE ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Inovasi ini membantu proses pengelolaan dan analisis dokumen akreditasi menjadi lebih efektif, akurat, dan efisien sehingga dapat mendukung peningkatan kualitas tata kelola pendidikan tinggi berbasis teknologi.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

cNose: Inovasi “Hidung Elektronik” Portabel untuk Deteksi Dini Sepsis pada Bayi, Hasil Kolaborasi FMIPA dan FKKMK UGM

Tim peneliti multidisiplin dari Universitas Gadjah Mada berhasil mengembangkan inovasi alat kesehatan bernama cNose, sebuah sistem “hidung elektronik” portabel yang mampu mendeteksi sepsis pada bayi baru lahir secara cepat, akurat, dan non-invasif. Pengembangan teknologi ini merupakan hasil kolaborasi antara peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM bersama mitra internasional dari Mbeya University of Science and Technology.

Sepsis neonatal merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi baru lahir di Indonesia maupun negara berkembang lainnya. Selama ini, diagnosis standar dilakukan melalui kultur darah yang membutuhkan waktu 24–72 jam, memerlukan fasilitas laboratorium lengkap, serta bersifat invasif karena harus mengambil sampel darah bayi. Kondisi tersebut sering menyebabkan keterlambatan penanganan yang dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga kematian.

Melalui cNose, tim peneliti ini menawarkan pendekatan diagnosis yang lebih praktis dan ramah pasien. Teknologi ini bekerja dengan mendeteksi senyawa volatil tertentu dari sampel feses bayi menggunakan sensor elektronik yang terintegrasi dengan analisis pola berbasis kecerdasan buatan. Dengan metode ini, proses deteksi dapat dilakukan tanpa prosedur yang menyakitkan bagi bayi dan berpotensi mempercepat pengambilan keputusan medis di ruang perawatan neonatal.

Penelitian dilakukan terhadap 347 bayi baru lahir yang dirawat di unit HCU dan NICU RSUP Dr. Sardjito. Sampel feses dikumpulkan setiap hari dari popok bayi oleh tenaga perawat, kemudian dianalisis menggunakan sistem cNose. Sebelum dilibatkan dalam penelitian, seluruh orang tua pasien memberikan persetujuan tertulis (informed consent). Untuk memastikan validitas hasil, diagnosis sepsis tetap dikonfirmasi menggunakan metode kultur darah sebagai standar acuan. Penelitian ini juga telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik FKKMK UGM.

Hasil penelitian tersebut berhasil dipublikasikan dalam dua jurnal internasional bereputasi Q1, yakni Clinica Chimica Acta pada tahun 2025 dan Microchimica Acta pada tahun 2026. Adapun pendanaan penelitian didukung oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Batch 2 Tahun 2022.

Pengembangan cNose turut mendukung transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi di Indonesia. Inovasi ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan deteksi dini penyakit pada bayi baru lahir, serta SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui penguatan inovasi teknologi kesehatan hasil kolaborasi lintas disiplin dan internasional.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

Kembangkan Inovasi Biosensor Mikroalga, Dosen Departemen Fisika FMIPA UGM Sukses Ikuti Riset Kolaborasi Lintas Negara

Dua dosen dari Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), UGM, yaitu Dr. Iman Santoso, S.Si., M.Sc. dan Prof. Dr.Eng. Edi Suharyadi, S.Si., M.Eng., sukses berpartisipasi dalam riset internasional pengembangan metode deteksi mikroalga menggunakan sensor berbasis kromium dan kecerdasan buatan.

Riset kolaborasi ini melibatkan peneliti dari Fakultas MIPA UGM, Fakultas Biologi UGM, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Bengkulu, Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Nagoya University (Jepang), dan National Chung Hsing University (Taiwan).

Tim penelitian ini menemukan bahwa lapisan tipis kromium setebal 75 nanometer dapat berfungsi sebagai sensor optik yang sensitif terhadap keberadaan mikroalga. Pada ketebalan tersebut, terjadi perubahan fase cahaya hingga 40,6 derajat ketika sampel air yang mengandung mikroalga diujikan. Kromium dipilih karena lebih ekonomis dibandingkan logam mulia seperti emas atau perak yang biasa digunakan dalam sensor optik sejenis.

Data pantulan cahaya dari sensor ini bersifat kompleks dan tidak linear. Untuk mengolahnya, tim menggunakan tiga model machine learning, yaitu Deep Neural Network (DNN) untuk memprediksi pola sinyal, Support Vector Machine (SVM) untuk mengelompokkan jenis mikroalga, dan Autoencoder dengan K-Means untuk menemukan pola tersembunyi dalam data. Dengan integrasi ketiga model tersebut, proses deteksi dapat berlangsung tanpa pewarnaan kimia (label-free) dan lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Pengembangan teknologi ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 tentang akses air bersih dan sanitasi layak, SDG 9 terkait inovasi industri dan teknologi, serta SDG 14 mengenai perlindungan ekosistem perairan. Melalui metode deteksi mikroalga yang lebih cepat dan efisien, riset ini diharapkan dapat membantu pemantauan kualitas air secara berkelanjutan dan mendukung pengelolaan lingkungan berbasis teknologi.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

Riset Kolaborasi Departemen Kimia FMIPA UGM dengan BRIN Hasilkan Terobosan Baru untuk Konversi CO₂ Jadi Bahan Baku Multifungsi

Publikasi terbaru hasil kolaborasi penelitian dari Departemen Kimia Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dimuat di Journal of  Materials Science (Mei 2026) menawarkan salah satu teknologi carbon capture and utilization (CCU). Tim ini mengembangkan katalis berbasis MOF UiO-66 yang dimodifikasi dengan nanopartikel perak yang mampu mengonversi CO₂ menjadi karbonat siklik, senyawa untuk bahan baku produksi polimer, baterai, dan produk farmasi. Hasil konversi mencapai 96,2% hanya dalam 24 jam, ini membuka peluang bagi proses industri kimia yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan.

Penelitian ini mendapat pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema Penelitian Tesis Magister tahun 2025.

Tim peneliti dengan sengaja menciptakan defek atau cacat struktural pada material penangkap CO₂. Defek yang sengaja dirancang ini justru menjadi tempat yang potensial untuk menempelkan partikel perak sebagai pemicu reaksi. Dengan rekayasa ini, material mampu menampung partikel perak hampir lima kali lebih banyak dibandingkan material biasa. Distribusinya juga lebih merata, sehingga reaksi berjalan lebih cepat dan stabil. Melalui pemodelan komputasi, tim peneliti mengonfirmasi bahwa nanopartikel perak terikat melalui dua mekanisme stabilisasi sekaligus, sehingga tidak mudah mengalami aglomerasi.

Katalis yang dihasilkan, diberi nama AgNP@UiO-66(D), mampu mengonversi CO₂ menjadi karbonat siklik dengan tingkat konversi mencapai 96,2% hanya dalam 24 jam pada kondisi reaksi ringan. Sebagai pembanding, material tanpa defek hanya mencapai 55,6% pada durasi uji yang sama.

Penelitian ini melibatkan mahasiswa dan dosen dari Departemen Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) yaitu Nabila Nur Agusti, Thariq Makkiyya, Indriana Kartini, dan Fajar Inggit Pambudi, serta Oka  Pradipta Arjasa peneliti dari Pusat Riset Material Maju BRIN. 

Riset ini selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Teknologi konversi CO₂ yang dikembangkan berpotensi mengurangi emisi karbon sekaligus memanfaatkan gas rumah kaca sebagai bahan baku bernilai tambah untuk industri kimia yang lebih berkelanjutan. Publikasi ini turut menambah daftar riset material maju yang dihasilkan oleh kolaborasi antar institusi di Indonesia. Temuan ini dapat menjadi inspirasi untuk mengeksplorasi topik-topik terkait kimia material, katalisis, dan teknologi ramah lingkungan. 

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

Dosen Fisika UGM Gelar PKM di SMA Negeri 3 Yogyakarta, 63 Siswa Belajar Astronomi Langsung Pakai Teleskop

[Dokumentasi Kegiatan-tim dosen Fisika UGM bersama Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Yogyakarta dan para siswa peserta di Ruang AVA]

Sebanyak 63 siswa kelas X dan XI SMA Negeri 3 Yogyakarta mendapat pengalaman langka pada Jumat (22/5/2026). Mereka berkesempatan belajar astronomi secara langsung bersama tim dosen dari Departemen Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), termasuk mempraktikkan penggunaan teleskop sungguhan.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Peningkatan Literasi Sains melalui Pengenalan Astronomi Dasar bagi Siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta” ini berlangsung di Ruang AVA sekolah, didampingi tiga guru pendamping. Kegiatan diisi oleh empat narasumber utama, yakni Prof. Pekik Nurwantoro, Dra. Eko Tri Sulistyani M.Sc. selaku ketua tim, Prof. M. Farchani Rosyid, dan Prof. Rinto Anugraha NQZ.

Waka Humas SMA Negeri 3 Yogyakarta, Ichwan Aryono, S.Pd., M.Pd.Si., mewakili Kepala Sekolah Fadiyah Suryani dalam menyampaikan sambutan. Ia mengungkapkan harapannya agar kolaborasi ini memberi dampak nyata bagi siswa.

“Semoga kehadiran Bapak dan Ibu dosen dari Fisika UGM ini berdampak baik ke depannya semakin banyak siswa SMA 3 yang tertarik masuk ke FMIPA UGM, khususnya Departemen Fisika.” Ichwan Aryono, Waka Humas SMA Negeri 3 Yogyakarta.

Bahas STEM hingga ‘Dongeng Bintang’

Prof. Pekik Nurwantoro membuka sesi dengan memaparkan pentingnya pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) sebagai fondasi berpikir kritis yang terintegrasi. Ia menekankan bahwa STEM relevan bukan hanya di bangku kuliah, tetapi juga sejak jenjang sekolah menengah.

Sesi berikutnya dibawakan Prof. M. Farchani Rosyid dengan judul paparan yang tidak biasa: “Dongeng Tentang Bintang”. Menggunakan analogi kehidupan manusia, ia menjelaskan siklus hidup bintang dari lahir, tumbuh, menua, hingga padam dengan bahasa yang mudah dipahami siswa SMA. Bintang, ungkapnya, adalah bola plasma bercahaya yang terikat oleh gravitasi mandirinya sendiri.

Prof. Rinto Anugraha NQZ kemudian memperagakan simulasi benda langit secara real-time menggunakan software Stellarium, aplikasi planetarium digital yang bisa diakses gratis. Ia menunjukkan secara langsung kapan Idul Adha akan terjadi berdasarkan simulasi posisi bulan, yang membuat siswa langsung terkagum-kagum.

 [Siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta antusias mencoba mengoperasikan teleskop secara bergantian, didampingi mahasiswa dan dosen Fisika UGM]

Puncak kegembiraan siswa terjadi saat sesi praktik. Tim PKM membawa langsung teleskop ke lokasi kegiatan, dan siswa secara bergantian mencoba mengarahkan lensanya ke pepohonan di sekitar sekolah. Melalui teleskop tersebut, detail daun, ranting, hingga tekstur kulit pohon tampak sangat jelas — sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Kegiatan PKM ini juga melibatkan tenaga kependidikan Mardi Wasono serta sejumlah mahasiswa Departemen Fisika UGM. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh semangat dari 63 peserta yang hadir.

Kegiatan PKM ini sejalan dengan tiga tujuan utama Sustainable Development Goals (SDGs) PBB, yakni SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui perluasan akses siswa terhadap pendidikan sains tingkat tinggi; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat pengenalan STEM dan teknologi simulasi astronomi yang membangun pola pikir inovatif sejak dini; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) yang terwujud dari kolaborasi nyata antara UGM dan SMA Negeri 3 Yogyakarta sebagai bentuk tanggung jawab sosial akademisi kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ini, tim PKM Fisika UGM berharap semakin banyak siswa yang tertarik pada dunia sains dan terinspirasi untuk melanjutkan studi di bidang eksakta. Astronomi, yang kerap terasa jauh dan abstrak, kini hadir lebih nyata di depan mata para siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta

Read More

Perkuat Minat dan Kesiapan Studi Sains di Perguruan Tinggi, 105 Siswa SMAN 9 Yogyakarta Rasakan Pengalaman Praktikum di Laboratorium Kimia UGM

Yogyakarta – Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan sekaligus pelaksanaan praktikum dari 105 siswa kelas XI SMAN 9 Yogyakarta pada Kamis (21/5). Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Kimia Dasar tersebut dilaksanakan dalam tiga sesi dan bertujuan memberikan pengalaman belajar langsung di lingkungan laboratorium perguruan tinggi serta memperkuat pemahaman konsep kimia melalui praktik eksperimental.

Rombongan siswa didampingi oleh guru pembimbing dan disambut oleh Ketua Program Studi Sarjana Kimia UGM, Dr. rer. nat. Adhitasari Suratman, S.Si., M.Si., Kepala Laboratorium Kimia Dasar Dr. Sri Sudiono, S.Si., M.Si., Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, M.Si., Ph.D., yang juga merupakan alumni SMAN 9 Yogyakarta, serta mahasiswa dan laboran pendamping.

Kepala Laboratorium Kimia Dasar, Dr. Sri Sudiono, menyampaikan apresiasinya atas terlaksananya kegiatan tersebut. Menurutnya, pengalaman praktikum di lingkungan perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para siswa untuk semakin mendalami ilmu kimia dan mempersiapkan diri melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Selama kegiatan, para siswa melaksanakan praktikum titrasi asam-basa dengan pendekatan yang lebih komprehensif melalui dua metode penentuan pH titik ekuivalen, yakni menggunakan konduktometer dan pH meter, serta titrasi dengan indikator fenolftalein. Untuk memastikan efektivitas pembelajaran, siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing terdiri atas tiga orang.

Guru pendamping sekaligus pengampu mata pelajaran kimia, Sarah, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman konsep kimia melalui praktik langsung, melatih keterampilan laboratorium, serta memperkenalkan standar praktikum dan suasana pembelajaran di perguruan tinggi. Selain memperoleh materi pengantar dan sosialisasi Program International Undergraduate Program (IUP) Kimia UGM, para peserta juga dibekali penerapan aspek keselamatan kerja laboratorium melalui penggunaan jas laboratorium, sarung tangan, kacamata pelindung, dan masker.

Antusiasme peserta terlihat selama pelaksanaan praktikum. Namira Sabrina dan Lintang Ayu, siswa kelas XI yang mengikuti kegiatan tersebut, mengungkapkan bahwa pengalaman belajar di Departemen Kimia UGM memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai materi kimia sekaligus kesempatan berharga untuk mengenal penggunaan peralatan laboratorium yang biasa digunakan mahasiswa. Mereka juga mengapresiasi pendampingan mahasiswa Kimia UGM yang dilakukan secara ramah, terstruktur, dan sesuai standar operasional yang berlaku.

Melalui kegiatan ini, Departemen Kimia FMIPA UGM tidak hanya memperkenalkan fasilitas dan budaya akademik yang unggul, tetapi juga menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan sains yang inklusif dan inspiratif. Inisiatif ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Poin 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penyediaan pengalaman pembelajaran yang bermutu dan berorientasi pada pengembangan kompetensi peserta didik. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDGs Poin 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui pengenalan teknologi dan fasilitas laboratorium modern kepada generasi muda, serta SDGs Poin 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah dalam memperkuat pendidikan sains di Indonesia.

Ke depan, Departemen Kimia FMIPA UGM akan terus memperluas kolaborasi dengan berbagai sekolah dan mitra pendidikan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih luas dan berkualitas, sekaligus menumbuhkan minat generasi muda terhadap ilmu pengetahuan dan inovasi.

Berita selengkapnya mengenai kegiatan ini dapat diakses melalui laman resmi Departemen Kimia FMIPA UGM pada tautan berikut: https://chemistry.ugm.ac.id/?p=6953. Selain itu, publikasi kegiatan juga dimuat dalam artikel di Kompasiana dengan judul “Siswa SMAN 9 Yogyakarta Antusias Praktikum di Departemen Kimia UGM”.

Penulis: Robby Noor Cahyono
Fotografer: Aditya Eko Saputra

Read More

Peran Aktuaris dalam Perkembangan Asuransi Digital (Insurtech): Kuliah Umum Bersama M. Zamachsyari, Ketua Dewan Penasihat IIS

Yogyakarta—Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada menggelar kuliah umum bertajuk “Peran Aktuaris dalam Perkembangan Asuransi Digital (Insurtech)” pada Rabu (29/04/2026). Bertempat di Auditorium Herman Yohanes lantai 7, acara yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB ini dihadiri mahasiswa S1 hingga S3 Departemen Matematika dengan mayoritas mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Aktuaria.

Kuliah umum ini merupakan bentuk kolaborasi untuk memberikan wawasan strategis mengenai perkembangan teknologi asuransi digital (insurtech), tantangan masa depan, serta peran aktuaris dalam inovasi dan pengelolaan risiko.

Sekretaris Program Studi Ilmu Aktuaria, Danang Teguh Qoyyimi, S.Si., M.Sc., Ph.D., dalam sambutannya mengungkapkan rencana pengembangan kurikulum, termasuk penambahan mata kuliah asuransi syariah pada tahun mendatang. Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan momentum ini untuk memperluas wawasan di luar teori kelas.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Islamic Insurance Society (IIS) periode 2023–2026, Edi Setiawan, S.E., M.E., FIIS., memperkenalkan profil IIS, berbagai kegiatan, hingga program kerja sama yang telah dijalin dengan berbagai perguruan tinggi. “Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia akademik dan industri,” ujar Edi.

Sesi utama disampaikan oleh M. Zamachsyari, Direktur Operasional PT Asuransi Jiwa Syariah Kitabisa sekaligus Ketua Dewan Penasihat IIS. Ia menekankan bahwa inti dari industri asuransi adalah manajemen risiko. “Bicara asuransi berarti bicara risiko,” tegasnya.

Dalam paparannya, Zamachsyari mengupas tuntas model bisnis asuransi konvensional versus syariah, pandangan fikih muamalah, hingga peran aktuaris dalam insurtech dan transformasi digital di level nasional. Ia menyoroti bahwa asuransi syariah (takaful) mengedepankan prinsip transparansi sejak awal. “Dalam asuransi syariah, mekanisme dan ketentuan terkait hak serta kewajiban peserta sudah jelas di muka,” jelas Zamachsyari.

Ia juga mendemonstrasikan platform SalingJaga dari Kitabisa sebagai contoh nyata implementasi insurtech. Platform tersebut berfungsi sebagai jaring pengaman sosial berbasis gotong royong dengan menggunakan akad tabarru’.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Para mahasiswa antusias mendiskusikan berbagai hal, termasuk mencari solusi keuangan darurat tanpa unsur bunga (riba) melalui prinsip-prinsip asuransi syariah.

Melalui kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai pemahaman teoretis, tetapi juga memiliki gambaran praktis mengenai industri asuransi syariah masa kini. Kegiatan ini menjadi langkah penting bagi calon aktuaris untuk bersiap menghadapi tantangan dan peluang di era transformasi digital.

Kegiatan kuliah umum ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 4 (Pendidikan Berkualitas), poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Melalui penguatan literasi aktuaria dan pemahaman insurtech, kegiatan ini berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan industri.

Kata kunci: Insurtech, Ilmu Aktuaria, Asuransi Syariah

Kontributor: Iin Nauli Rahmawati
Foto: Iin Nauli Rahmawati
Editor: Meitha Eka Nurhasanah

Read More

Berani Menyelesaikan yang Dimulai: Kisah Inspiratif Widya Amelia Putri, Lulusan Terbaik dan Termuda dengan IPK 4.00 Program Magister FMIPA UGM

Suasana penuh kebanggaan mewarnai acara Pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026 di Auditorium Herman Johannes, FMIPA UGM. Salah satu capaian membanggakan datang dari Widya Amelia Putri, S.Stat., M.C.S.(AI)., wisudawati program magister yang berhasil dinobatkan sebagai lulusan terbaik sekaligus termuda pada jenjang magister dengan raihan IPK sempurna 4,00.

Dalam pidatonya sebagai perwakilan wisudawan program  magister, Widya menyoroti keunikan rekan-rejak sejawatnya, khususnya di program studi Magister Kecerdasan Artifisial (AI). Ia mengungkapkan bahwa bidang teknologi mutakhir ini ternyata tidak hanya ditekuni oleh lulusan Ilmu Komputer, tetapi juga oleh para akademisi dengan latar belakang yang sangat beragam.

“Sungguh unik melihat rekan-rekan di prodi Kecerdasan Artifisial. Ada yang berasal dari Fisika, Biomedis, Geofisika, bahkan Keperawatan,” ujar Widya. Ia memberikan apresiasi yang tinggi kepada para wisudawan yang berani keluar dari zona nyaman untuk mendalami ilmu komputer demi menyelesaikan studi mereka.

Menurutnya, kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dengan disiplin ilmu baru adalah sebuah pencapaian besar yang patut dirayakan. “Kita semua pantas merayakan apa yang kita capai hari ini,” ungkapnya. 

Widya juga berbagi kisah perjalanan tesisnya. Ia secara terbuka mengakui adanya masa-masa sulit, di mana keraguan diri dan tekanan akademis menjadi tantangan sehari-hari.

“Selama mengerjakan tesis, saya sering meragukan kemampuan saya sendiri. Apakah saya benar-benar bisa menyelesaikannya? Kadang data tidak sesuai proposal, stres melanda, dan revisi rasanya tidak ada habisnya,” kenangnya.

Namun, ia menceritakan bahwa dukungan dari dosen pembimbing, keluarga, serta teman-teman menjadi alasan yang membuatnya terus bertahan.

Menutup pidatonya, Widya memberikan pesan yang sangat menyentuh mengenai makna keberanian. Ia mengungkapkan bahwa keberanian bukan berarti hilangnya rasa takut, melainkan ketangguhan untuk terus maju meskipun rasa takut itu ada.

“Dari perjalanan ini saya belajar, kadang yang kita butuhkan hanyalah keberanian meskipun ada keraguan di dalam diri. Berani untuk menyelesaikan apa yang telah kita mulai,” tutupnya disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Kisah inspiratif Widya Amelia Putri ini selaras dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 5 (Kesetaraan Gender). Keberhasilannya meraih prestasi di bidang Kecerdasan Artifisial (AI) membuktikan peran strategis perempuan dalam sains dan teknologi. Selain itu, latar belakang mahasiswanya yang lintas disiplin tersebut mencerminkan semangat SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan talenta digital yang adaptif terhadap perubahan zaman demi mendorong inovasi yang lebih inklusif di masa depan.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More

Berhasil Ciptakan Inovasi PRAKE (Phrase-Refined RAKE), Tim Peneliti DIKE FMIPA UGM Tunjukkan Solusi Baru Mengekstrak Frasa Penting dari Dokumen Panjang

Dokumen akreditasi program studi seringkali mencapai ratusan halaman. Di dalamnya tersimpan banyak sekali informasi penting, namun mengekstrak frasa-frasa kunci secara manual riskan terlewat dan kurang efisien. 

Tim peneliti dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menciptakan solusi. Tim ini mengembangkan PRAKE (Phrase-Refined RAKE), sebuah inovasi algoritma yang dirancang untuk mengekstrak frasa-frasa penting dari dokumen naratif panjang dan kompleks, seperti borang akreditasi.

Hasil pengujian pada dokumen akreditasi di lingkungan LAM INFOKOM menunjukkan bahwa PRAKE mencapai nilai F1-score 0,85 yang menandakan bahwa algoritma ini mampu menangkap informasi secara tepat dan lengkap.

Algoritma RAKE (Rapid Automatic Keyword Extraction) yang biasanya digunakan memiliki kelemahan seperti hanya memisahkan frasa berdasarkan kata-kata umum seperti “dan”, “atau”, atau “yang”. Akibatnya, dalam dokumen panjang yang kaya narasi, banyak frasa pendek kehilangan konteks.

Misalnya, kata “ps” akan berdiri sendiri. Padahal dalam dokumen akreditasi, ia adalah bagian dari frasa utuh seperti “rumusan VMTS ps”. PRAKE hadir untuk memperbaiki kelemahan itu.

Sementra itu, PRAKE melengkapi frasa yang terpotong, menggabungkan frasa yang semestinya utuh, serta menyusun ulang elemen semantik yang tersebar dalam kalimat kompleks. PRAKE juga memberi bobot lebih pada istilah-istilah penting dalam dunia akreditasi seperti “strategi”, “kebijakan”, dan “evaluasi”. Selain itu, PRAKE membersihkan teks dari karakter non-alfabetik dan menyaring kata kerja umum, tetapi tetap mempertahankan kata kerja substantif seperti “mengevaluasi”.

Dengan ketiga keunggulan ini, PRAKE mampu menghasilkan frasa yang lebih panjang (3–5 kata) dan jauh lebih informatif dibandingkan algoritma standar.

Inovasi ini dikerjakan oleh mahasiswa dan dosen dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM. Tim ini terdiri dari Helena Nurramdhani Irmanda, S.Pd., M.Kom., Prof. Dra. Sri Hartati, M.Sc., Ph.D. dan  Dr. Sri Mulyana, M.Kom.

Pengembangan PRAKE ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Inovasi ini membantu proses pengelolaan dan analisis dokumen akreditasi menjadi lebih efektif, akurat, dan efisien sehingga dapat mendukung peningkatan kualitas tata kelola pendidikan tinggi berbasis teknologi.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

cNose: Inovasi “Hidung Elektronik” Portabel untuk Deteksi Dini Sepsis pada Bayi, Hasil Kolaborasi FMIPA dan FKKMK UGM

Tim peneliti multidisiplin dari Universitas Gadjah Mada berhasil mengembangkan inovasi alat kesehatan bernama cNose, sebuah sistem “hidung elektronik” portabel yang mampu mendeteksi sepsis pada bayi baru lahir secara cepat, akurat, dan non-invasif. Pengembangan teknologi ini merupakan hasil kolaborasi antara peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM bersama mitra internasional dari Mbeya University of Science and Technology.

Sepsis neonatal merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi baru lahir di Indonesia maupun negara berkembang lainnya. Selama ini, diagnosis standar dilakukan melalui kultur darah yang membutuhkan waktu 24–72 jam, memerlukan fasilitas laboratorium lengkap, serta bersifat invasif karena harus mengambil sampel darah bayi. Kondisi tersebut sering menyebabkan keterlambatan penanganan yang dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga kematian.

Melalui cNose, tim peneliti ini menawarkan pendekatan diagnosis yang lebih praktis dan ramah pasien. Teknologi ini bekerja dengan mendeteksi senyawa volatil tertentu dari sampel feses bayi menggunakan sensor elektronik yang terintegrasi dengan analisis pola berbasis kecerdasan buatan. Dengan metode ini, proses deteksi dapat dilakukan tanpa prosedur yang menyakitkan bagi bayi dan berpotensi mempercepat pengambilan keputusan medis di ruang perawatan neonatal.

Penelitian dilakukan terhadap 347 bayi baru lahir yang dirawat di unit HCU dan NICU RSUP Dr. Sardjito. Sampel feses dikumpulkan setiap hari dari popok bayi oleh tenaga perawat, kemudian dianalisis menggunakan sistem cNose. Sebelum dilibatkan dalam penelitian, seluruh orang tua pasien memberikan persetujuan tertulis (informed consent). Untuk memastikan validitas hasil, diagnosis sepsis tetap dikonfirmasi menggunakan metode kultur darah sebagai standar acuan. Penelitian ini juga telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik FKKMK UGM.

Hasil penelitian tersebut berhasil dipublikasikan dalam dua jurnal internasional bereputasi Q1, yakni Clinica Chimica Acta pada tahun 2025 dan Microchimica Acta pada tahun 2026. Adapun pendanaan penelitian didukung oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Batch 2 Tahun 2022.

Pengembangan cNose turut mendukung transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi di Indonesia. Inovasi ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan deteksi dini penyakit pada bayi baru lahir, serta SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui penguatan inovasi teknologi kesehatan hasil kolaborasi lintas disiplin dan internasional.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

Kembangkan Inovasi Biosensor Mikroalga, Dosen Departemen Fisika FMIPA UGM Sukses Ikuti Riset Kolaborasi Lintas Negara

Dua dosen dari Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), UGM, yaitu Dr. Iman Santoso, S.Si., M.Sc. dan Prof. Dr.Eng. Edi Suharyadi, S.Si., M.Eng., sukses berpartisipasi dalam riset internasional pengembangan metode deteksi mikroalga menggunakan sensor berbasis kromium dan kecerdasan buatan.

Riset kolaborasi ini melibatkan peneliti dari Fakultas MIPA UGM, Fakultas Biologi UGM, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Bengkulu, Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Nagoya University (Jepang), dan National Chung Hsing University (Taiwan).

Tim penelitian ini menemukan bahwa lapisan tipis kromium setebal 75 nanometer dapat berfungsi sebagai sensor optik yang sensitif terhadap keberadaan mikroalga. Pada ketebalan tersebut, terjadi perubahan fase cahaya hingga 40,6 derajat ketika sampel air yang mengandung mikroalga diujikan. Kromium dipilih karena lebih ekonomis dibandingkan logam mulia seperti emas atau perak yang biasa digunakan dalam sensor optik sejenis.

Data pantulan cahaya dari sensor ini bersifat kompleks dan tidak linear. Untuk mengolahnya, tim menggunakan tiga model machine learning, yaitu Deep Neural Network (DNN) untuk memprediksi pola sinyal, Support Vector Machine (SVM) untuk mengelompokkan jenis mikroalga, dan Autoencoder dengan K-Means untuk menemukan pola tersembunyi dalam data. Dengan integrasi ketiga model tersebut, proses deteksi dapat berlangsung tanpa pewarnaan kimia (label-free) dan lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Pengembangan teknologi ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 tentang akses air bersih dan sanitasi layak, SDG 9 terkait inovasi industri dan teknologi, serta SDG 14 mengenai perlindungan ekosistem perairan. Melalui metode deteksi mikroalga yang lebih cepat dan efisien, riset ini diharapkan dapat membantu pemantauan kualitas air secara berkelanjutan dan mendukung pengelolaan lingkungan berbasis teknologi.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

Riset Kolaborasi Departemen Kimia FMIPA UGM dengan BRIN Hasilkan Terobosan Baru untuk Konversi CO₂ Jadi Bahan Baku Multifungsi

Publikasi terbaru hasil kolaborasi penelitian dari Departemen Kimia Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dimuat di Journal of  Materials Science (Mei 2026) menawarkan salah satu teknologi carbon capture and utilization (CCU). Tim ini mengembangkan katalis berbasis MOF UiO-66 yang dimodifikasi dengan nanopartikel perak yang mampu mengonversi CO₂ menjadi karbonat siklik, senyawa untuk bahan baku produksi polimer, baterai, dan produk farmasi. Hasil konversi mencapai 96,2% hanya dalam 24 jam, ini membuka peluang bagi proses industri kimia yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan.

Penelitian ini mendapat pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema Penelitian Tesis Magister tahun 2025.

Tim peneliti dengan sengaja menciptakan defek atau cacat struktural pada material penangkap CO₂. Defek yang sengaja dirancang ini justru menjadi tempat yang potensial untuk menempelkan partikel perak sebagai pemicu reaksi. Dengan rekayasa ini, material mampu menampung partikel perak hampir lima kali lebih banyak dibandingkan material biasa. Distribusinya juga lebih merata, sehingga reaksi berjalan lebih cepat dan stabil. Melalui pemodelan komputasi, tim peneliti mengonfirmasi bahwa nanopartikel perak terikat melalui dua mekanisme stabilisasi sekaligus, sehingga tidak mudah mengalami aglomerasi.

Katalis yang dihasilkan, diberi nama AgNP@UiO-66(D), mampu mengonversi CO₂ menjadi karbonat siklik dengan tingkat konversi mencapai 96,2% hanya dalam 24 jam pada kondisi reaksi ringan. Sebagai pembanding, material tanpa defek hanya mencapai 55,6% pada durasi uji yang sama.

Penelitian ini melibatkan mahasiswa dan dosen dari Departemen Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) yaitu Nabila Nur Agusti, Thariq Makkiyya, Indriana Kartini, dan Fajar Inggit Pambudi, serta Oka  Pradipta Arjasa peneliti dari Pusat Riset Material Maju BRIN. 

Riset ini selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Teknologi konversi CO₂ yang dikembangkan berpotensi mengurangi emisi karbon sekaligus memanfaatkan gas rumah kaca sebagai bahan baku bernilai tambah untuk industri kimia yang lebih berkelanjutan. Publikasi ini turut menambah daftar riset material maju yang dihasilkan oleh kolaborasi antar institusi di Indonesia. Temuan ini dapat menjadi inspirasi untuk mengeksplorasi topik-topik terkait kimia material, katalisis, dan teknologi ramah lingkungan. 

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah

Read More

Dosen Fisika UGM Gelar PKM di SMA Negeri 3 Yogyakarta, 63 Siswa Belajar Astronomi Langsung Pakai Teleskop

[Dokumentasi Kegiatan-tim dosen Fisika UGM bersama Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Yogyakarta dan para siswa peserta di Ruang AVA]

Sebanyak 63 siswa kelas X dan XI SMA Negeri 3 Yogyakarta mendapat pengalaman langka pada Jumat (22/5/2026). Mereka berkesempatan belajar astronomi secara langsung bersama tim dosen dari Departemen Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), termasuk mempraktikkan penggunaan teleskop sungguhan.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Peningkatan Literasi Sains melalui Pengenalan Astronomi Dasar bagi Siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta” ini berlangsung di Ruang AVA sekolah, didampingi tiga guru pendamping. Kegiatan diisi oleh empat narasumber utama, yakni Prof. Pekik Nurwantoro, Dra. Eko Tri Sulistyani M.Sc. selaku ketua tim, Prof. M. Farchani Rosyid, dan Prof. Rinto Anugraha NQZ.

Waka Humas SMA Negeri 3 Yogyakarta, Ichwan Aryono, S.Pd., M.Pd.Si., mewakili Kepala Sekolah Fadiyah Suryani dalam menyampaikan sambutan. Ia mengungkapkan harapannya agar kolaborasi ini memberi dampak nyata bagi siswa.

“Semoga kehadiran Bapak dan Ibu dosen dari Fisika UGM ini berdampak baik ke depannya semakin banyak siswa SMA 3 yang tertarik masuk ke FMIPA UGM, khususnya Departemen Fisika.” Ichwan Aryono, Waka Humas SMA Negeri 3 Yogyakarta.

Bahas STEM hingga ‘Dongeng Bintang’

Prof. Pekik Nurwantoro membuka sesi dengan memaparkan pentingnya pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) sebagai fondasi berpikir kritis yang terintegrasi. Ia menekankan bahwa STEM relevan bukan hanya di bangku kuliah, tetapi juga sejak jenjang sekolah menengah.

Sesi berikutnya dibawakan Prof. M. Farchani Rosyid dengan judul paparan yang tidak biasa: “Dongeng Tentang Bintang”. Menggunakan analogi kehidupan manusia, ia menjelaskan siklus hidup bintang dari lahir, tumbuh, menua, hingga padam dengan bahasa yang mudah dipahami siswa SMA. Bintang, ungkapnya, adalah bola plasma bercahaya yang terikat oleh gravitasi mandirinya sendiri.

Prof. Rinto Anugraha NQZ kemudian memperagakan simulasi benda langit secara real-time menggunakan software Stellarium, aplikasi planetarium digital yang bisa diakses gratis. Ia menunjukkan secara langsung kapan Idul Adha akan terjadi berdasarkan simulasi posisi bulan, yang membuat siswa langsung terkagum-kagum.

 [Siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta antusias mencoba mengoperasikan teleskop secara bergantian, didampingi mahasiswa dan dosen Fisika UGM]

Puncak kegembiraan siswa terjadi saat sesi praktik. Tim PKM membawa langsung teleskop ke lokasi kegiatan, dan siswa secara bergantian mencoba mengarahkan lensanya ke pepohonan di sekitar sekolah. Melalui teleskop tersebut, detail daun, ranting, hingga tekstur kulit pohon tampak sangat jelas — sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Kegiatan PKM ini juga melibatkan tenaga kependidikan Mardi Wasono serta sejumlah mahasiswa Departemen Fisika UGM. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh semangat dari 63 peserta yang hadir.

Kegiatan PKM ini sejalan dengan tiga tujuan utama Sustainable Development Goals (SDGs) PBB, yakni SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui perluasan akses siswa terhadap pendidikan sains tingkat tinggi; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat pengenalan STEM dan teknologi simulasi astronomi yang membangun pola pikir inovatif sejak dini; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) yang terwujud dari kolaborasi nyata antara UGM dan SMA Negeri 3 Yogyakarta sebagai bentuk tanggung jawab sosial akademisi kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ini, tim PKM Fisika UGM berharap semakin banyak siswa yang tertarik pada dunia sains dan terinspirasi untuk melanjutkan studi di bidang eksakta. Astronomi, yang kerap terasa jauh dan abstrak, kini hadir lebih nyata di depan mata para siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta

Read More

Perkuat Minat dan Kesiapan Studi Sains di Perguruan Tinggi, 105 Siswa SMAN 9 Yogyakarta Rasakan Pengalaman Praktikum di Laboratorium Kimia UGM

Yogyakarta – Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan sekaligus pelaksanaan praktikum dari 105 siswa kelas XI SMAN 9 Yogyakarta pada Kamis (21/5). Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Kimia Dasar tersebut dilaksanakan dalam tiga sesi dan bertujuan memberikan pengalaman belajar langsung di lingkungan laboratorium perguruan tinggi serta memperkuat pemahaman konsep kimia melalui praktik eksperimental.

Rombongan siswa didampingi oleh guru pembimbing dan disambut oleh Ketua Program Studi Sarjana Kimia UGM, Dr. rer. nat. Adhitasari Suratman, S.Si., M.Si., Kepala Laboratorium Kimia Dasar Dr. Sri Sudiono, S.Si., M.Si., Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, M.Si., Ph.D., yang juga merupakan alumni SMAN 9 Yogyakarta, serta mahasiswa dan laboran pendamping.

Kepala Laboratorium Kimia Dasar, Dr. Sri Sudiono, menyampaikan apresiasinya atas terlaksananya kegiatan tersebut. Menurutnya, pengalaman praktikum di lingkungan perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para siswa untuk semakin mendalami ilmu kimia dan mempersiapkan diri melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Selama kegiatan, para siswa melaksanakan praktikum titrasi asam-basa dengan pendekatan yang lebih komprehensif melalui dua metode penentuan pH titik ekuivalen, yakni menggunakan konduktometer dan pH meter, serta titrasi dengan indikator fenolftalein. Untuk memastikan efektivitas pembelajaran, siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing terdiri atas tiga orang.

Guru pendamping sekaligus pengampu mata pelajaran kimia, Sarah, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman konsep kimia melalui praktik langsung, melatih keterampilan laboratorium, serta memperkenalkan standar praktikum dan suasana pembelajaran di perguruan tinggi. Selain memperoleh materi pengantar dan sosialisasi Program International Undergraduate Program (IUP) Kimia UGM, para peserta juga dibekali penerapan aspek keselamatan kerja laboratorium melalui penggunaan jas laboratorium, sarung tangan, kacamata pelindung, dan masker.

Antusiasme peserta terlihat selama pelaksanaan praktikum. Namira Sabrina dan Lintang Ayu, siswa kelas XI yang mengikuti kegiatan tersebut, mengungkapkan bahwa pengalaman belajar di Departemen Kimia UGM memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai materi kimia sekaligus kesempatan berharga untuk mengenal penggunaan peralatan laboratorium yang biasa digunakan mahasiswa. Mereka juga mengapresiasi pendampingan mahasiswa Kimia UGM yang dilakukan secara ramah, terstruktur, dan sesuai standar operasional yang berlaku.

Melalui kegiatan ini, Departemen Kimia FMIPA UGM tidak hanya memperkenalkan fasilitas dan budaya akademik yang unggul, tetapi juga menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan sains yang inklusif dan inspiratif. Inisiatif ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Poin 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penyediaan pengalaman pembelajaran yang bermutu dan berorientasi pada pengembangan kompetensi peserta didik. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDGs Poin 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui pengenalan teknologi dan fasilitas laboratorium modern kepada generasi muda, serta SDGs Poin 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah dalam memperkuat pendidikan sains di Indonesia.

Ke depan, Departemen Kimia FMIPA UGM akan terus memperluas kolaborasi dengan berbagai sekolah dan mitra pendidikan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih luas dan berkualitas, sekaligus menumbuhkan minat generasi muda terhadap ilmu pengetahuan dan inovasi.

Berita selengkapnya mengenai kegiatan ini dapat diakses melalui laman resmi Departemen Kimia FMIPA UGM pada tautan berikut: https://chemistry.ugm.ac.id/?p=6953. Selain itu, publikasi kegiatan juga dimuat dalam artikel di Kompasiana dengan judul “Siswa SMAN 9 Yogyakarta Antusias Praktikum di Departemen Kimia UGM”.

Penulis: Robby Noor Cahyono
Fotografer: Aditya Eko Saputra

Read More

Peran Aktuaris dalam Perkembangan Asuransi Digital (Insurtech): Kuliah Umum Bersama M. Zamachsyari, Ketua Dewan Penasihat IIS

Yogyakarta—Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada menggelar kuliah umum bertajuk “Peran Aktuaris dalam Perkembangan Asuransi Digital (Insurtech)” pada Rabu (29/04/2026). Bertempat di Auditorium Herman Yohanes lantai 7, acara yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB ini dihadiri mahasiswa S1 hingga S3 Departemen Matematika dengan mayoritas mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Aktuaria.

Kuliah umum ini merupakan bentuk kolaborasi untuk memberikan wawasan strategis mengenai perkembangan teknologi asuransi digital (insurtech), tantangan masa depan, serta peran aktuaris dalam inovasi dan pengelolaan risiko.

Sekretaris Program Studi Ilmu Aktuaria, Danang Teguh Qoyyimi, S.Si., M.Sc., Ph.D., dalam sambutannya mengungkapkan rencana pengembangan kurikulum, termasuk penambahan mata kuliah asuransi syariah pada tahun mendatang. Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan momentum ini untuk memperluas wawasan di luar teori kelas.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Islamic Insurance Society (IIS) periode 2023–2026, Edi Setiawan, S.E., M.E., FIIS., memperkenalkan profil IIS, berbagai kegiatan, hingga program kerja sama yang telah dijalin dengan berbagai perguruan tinggi. “Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia akademik dan industri,” ujar Edi.

Sesi utama disampaikan oleh M. Zamachsyari, Direktur Operasional PT Asuransi Jiwa Syariah Kitabisa sekaligus Ketua Dewan Penasihat IIS. Ia menekankan bahwa inti dari industri asuransi adalah manajemen risiko. “Bicara asuransi berarti bicara risiko,” tegasnya.

Dalam paparannya, Zamachsyari mengupas tuntas model bisnis asuransi konvensional versus syariah, pandangan fikih muamalah, hingga peran aktuaris dalam insurtech dan transformasi digital di level nasional. Ia menyoroti bahwa asuransi syariah (takaful) mengedepankan prinsip transparansi sejak awal. “Dalam asuransi syariah, mekanisme dan ketentuan terkait hak serta kewajiban peserta sudah jelas di muka,” jelas Zamachsyari.

Ia juga mendemonstrasikan platform SalingJaga dari Kitabisa sebagai contoh nyata implementasi insurtech. Platform tersebut berfungsi sebagai jaring pengaman sosial berbasis gotong royong dengan menggunakan akad tabarru’.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Para mahasiswa antusias mendiskusikan berbagai hal, termasuk mencari solusi keuangan darurat tanpa unsur bunga (riba) melalui prinsip-prinsip asuransi syariah.

Melalui kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai pemahaman teoretis, tetapi juga memiliki gambaran praktis mengenai industri asuransi syariah masa kini. Kegiatan ini menjadi langkah penting bagi calon aktuaris untuk bersiap menghadapi tantangan dan peluang di era transformasi digital.

Kegiatan kuliah umum ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 4 (Pendidikan Berkualitas), poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Melalui penguatan literasi aktuaria dan pemahaman insurtech, kegiatan ini berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan industri.

Kata kunci: Insurtech, Ilmu Aktuaria, Asuransi Syariah

Kontributor: Iin Nauli Rahmawati
Foto: Iin Nauli Rahmawati
Editor: Meitha Eka Nurhasanah

Read More

Berani Menyelesaikan yang Dimulai: Kisah Inspiratif Widya Amelia Putri, Lulusan Terbaik dan Termuda dengan IPK 4.00 Program Magister FMIPA UGM

Suasana penuh kebanggaan mewarnai acara Pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026 di Auditorium Herman Johannes, FMIPA UGM. Salah satu capaian membanggakan datang dari Widya Amelia Putri, S.Stat., M.C.S.(AI)., wisudawati program magister yang berhasil dinobatkan sebagai lulusan terbaik sekaligus termuda pada jenjang magister dengan raihan IPK sempurna 4,00.

Dalam pidatonya sebagai perwakilan wisudawan program  magister, Widya menyoroti keunikan rekan-rejak sejawatnya, khususnya di program studi Magister Kecerdasan Artifisial (AI). Ia mengungkapkan bahwa bidang teknologi mutakhir ini ternyata tidak hanya ditekuni oleh lulusan Ilmu Komputer, tetapi juga oleh para akademisi dengan latar belakang yang sangat beragam.

“Sungguh unik melihat rekan-rekan di prodi Kecerdasan Artifisial. Ada yang berasal dari Fisika, Biomedis, Geofisika, bahkan Keperawatan,” ujar Widya. Ia memberikan apresiasi yang tinggi kepada para wisudawan yang berani keluar dari zona nyaman untuk mendalami ilmu komputer demi menyelesaikan studi mereka.

Menurutnya, kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dengan disiplin ilmu baru adalah sebuah pencapaian besar yang patut dirayakan. “Kita semua pantas merayakan apa yang kita capai hari ini,” ungkapnya. 

Widya juga berbagi kisah perjalanan tesisnya. Ia secara terbuka mengakui adanya masa-masa sulit, di mana keraguan diri dan tekanan akademis menjadi tantangan sehari-hari.

“Selama mengerjakan tesis, saya sering meragukan kemampuan saya sendiri. Apakah saya benar-benar bisa menyelesaikannya? Kadang data tidak sesuai proposal, stres melanda, dan revisi rasanya tidak ada habisnya,” kenangnya.

Namun, ia menceritakan bahwa dukungan dari dosen pembimbing, keluarga, serta teman-teman menjadi alasan yang membuatnya terus bertahan.

Menutup pidatonya, Widya memberikan pesan yang sangat menyentuh mengenai makna keberanian. Ia mengungkapkan bahwa keberanian bukan berarti hilangnya rasa takut, melainkan ketangguhan untuk terus maju meskipun rasa takut itu ada.

“Dari perjalanan ini saya belajar, kadang yang kita butuhkan hanyalah keberanian meskipun ada keraguan di dalam diri. Berani untuk menyelesaikan apa yang telah kita mulai,” tutupnya disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Kisah inspiratif Widya Amelia Putri ini selaras dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 5 (Kesetaraan Gender). Keberhasilannya meraih prestasi di bidang Kecerdasan Artifisial (AI) membuktikan peran strategis perempuan dalam sains dan teknologi. Selain itu, latar belakang mahasiswanya yang lintas disiplin tersebut mencerminkan semangat SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan talenta digital yang adaptif terhadap perubahan zaman demi mendorong inovasi yang lebih inklusif di masa depan.

Penulis: Inna Mutifah
Editor: Inna Mutifah
Fotografer: Afiandina Sukma

Read More
Translate